Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Mengungkap tragedi Idul Fitri di Tolikara Papua

Mengungkap tragedi Idul Fitri di Tolikara Papua

KoPi| Kekerasan kelompok agama terhadap agama lain di Tolikara menandakan Indonesia masih berhadapan dengan masalah kerentanan konflik komunal yang bersumber pada masih tajamnya nalar fundamentalisme dan radikalisme. Demikian disampaikan pakar sosiologi dan pengelolaan konflik Novri Susan melalui telpon.

"Apa yang terjadi hari ini adalah realitas fundamendalisme dan radikalisme keagamaan (Kristen di Tolikara, red).Tentu saja ini menjadi masalah seluruh masyarakat Indonesia, seluruh ummat beragama baik Kristen, Islam dan lain-lainnya".

Penulis buku Negara Gagal Mengelola Konflik ini melihat kejadian di Tolikara bukan tindakan sporadis yang disebabkan oleh ketidaksengajaan. Namun buah dari kegiatan teroganisir. Menurutnya, selain bukti surat edaran larang dari GIDI (Gereja Injili di Indonesia), kelompok pelaku kekerasan tersebut melakukan aksi pada waktu yang diperhitungkan.

Selanjutnya, Novri melihat surat yang ditembuskan ke polres Tolikara tersebut tidak mendapat respon khusus.

"Saya agak merasa janggal, surat tersebut ditembuskan kepada polres namun kenapa tidak ada upaya pencegahan. Jika ada upaya pencegahan, dan masih terjadi aksi pembakaran serta pembubaran maka bisa dibayangkan betapa lemahnya kualitas keamanan sipil kita".

Selain itu sosiolog lulusan Universitas Perdamaian PBB ini mengingatkan bahwa aksi kekerasan di Tolikara bisa saja menjadi bagian dari akumulasi prasangka dan dendam atas masalah minoritas Kristen di beberapa wilayah Indonesia bagian barat.

"Maka sangat penting digarisbawahi bahwa intoleransi, fundamentalisme dan radikalisme dari kelompok agama manampun merupakan tantangan bersama. Saya menunggu lembaga gereja mengutuk aksi tersebut," pungkas Novri mengakhiri diskusi telpon. | AG

back to top