Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Mengenal calon Ketua Umum PBNU 2015-2020

Mengenal calon Ketua Umum PBNU 2015-2020

Jombang-KoPi| Muktamar akbar NU di Jombang pada tanggal 1-5 Agustus akan mejadi ajang persaingan yang sengit memperbutkan kepemimpinan NU yang baru. Tiga kandidat terkuat Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, Ketua Umum PBNU periode 1999-2004 Salahuddin Wahid, dan Wakil Ketua Umum PBNU As'ad Said Ali. 

Dalam rekam jejaknya NU mempunyai kontribusi yang besar terhadap perjuangan bangsa Indonesia. Setiap fase perjuangan sejak zaman kemerdekaan hingga reformasi saat ini pemuka NU banyak mengisi jabatan strategis kepemimpinan di Indonesia.

Warna keislaman NU juga memberi nuansa baru terhadap iklim pluralitas keagamaan di Indonesia. Sebagai agama mayoritas, NU bersama rival abadinya Muhammadiyah merumuskan bersama perdamaian antar umat beragama.

NU diharapkan menjadi panglima terdepan mengawal isu keagamaan yang sensitif dengan intoleransi, seperti isu panas menangkal sektetarian JIL, Syiah, Wahabi , LDII , Ahmadiyah, dan Persis.

Dengan semangat keislaman dan kebangsaan mutlak NU memiliki peran mengarahkan dan memberi harapan kehidupan masyarakat Islam yang sejahtera. Kepemimpinan yang baru digadang-gadang seorang pemimpin yang revolusioner mampu memecahkan persolan kaum Nahdliyin sekaligus persolaan keislaman dan kebangsaan.

Perjalanan menuju satu abad NU, dapatkah NU berkontrbusi memberikan kesejahteraan bagi umatnya. Seperti salah satu pesan pengasuh Pondok pesantrean Assalimiyah, Mbah Salimi Jogjakarta, "Kesejahteraan umat Islam terletak pada empat pilar: ilmu para ulama, keadilan para pemimpin, kedermawanan orang kaya, dan doa fakir miskin".

Profil ketiga calon kandidat terkuat Ketua Umum PBNU 2015-2020.

1. Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A

Said Aqil Siroj (lahir di Cirebon, Jawa Barat, Indonesia, 3 Juli 1953; umur 62 tahun) adalah Ketua Umum (Tanfidziyah) Pengurus Besar Nahdlatul 'Ulama periode 2010–2015. Kini dia mengajukan diri sebagai Ketum kembali. Aqil Siroj telah lama malang melintang di dunia santri. Dia pernah menimba ilmu di Madrasah Tarbiyatul Mubtadi’ien Kempek Cirebon, Hidayatul Mubtadi’en Pesantren Lirboyo Kediri (1965-1970) dan Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta (1972-1975).

Jenjang pendidikan akademi ditempuh di universitas kenamaan. S1 di Universitas King Abdul Aziz, Jurusan Ushuluddin dan Dakwah, lulus 1982. S2 di Universitas Umm al-Qura, Jurusan Perbandingan Agama, lulus 1987. S3 di University of Umm al-Qura, Jurusan Aqidah / Filsafat Islam, lulus 1994.

Aqil remaja terlibat aktif dalam organisasi ke-NU-an. Dia sempat menjabat Sekertaris PMII Rayon Krapyak Yogyakarta (1972-1974) hingga akhirnya, berbekal pengalaman dan bejubel prestasi mengantarkannya menjadi Ketua Umum PBNU 2010-2015.

Ulama NU ini memiliki ghirah yang tinggi memajukan NU dan keislaman di Indonesia. Aqil mengakui kultur pluralitas dan arus globalisasi memudahkan masuknya paham Islam baru ke Indonesia.

Sebelumnya MUI telah mengeluarkan fatwa keharaman paham Sepilis ( sekuler, pulralisme dan Liberalisme). Namun fatwa tersebut tidak optimal berjalan faktanya Kyai JIL Ulil Abshar Abdalla semakin mantap dengan paham JILnya. Bahkan Ulil pernah menjadi mantan calon Ketum PBNU periode 2010-2015. Namun langkahnya gagal karena hanya mendapat 22 suara kalah jauh dibandingkan Aqil Siroj yang meraup 178 suara.

Selain mulai digeroti JIL diduga Syiah juga turut mendekati NU. Gencarnya isu Syiah di Indonesia membuat para ulama ikut campur memberikan responnya. Termasuk Aqil dalam beberapa kesempatan menyampaikan pandangan tentang isu panas tersebut.

