Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Menatap tubuh sapi Madura

Menatap tubuh sapi Madura

Pengantar
   
Tulisan ini sengaja saya susun pada waktu bersamaan. Pada saat menyelesaikan perjalanan etnografis untuk memenuhi tugas kuliah di Kajian Budaya dan Media. Dan, panggilan tugas menulis di Antitesis Kopi ini. Tentu, keduanya saya susun dengan topik dan analisas yang berbeda. Meski bertemakan tentang Sapi Madura. Barangkali, tulisan ini terbilang belum matang secara etnografis dan wacana genealogisnya. Karena, sangatlah tidak mungkin melakukan etnografis dan genealogis secara mendalam dalam hitungan hari.

Namun, beberapa informasi dan kilasan analisanya sungguh terlalu sayang apabila dibuang begitu saja. Karena ada satu temuan penting yang perlu disajikan di sini terkait dengan tubuh, politik dan harga diri orang Madura yang relasinya dengan ternak sapi. Apalagi, sapi belakangan ini sering menjadi komoditas politik daripada komoditas ekonomi dan budaya bagi kelangsungan hidup rakyat Indonesia berdasarkan entitas etnisnya yang beragam.

Madura yang tergolong salah satu etnis yang sering menjadi menjadi wacana stigmatik di Indonesia perlu mendapatkan tempat untuk ditatap dan diimajinasikan dalam bingkai memori kolektif kebangsaan di nusantara. Supaya, kita bisa terbebas sejenak dari “rezim tatapan” yang menyayat hati rakyat Indonesia karena dimanfaatkan oleh para penguasa yang belum peka dengan masa depan budaya masyarakat lokalnya. Selamat menikmati antitesis KoPi hari ini sobat.      

Sirkuit sejarah Pulau Sapi di Madura
   
Saya terdampar selama dua minggu di salah satu pulau terluar Madura, pulau Sapodi. Orang-orang di Madura sering menyebutnya pulau sapi. Secara mitologis, asal-usul pulau sapi ini beragam versi. Ada yang mengatakan bahwa dulu ada seorang peternak sapi dari pulau Jawa, menurut kabar yang beredar, dia berasal dari Probolinggo.

Awalnya, dia kesulitan keuangan untuk pergi ke tanah suci (berhaji). Pada malam harinya, dia didatangi mimpi untuk bertapa di goa sapi yang letaknya ada di pulau Sapodi. Pergilah dia ke goa sapi selama beberapa hari. Saat di sana, dia mendapatkan kulit sapi secara gaib dan dibawanya pulang ke rumahnya. Entah seperti apa cerita selanjutnya, tiba-tiba dalam hitungan bulan, ternak sapinya berkembang pesat. Laris-manis di pasaran. Menghasilkan banyak uang. Bisa mempekerjakan banyak orang. Dan, keluarganya bisa pergi ke tanah suci seperti yang dicita-citakan.

Sebagai bentuk terima kasih, dia bersama keluarga sering berkunjung ke goa sapi itu setiap satu bulan sekali untuk melakukan ritual tertentu secara Islami. Dan ritual Islami ini menjadi tradisi masyarakat Sapodi dari masa ke masa (wawancara dengan Haji Adnan, usia 51 tahun. Wawancara dilakukan pada 20/01, jam 21.00 WIB). 

Versi literatur historis menyebutkan bahwa menurut Babad Sumenep dulu pulau Sapodi itu merupakan tempat pertapaan Adi Poday. Adi poday adalah sodara Adi Rasa, orang tua dari Jokotole. Dalam sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara, Jokotole merupakan orang sakti yang berperan besar dalam mendirikan bangunan kerajaan Majapahit pada masa raja Brawijaya, raja pertama Majapahit.

Jokotole memiliki orang tua angkat bernama Empo Kelleng, di daerah Pademawu-Pamekasan. Adi Poday dan Empo Kelleng memiliki kesenangan memelihara dan merawat sapi untuk mengisi waktu luang serta salah satu cara mendekatkan diri pada sang maha Pencipta (Abdurrahman, 1971).

Karena itu, tidak heran apabila di kedua daerah itu merupakan pusat ternak sapi di Madura. Bahkan, sapi jantan untuk kerapan sapi banyak terdapat di sana. Apalagi, senjata pamungkas yang menjadi kepemilikan Adi Poday dan Empo Kelleng juga terkait dengan Sapi, khususnya sapi Jantan.

