Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

Menggeledah Permainan Digital

www.dodho.com www.dodho.com

Sub Judul

Pengantar: Berpihak pada Para Pengembara

Tubuh manusia hanyalah mesin hasrat. Jika tubuh sebagai mesin, maka arus utama penggeraknya adalah arus ekonomi dan arus libido. Suatu kombinasi analisis dari marxisme dan psikoanalis-Freud. Tapi, Deleuze dan Guattari (dalam bukunya Anti-Oedipus, 1989. London: continuum) menolak jika hasrat itu bagian dari struktur psikis sebagaimana analisis psikonalisis.

Mereka juga menolak tentang ide marxisme tentang perjuangan politik yang didasarkan pada kesadaran kaum tertindas akan kondisi alienasinya pada sistem kapitalisme. Jika ingin disederhanakan,_meski kesederhanaan ini mudah jatuh ke reduksionisme_, cara berpikir kedua tokoh posmodern itu menganggap bahwa telah terjadi oedipalisasi dalam kehidupan masyarakat saat ini. Oedipalisasi baginya adalah figur imperealisme yang bertujuan mengkolonialisasi setiap orang di setiap teritori dan di setiap waktu.

Maka, ada persoalan penting di sini yang perlu menjadi bahan pertimbangan ilmu-ilmu sosial kontemporer tentang kondisi masyarakat yang ‘sehat’. Yakni, dalam suatu relasi sosial akan selalu terjadi oedipalisasi dari kelompok tertentu terhadap individu. Jika individu tidak diberi tempat dalam kehidupan sosial, lantas untuk apa suatu fakultas ilmu sosial, fakultas ilmu budaya, dan fakultas humaniora lainnya itu ada di tengah masyarakat ?

Oedipalisasi itu bisa berwujud internalisasi, sosialisasi, kategorisasi, atau pendisiplinan melalui teritorialisasi kekuasaan. Akibatnya, akan banyak individu yang depresi, paranoid, stress, dan skizonia karena tekanan dari para figur oedipal tersebut. Individu akan mengalami penderitaan internal dalam arti psikis dan ekternal dalam arti kehilangan nalar sehatnya akan realitas.

Maka, mereka menyerukan bahwa setiap orang harus menjadi pengembara terus-menerus (nomadik), dia tidak boleh dan menerima oedipalisasi dari kelompok kekuasaan. Meskipun, kesuksesannya mengembara bukan lantas diterima saja sebagai perjuangan herois yang bersifat egoistik. Melalui kondisi pengembaraan itulah senyatanya kedirian yang seutuhnya ditemukan.

Menurut mereka, teruslah “berlari” dari proses teritorialisasi kekuasaan dan mesin oedipalisasi. Biarkanlah diri kita menjadi diri yang mengalami kegagapan (stammering), kehalusan (delicacy), dan kelemahan (frailty). Namun, arus globalisasi yang menghasilkan berbagai produk teknologi massal yang merambah masuk ke berbagai dunia manapun berefek pada bekerjanya mesin hasrat pada diri seseorang.

Media massa mengkaburkan dunia nyata dan dunia khayalan melalui produk budaya popularnya, seperti iklan, film, sinetron, musik, fashion, dan lainnya. Para konsumen yang telah terlanjur menikmati lezatnya produksi massa itu juga secara tidak sadar turut menghegemoni orang-orang didekatnya agar terlibat di dalam membeli produk itu secara sadar (memilih barang yang baik dan buruk untuk dikonsumsi). Jadilah, praktik konsumsi sebagai bagian dari kesempurnaan dirinya: consumption to be consummation.

Tulisan kali ini mengangkat praktik konsumsi dan konsummasi dari produk teknologi pada aspek beragam permainan sebagai bagian dari mesin hasrat, mesin kesenangan diri agar seolah-olah melengkapi kehidupan sehari-harinya. Jika zaman dulu, permainan itu diidentifikasi pada segala produk permainan tradisional, maka di era teknologi sekarang justru permainan ada di media sosial. Sehingga, pemainnya sudah tidak lagi jelas identitasnya.

Mereka hanya bersenang-senang, mengikuti mesin oedipalisasi global agar tampak sempurna di hadapan teman-temannya. Terima kasih kepada sobat Audivax yang telah menyuguhkan tulisan tentang permainan ini berdasarkan perspektif psikoanalisis. Semoga anda yang membacanya tidak sedang “dipermainkan” oleh para mesin oedipalisasi bahasa. Selamat menikmati sobat antitesis. 

back to top