Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Mengejutkan, kisah fantastis petugas perpustakaan jagoan dari Timbuktu

Mengejutkan, kisah fantastis petugas perpustakaan jagoan dari Timbuktu
KoPi| Menjadi pahlawan tidak harus punya kekuatan super seperti Superman, atau memiliki banyak uang, seperti Iron Man dan Batman. Kalau tidak percaya, ini contohnya. Seorang petugas perpustakaan di Afrika diam-diam bergerilya melawan kekejaman militan bersenjata.
 

Abdel Kader Haidara, pustakawan dan kolektor buku dari Timbuktu, Mali, menyelundupkan buku-buku dan naskah kuno dari militan Al-Qaeda yang menguasai Mali. Selama beberapa tahun, setiap malam Haidara dan kawan-kawannya membawa ratusan buku dan naskah langka keluar dari Mali, melewati penjagaan ketat milisi Al-Qaeda.

Sejak Mali mengalami krisis pada Mei 2012, militan Tuareg yang dibantu Al-Qaeda merebut kawasan utara Mali, termasuk Timbuktu. Mereka menggulingkan Presiden Amadou Toumani Toure dan memberlakukan hukum syariah yang ketat. Sejak saat itu, Al-Qaeda menghancurkan makam para Sufi dan berbagai peninggalan Islam masa lalu.

Haidara menyadari bahwa hanya butuh waktu sebentar saja hingga Al-Qaeda mulai merazia dan menghancurkan naskah kuno berusia ratusan tahun. Ia meyakini naskah-naskah kuno tersebut bertentangan dengan paham garis keras Al-Qaeda.

"Naskah-naskah tersebut menunjukkan bahwa Islam adalah agama toleran. Naskah kuno tersebut tidak hanya bisa membantu memperbaiki cara pandang dunia Barat terhadap Islam, tetapi juga menolak paham Al-Qaeda," ungkap Haidara pada National Geographic.

Haidara memanggil rekan-rekannya dari asosiasi perpustakaan Timbuktu, yang mewakili 45 perpustakaan di Mali dan memiliki 400 ribu koleksi naskah langka. Ia mengusulkan agar mereka mengambil naskah-naskah dari gedung perpustakaan besar dan menyebarkannya di penjuru kota. "Kami tidak ingin Al-Qaeda menemukan koleksi tersebut, lalu mencuri dan menghancurkannya," ucapnya.

Dengan bantuan keluarga, pemandu wisata, dan pustakawan lain, Haidara dan rekan-rekannya membeli semua peti kayu dan logam yang ada di Timbuktu, tanpa menimbulkan kecurigaan. Mereka menyimpan peti-peti tersebut di berbagai perpustakaan di penjuru kota. Di sana, para relawan berkumpul setiap malam untuk mengepak manuskrip-manuskrip tersebut. Begitu buku dan naskah tersebut dipak, mereka menyelundupkannya dengan kereta keledai, menuju rumah para relawan.

Dalam beberapa bulan, kurang lebih 2.500 peti penuh naskah kuno disembunyikan di berbagai penjuru kota. Namun, menyelundupkannya keluar dari wilayah Al-Qaeda bukan hal yang mudah. Tidak hanya harus waspada dengan milisi Al-Qaeda, mereka juga harus kucing-kucingan dengan tentara Mali yang ingin mencegah penyelundupan senjata pada Al-Qaeda. Bahkan, tim Haidara juga harus menghadapi tentara Perancis yang datang untuk membebaskan Mali dari Al-Qaeda. Pernah suatu saat tentara Perancis hampir membakar perahu mereka yang penuh buku karena mencurigai mereka berupaya menyelundupkan senjata.

Dalam operasi selama sembilan bulan tersebut, mereka berhasil menyelamatkan sebagian besar naskah kuno Mali. Para milisi Al-Qaeda hanya menemukan dan membakar 4.000 manuskrip. Saat ini, manuskrip-manuskrip yang berhasil diselamatkan tersebut tersimpan di ibu kota Mali, Bamako.

National Geographic menulis, selama hidupnya, Haidara telah mengumpulkan berbagai naskah kuno dari Mali dan penjuru barat Afrika. Ribuan naskah langka dan berharga telah ia awetkan dan didigitalisasi untuk generasi mendatang. Naskah tersebut mengungkap berbagai tradisi Islam di Sudan dan Sahara. Mulai dari debat para filsuf Islam tentang poligami hingga persoalan merokok, perawatan medis, naskah kuno dari kulit domba atau sisik ikan yang dihiasi kaligrafi emas, salinan Al-Quran dengan ilustrasi, hingga naskah kuno mengenai astronomi, puisi, dan matematika.

"Banyak orang yang terkejut karena mereka menganggap tidak ada rekaman tertulis mengenai sejarah Afrika. Tapi kami memiliki ratusan ribu dokumen dalam bahasa Arab dan Afrika," ujarnya. |National Geographic, upworthy.com

back to top