Adi Poday memiliki odhâng (penutup kepala khas Madura) yang bisa memanggil dan menyingkirkan kekuatan angin yang maha dahsyat. Sementara, Empo Kelleng memiliki pecut keramat yang mampu mengeluarkan cahaya kilat dan petir. Kedua simbol senjata keramat ini sering digunakan kebanyakan orang Madura saat hendak melakukan kerapan sapi. Begitulah rahasia umum yang terdengar dibalik bilik warung kopi sekitar pasar Sapi di desa Gayam, salah satu daerah di Sapodi (Hasil observasi semi terlibat pada 19/01, jam 08.30-9.30 WIB).

Posisi geografis dan populasi sapi Pulau Sapodi

Pulau Sapodi dalam Peta Madura (sumber: www.ikipedia.org)

Pulau Sapodi dalam Peta Madura (sumber: www.ikipedia.org)

Pulau Sapodi berada di kabupaten Sumenep. Secara geografis, posisi pulau Sapodi terletak di tengah-tengah pulau-pulau terluar di Kabupaten Sumenep, yakni diantara pulau gili genting, giliraja, raas, kangean dan masa lembu. Menuju ke sana, dapat dilakukan melalui jalan darat dan dilanjutkan menggunakan jalur transportasi laut (kapal atau perahu). Lama perjalanan menggunakan jalur laut, dari pelabuhan dungke’ ataupun kalianget, sekitar 4-5 jam.
 
Ketika musim penghujan, antara Januari-Agustus, umumnya kapal dan perahu tidak banyak yang beroperasi. Karena, angin kencang, hujan lebat, dan arus ombak yang tinggi di wilayah jalur penyebrangan dari Sumenep ke Sapodi. Setiap harinya, ada sekitar 3-5 perahu kecil yang beroperasi mengantarkan penumpang dari Sapodi ke Sumenep, begitu juga sebaliknya. Ongkos menggunakan perahu kecil ini berkisar 60-80 ribu sekali angkut. Sementara, ongkos tiket kapal besar (kapal feri) kurang lebih dua kali lipatnya. Kapal feri ini beroperasi dua kali dalam seminggu.

Secara administratif, pulau Sapodi terdiri dari tiga kecamatan, yakni Nonggunong, Gayam, dan Raas. Luas pulau ini secara keseluruhan adalah 167,38 km persegi. Diantara pulau lainnya, pulau Sapodi memiliki jumlah dan kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Total penduduk di sana adalah 85.790 jiwa dengan tingkat kepadatan (jiwa/km persegi) sebesar 1.683.570. 

Mata pencaharian utama masyarakat Sapodi kebanyakan adalah nelayan dan peternak sapi. Memang, cukup banyak lahan yang bisa difungsikan untuk produksi pertanian. Namun, lahan-lahan yang ada hanya digunakan sebagai pertanian subsisten. Sifat tanahnya yang tegal merupakan salah satu penyebab kurang menguntungkannya lahan di sana sebagai pertanian produktif dan komersial. Jika tanah tegalan dianggap baik bagi pertanian tembakau, sebagaimana di daerah daratan Madura, tetapi masyarakat sana jarang, bahkan tidak ada yang menanam tembakau. Bagi mereka, tembakau memerlukan modal yang banyak dan hasil penennya belum tentu menguntungkannya. Terlebih lagi, letaknya yang jauh dari pusat pabrik tembakau yang ada di pusat kota Sumenep, merupakan alasan lainnya untuk tidak menanam tembakau.

Berdasarkan data statistik (2009), lahan tegalan di Gayam seluas 6.786 Ha², di Nunggunong seluas 2.949 Ha², dan Raas seluas 4.400 Ha². Lahan mereka umumnya digunakan untuk menanam jagung dan kacang-kacangan, sisanya digunakan untuk mendirikan bârung (warung) yang dijadikan kandang sapi. Istilah warung ini terdengar agak janggal bagi kebanyakan orang luar Sapodi. Apabila anda bertanya kepada orang sekitar dimana warung terdekat untuk memenuhi kebutuhan pangan, maka anda akan ditunjukkan warung sapi miliknya. 
   
