Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Mengungkap tragedi Idul Fitri di Tolikara Papua

Mengungkap tragedi Idul Fitri di Tolikara Papua

KoPi| Kekerasan kelompok agama terhadap agama lain di Tolikara menandakan Indonesia masih berhadapan dengan masalah kerentanan konflik komunal yang bersumber pada masih tajamnya nalar fundamentalisme dan radikalisme. Demikian disampaikan pakar sosiologi dan pengelolaan konflik Novri Susan melalui telpon.

"Apa yang terjadi hari ini adalah realitas fundamendalisme dan radikalisme keagamaan (Kristen di Tolikara, red).Tentu saja ini menjadi masalah seluruh masyarakat Indonesia, seluruh ummat beragama baik Kristen, Islam dan lain-lainnya".

Penulis buku Negara Gagal Mengelola Konflik ini melihat kejadian di Tolikara bukan tindakan sporadis yang disebabkan oleh ketidaksengajaan. Namun buah dari kegiatan teroganisir. Menurutnya, selain bukti surat edaran larang dari GIDI (Gereja Injili di Indonesia), kelompok pelaku kekerasan tersebut melakukan aksi pada waktu yang diperhitungkan.

Selanjutnya, Novri melihat surat yang ditembuskan ke polres Tolikara tersebut tidak mendapat respon khusus.

"Saya agak merasa janggal, surat tersebut ditembuskan kepada polres namun kenapa tidak ada upaya pencegahan. Jika ada upaya pencegahan, dan masih terjadi aksi pembakaran serta pembubaran maka bisa dibayangkan betapa lemahnya kualitas keamanan sipil kita".

Selain itu sosiolog lulusan Universitas Perdamaian PBB ini mengingatkan bahwa aksi kekerasan di Tolikara bisa saja menjadi bagian dari akumulasi prasangka dan dendam atas masalah minoritas Kristen di beberapa wilayah Indonesia bagian barat.

"Maka sangat penting digarisbawahi bahwa intoleransi, fundamentalisme dan radikalisme dari kelompok agama manampun merupakan tantangan bersama. Saya menunggu lembaga gereja mengutuk aksi tersebut," pungkas Novri mengakhiri diskusi telpon. | AG

back to top