Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Menguak suksesnya Aksi Damai 212, perspektif urban design

Menguak suksesnya Aksi Damai 212, perspektif urban design

Jogja-Kopi| “Kebanyakan masyarakat melupakan urusan-urusan kota, seperti alasan mengapa memilih Jakarta, Monas-Bundaran HI sebagai tempat aksi merupakan hal yang tidak pernah dibahas,” Papar Wiryono Raharjo,M.Arch.,Ph.D dalam seminar nasional bertemakan “Aksi Damai 212, Tinjauan Sosiologi, Psikologi, dan Urban Design”di UGM, Sabtu (14/1).

Dalam kesuksesan aksi damai 212, Wiryono Raharjo menggunakan sebuah pendekatan ilmiah untuk menguaknya. Menurutnya keberhasilan dari aksi damai 212 juga dipengaruhi oleh urban design, sebuah bidang kolaboratif dari sosiologi, psikologi dan arsitektur. Bidang ini membicarakan ruang diluar bangunan, berkaitan dengan memahami ruang publik dan perilaku manusia.

“Jadi ketika bicara ruang diluar bangunan, kita harus memahami perilaku manusia ditempat itu, memahami perilaku manusia memang bagian dari psikologi, tapi kami arsitek harus mempelajarinya juga, tujuannya adalah menciptakan ruang-ruang yang nyaman,” Jelasnya.

Wiryono menjelaskan ada 3 konsep dalam urban design yang membantu aksi damai 212. Seperti Konsep urban semiotic, imageability, dan proximity, 3 konsep ini berubah menjadi media untuk menyampaikan pesan aksi. Urban semiotic sendiri merupakan istilah yang menjlskan tanda-tanda bangunan berbentuk build form atau bentuk bangun. Ketepatan tempat seperti Jakarta dan bangunan Monas juga mempengaruhi aksi damai 212.

“Bagaimana build form ini dapat dimengerti juga mempengaruhi pesan yang disampaikan, pesan itu bisa disampaikan dari tempat, tapi kalo kita salah tempat, pesan itu juga tidak akan sampai,” paparnya.

Selanjutnya Wiryono juga menjelaskan imageability yang mempengaruhi aksi damai 212, menurutnya imageability tidak bisa dilihat dari satu obyek saja, beberapa obyek kolektif juga mempengaruhi didalamnya. Sepertikota Jakarta yang mewakili sikap dari warga kotanya.

“Monas adalah salah satunya (imageability) dalam menunjukkan kekuatan dan identitasnya,” jelasnya.

Di sisi lain dalam Aksi 212, sendiri, Ahok dan Jokowi merupakan objek akksi. Menurut Wiryono, jika pesan semakin dekat dengan objek, maka semakin kuat pesan tersebut tersampaikan, sehingga proximity atau jarak mempengaruhi pesan.

Selain itu, secara sadar maupun tidak sadar, Bundaran HI dan Monas menciptakan sebuah efek yang bernama Amplifikasi. Amplifikasi disini, menurut kamus besar bahasa indonesia, adalah sarana dalam bahasa yang digunakan untuk memperluas, memperbesar, atau memberi tekanan pada suatu objek.

“Tanpa efek amplifikasi ini, pesan akan sulit tersampaikan,” jelasnya.

Dalam aksi 212,selain aksi ini sukses digelar dengan massa yang besar, ada beberapa hikmah yang bisa diambil dalam fenomena aksi ini, setidaknya dalam pandangan urban design.

“Kalo kita bisa mengendalikan massa sebesar itu pada aksi 212, mestinya kota-kota di Indonesia bisa menjadi kota-kota yang masuk ke level liveable, atau dapat dihuni,” ungkap pria kelulusan Melbourne University ini.|Syidiq Syaiful Ardli

back to top