Namun sayang beberapa tulisan bahkan penyampaian lisan dari Aqil sempat menimbulkan kontroversi di kalangan umat. Akibatnya tersebar isu  bahwa Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siraj adalah orang Syi'ah. Bergegas para ulama menggelar Forum Tabayyun dan Debat Terbuka digelar antara Forum Kiai Muda (FKM) Jawa Timur dan Prof. Dr. KH Said Aqil Siraj, MA di Pondok Pesantren Bumi Shalawat, Tulangan, Sidoarjo, pada tahun 2009 silam.

KH. Said Aqil Siraj disidang dalam sebuah forum yang disaksikan oleh para habib dan 300-an Kyai. Forum tersebut seolah menjadi forum penumpahan uneg-uneg terhadap pemikiran Kyai Aqil yang selama ini dinilai banyak menyimpang dari arus besar pemikirian NU.

2. Salahuddin Wahid

Dr. (H.C.) Ir. H. Salahuddin Wahid atau biasa dipanggil Gus Solah lahir di Jombang, 11 September 1942; umur 72 tahun adalah seorang aktivis, ulama, politisi, dan tokoh Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Selama karir politiknya Gus Solah pernah menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada masa awal reformasi 1998.

Gus Solah juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Komnas HAM. Bersama kandidat presiden Wiranto. Bahkan ia mencalonkan diri sebagai kandidat wakil presiden pada pemilu presiden 2004. Langkahnya terhenti pada babak pertama, karena menempati urutan ketiga.

Sepak terjang Gus Solah sudah tidak diragukan lagi. Pemikirannya masih menjadi terobosan dan pertimbangan para ulama NU. Bahkan seperti dikutip oleh Republika Online alasan dirinya maju sebagai kandidat Ketum PBNU karena didesak oleh para kyai dan ulama NU.

Dikutip oleh NUGarisLurus, hal tersebut pernah disampaikan langsung oleh KH. Maimun Zubair kepada Gus Solah. “Kembalikan NU ke Timur, agar NU tak hilang,” kata Mbah Maimun. Apa maksud isyarat kiai kharismatik ini? Ternyata yang dimaksud Mbah Maimun agar NU dikembalikan ke Pesantren Tebuireng. Artinya, Mbah Maimun mendukung Gus Solah sebagai Ketua Umum PBNU.

Ada beberapa alasan Mbah Maimun mendukung Gus Solah, antara lain, PBNU kini kurang bisa meneruskan ide Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Selain itu, kata Mbah Maimun, PBNU kini sulit diarahkan karena ada orang seperti Ulil Abshar Abdalla.

Secara tidak langsung mengabarkan kondisi NU saat ini tengah dihantam oleh persoalan internal. Hal inilah tantangan NU untuk tetap menjadikan NU sejalan dengan gagasan pendirinya Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Kemantapan NU berjalan di manhaj akan semakin kokoh bila dipimpin oleh sosok yang tepat.

3. As'ad Said Ali

KH. DR. As’ad Said Ali Lahir di Kudus 19 Desember 1949, alumni Pondok pesantren Al-Munawwir Krapyak Jogjakarta sambil berkuliah di Hubungan Internasional, FISIPOL UGM, dan atas perintah tokoh NU Subnah ZE masuk BAKIN.

As'ad Said Ali lebih dikenal sebagai aktivis BIN (Badan Intelejen Negara). Dia sempat bertugas lama di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Yordan, Syuriah, Lebanon, Eropa dan Amerika serikat.

Selanjutnya 9 tahun menjadi WAKABIN sejak era Presiden Abdurahman Wahid ( Gus Dur ), Presiden Megawati Soekarno Putri, dan Presiden SBY.

Jejak karir As'ad Said Ali Aktif di BANOM NU seperti IPNU, PMII dan GP Ansor. Asad diminta oleh para Rois Am, serta ulama sepuh NU mendampingi KH. Said Agil Siraj sebagai Wakil Ketua Umum PBNU 2010 hingga 2015.

Selain sibuk menjadi aktivis, As'ad Said Ali juga menelurkan banyak karya tulisan. Buah pikirannya seperti Negara Pancasila 2011, Pergolakan di Jantung Tradisi 2009, Ideologi pasca reformasi 2010 Di terbitkan oleh LP3ES Jakarta.

Sebagai cendekiawan NU, As'ad memikili komitmen meneguhkan masa depan NU. Seperti isu penyusupan agen JIL dan Syiah pun, As'ad turut bersuara.

Seperti dikutip oleh Tempo, Wakil Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama As'ad Said Ali menegaskan organisasi keagamaan NU tidak mempraktekkan paham liberal. As'ad menilai, jika ada orang yang mengaku NU tapi paham yang dianutnya liberal, itu adalah sempalan NU.

“Silakan keluar dari NU,” kata As'ad seusai seminar nasional “Islam dalam Benturan Peradaban: Proyeksi Pecahnya NKRI” yang digelar di Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang, Rabu, 25 Maret 2015, dikutip dari Tempo.|Dari berbagai sumber|Labibah, Winda Efanur FS, UR Sari|

back to top