Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Menghindari sekat akibat internet

Menghindari sekat akibat internet

SEJAK diperkenalkan oleh Universitas Indonesia pada 1988, dari waktu ke waktu internet berkembang di negeri ini (jaringankomputer.org). Sekarang, kekuatan jaringan teknologi ini sudah cukup  mapan. Masyarakat dapat mengakses informasi apapun melalui internet secara bebas.

Internet tak hanya menjangkau kota-kota besar. Pelosok daerah atau desa terus dirambah teknologi ini. Terlebih, pemerintah dan swasta cukup gencar membuat beragam program memasyarakatkan internet. Misalnya, dua program pemerintah yang diluncurkan sejak akhir tahun 2010. Yaitu, Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) dan Mobile PLIK (M-PLIK). Sementara Maret 2014 lalu, Telkomsel meluncurkan gerakan "Indonesia Genggam Internet" dengan semangat memberantas buta internet.

 Dalam perkembangannya, internet sudah menjadi media massa (penyaluran berita dan informasi), sarana bisnis, media sosial, belajar, dan lain sebagainya. Fungsinya sudah benar-benar dimaksimalkan. Nyaris sudah tidak ada beda lagi dengan fungsi internet di negara-negara maju dan berkembang lainnya.

UU ITE No. 11 tahun 2008 adalah salah satu bukti bahwa internet sudah menyatu dengan masyarakat. Sehingga pemerintah merasa perlu menerbitkan payung hukum yang memuat aturan berkomunikasi dan menyerap informasi dari internet. UU ini juga diluncurkan terkait maraknya cyber crime.

Meski demikian, pemerintah melalui badan-badan regulasi tidak boleh merasa cukup hanya dengan UU tersebut. Harus terus dilakukan pengawasan ke bawah untuk menindaklanjutinya. Kementerian terkait mesti melakukan koordinasi dengan polisi sebagai penegak hukum.

Semua pihak yang bersinggungan dengan persoalan ini harus memiliki kompetensi memadai. Jangan sampai penjahat lebih pandai dari penegak hukum. Di sini pentingnya menggandeng akademisi dari berbagai kampus. Penegakan hukum mesti jelas dan tegas. Jangan sampai pelanggar diberi kesempatan lolos dari hukuman. Masyarakat mesti ambil bagian selaku pengontrol jalannya proses penegakkan regulasi dan hukum tersebut.

Bias Komunikasi

Fenomena internet sukses membuat perubahan di masyarakat. Khususnya, di bidang interaksi sosial. Pada level keluarga, teman sejawat, di kantor, di kampus, dan di tempat lainnya. Media massa turut mengalami perubahan. Media komunikasi seperti telepon dan surat menyurat mengalami pergeseran mekanisme.

Pemerintah, swasta, individu maupun komunitas berlomba-lomba mengoptimalkan teknologi ini. Misalnya, terkait pembuatan website sebagai penguatan media promosi dan ekspresi. Aplikasi internet yang makin beragam semakin mempermudah langkah berkomunikasi ataupun penyebaran informasi.

Semua sektor kehidupan makin tak bisa dilepaskan dari internet. Sebab, pada prinsipnya,  semua lini membutuhkan media komunikasi dan informasi yang cepat, praktis, dan murah. Meski demikian, sebagai teknologi yang bebas nilai, internet juga potensial menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi menguntungkan. Di sisi lain dapat jadi bumerang.

Meminjam istilah Harold Adam Innis (1991), teknologi membuka peluang terjadinya bias komunikasi. Bias yang dimaksud adalah adanya pesan yang tak tersampaikan secara sempurna. Penyebabnya beragam. Mulai informasi yang tidak komplit karena keterbatasan ruang dan waktu penyampaian. Hingga problem kurangnya intensifitas interaksi dan konfirmasi langsung antara pengirim dan penerima pesan.

Persoalan itu bisa dipecahkan dengan bersepakat untuk saling terbuka. Kedua belah pihak mesti satu pemahaman. Bahwa, bias adalah suatu keniscayaan. Jadi, saat ada salah paham karena bias komunikasi, kedua belah pihak mesti saling mengerti dan segera mencari konfirmasi yang lebih lengkap. Toh, internet memungkinkan adanya interaksi dua arah antara pengirim dan penerima pesan.

Dengan demikian, gesekan antara kedua belah pihak dapat diminimalkan. Komunikasi intensif selain melalui internet juga harus dilakukan untuk menghindari kemungkinan ini. Misalnya, komunikasi langsung dengan tatap muka pada kesempatan lain, guna membangun kedekatan antar individu.

Aturan Kecil

Jamak diketahui kalau internet telah sukses melahirkan "penyakit". Istilahnya, "penyakit" kecanduan internet. Kecanduan jenis ini meraangsang seseorang berlaku individualistik. Muaranya, terjadi sekat antara satu orang dengan orang lainnya. Sekatnya adalah internet yang bisa diakses melalui gadget masing-masing.

Problem ini mesti dicari pemecahannya. Salah satu yang mungkin dilakukan adalah bersepakat untuk sadar akan pentingnya menjauhi sikap-sikap semacam itu. Dunia maya seharusnya tidak lebih diprioritaskan dari pada dunia nyata. Harus dipahami bahwa dunia nyata adalah tempat interaksi sosial yang menentukan kehidupan sehari-hari. Sedangkan dunia maya adalah pendukung jagat faktual.

Mungkin diperlukan aturan kecil yang disepakati bersama tentang kapan boleh tidaknya menggunakan internet. Ini dapat menjadi benteng awal dari sikap individualistik dan kecanduan internet. Misalnya, di keluarga sudah ditanamkan perasaan saling menghargai dengan mengutamakan mengobrol secara langsung antar sesama anggota keluarga dari pada chatting lewat internet. Kalau kebiasaan ringkas di keluarga ini dibawa ke kehidupan atau lingkungan lain yang lebih luas, dampaknya pasti bagus. Dari keluarga, di rumah, tatanan sosial dibangun untuk pertama kali dan disebarkan.

Bayangkan, jika aturan kecil ini juga secara alamiah teraplikasi di lingkungan antara kawan sejawat, rekan kerja, teman kuliah, dan lain sebagainya. Budaya saling sapa antara sesama yang dulu begitu kental dan hangat akan menguat kembali. Walaupun sebenarnya masing-masing berkesempatan chatting dengan orang lain di dunia maya.

Saat berjumpa, berinteraksi, kedekatan psikologis melalui kontak mata, saling tersenyum, saling mendengar suara, akan menciptakan keakraban. Keakraban itu akan jauh lebih kuat dibandingkan dengan kedekatan yang dibangun melalui layar gadget atau dunia maya. Ada hal yang lebih dari sekadar komunikasi tatkala terjadi interaksi face to face. Peluang bias komunikasi kala berinteraksi via internet, dapat terkonfirmasi dengan sempurna saat saling tatap muka. --//

back to top