Pulau Sapodi terkenal dengan pulau penghasil sapi terbesar di Madura, bahkan di dunia. Dari informasi yang dicatat media bahwa produksi sapi di Sapodi setiap tahunnya berjumlah 50.000 sapi. Hal ini yang kemudian membuat pulau sapodi dikenal luas sebagai penghasil sapi terbesar di dunia (www.antaranews.com). Hampir setiap penduduk di sana memiliki minimal dua pasang ekor sapi. Dibandingkan dengan pulau-pulau sekitarnya, jumlah populasi ternak sapi di Sapodi sangatlah tinggi. Jika diperkirakan secara kasar, dari total populasi ternak sapi di Sumenep (237.891) dan produksi daging sapinya (1.803.951) hampir separuhnya dipasok dari hasil ternak sapi Sapodi. Sebagaimana terlihat dari tabel di bawah ini:

  

Sumber: Sumenep dalam angka, 2009

Sapi dan Representasi Tubuh Orang Madura
   
Siapa bilang sapi tidak penting dalam kajian budaya dan humaniora ? Dalam politik negeri ini saja sapi menjadi fenomena yang penuh resiko dan bahaya. Gara-gara sapi, partai politik dan politisi nasional di negeri ini bisa terjerat kasus korupsi. Gara-gara sapi, sekelompok ulama melakukan aksi protes kepada gubernur Jawa Timur agar kerapan sapi di Madura “diharamkan”. Karena sapi jugalah ketahanan gizi masyarakat Indonesia bisa terus dipertahankan. Bahkan, susu sapi pun kini menjadi ikon iklan produk susu sapi kemasan.
   
Tetapi, sapi juga memiliki makna representasi tubuh bagi masyarakatnya. Talbot (2007) telah mengatakan bahwa representasi bukan sekedar mewakili realitas, melainkan juga persoalan pikiran dan jiwa bagi masyarakatnya. Sejarah dan budaya menjadi sumber penting bagi penjaga memori dan emosi masyarakat. Melalui sapi, kita pun dapat menyibak bagaimana representasi pikiran dan jiwa masyarakat Madura ditampilkan dalam kehidupan sehari-harinya.
   
Setiap penduduk di pulau Sapodi memiliki pekarangan yang digunakan untuk tanaman pakan sapi. Mereka yang sengaja mengambil pakan ternak sapi ini akan menimbulkan konflik yang luar biasa hebatnya. Bagi mereka, kehilangan pakan sapi sama seperti kehilangan penghasilan hidupnya. Jika sapi kekurangan pakan, maka akan menurunkan kualitas stamina dan harga jualnya. Maka, bagi orang Sapodi persoalan pakan ternak sapi menjadi sesuatu yang sakral. Mereka bisa saja marah dan kalap apabila pekarangan rumahnya diganggu dan dirusak oleh orang lain.
   
Menurut Wiyata (2002), munculnya carok (duel satu lawan satu dengan menggunakan clurit) di Madura disebabkan oleh gangguan terhadap perempuan, kata-kata yang menyakitkan, kompetisi dagang, dan balas dendam. Itu semua merupakan bagian dari harga diri orang Madura. Itulah tubuh masyarakat Madura. Namun, pada konteks sapi di pulau Sapodi urusan harga dirinya ada pada tubuh sapinya. Orang Sapodi tidak rela apabila sapinya kehilangan kesempatan untuk hidup layak dalam arti berkualitas tinggih. Sapi sama halnya anggota keluarga bagi mereka. Mensia-siakan hidup sapi, berarti mensia-siakan hidup manusia. Karena itu, lelaki Sapodi rela tidur bersama sapinya agar tidak dicuri orang (Kuntowijoyo, 2002). 

Setiap anak laki-laki di sana sudah sejak kecil diajarkan bagaimana berperan menjadi joki (tokang tongko’) yang baik di dalam kerapan sapi. Karena, menjadi joki bukan hanya tentang tradisi menjaga sapi melainkan juga suatu simbol keberanian melawan rasa takut sekaligus berkompetisi mendapatkan kehormatan keluarga. Bayaran para joki memang tidak seberapa. Sekitar 50-100 ribu rupiah setiap kompetisi kerapan sapi. Tetapi, orang tua di sana merasa bangga apabila ada anaknya menjadi joki kerapan sapi.

Apalagi, mereka menjadi joki dalam kerapan sapi se Madura (gubâng) yang diadakan setiap setahun sekali. Jangankan di Sapodi, seorang anak yang menjadi joki dalam iklan sirup Marjan versi Madura saja menjadi sangat populer, bahkan nyaris mengalahkan popularitas artis papan atas dari luar Madura . Dalam perjalanan etnografis, Saya sempat berburu data untuk mewawancarai Roni (13 tahun), Joki di iklan produk minuman tersebut. Sayang, Roni gagal ditemui. Karena, beberapa bulan setelah dirinya menjadi ikon Joki di iklan itu, Roni mengalami kecelakaan yang fatal ketika kerapan sapi. Sapi yang dinaikinya terseok-seok dan tersungkur di arena pacuan sapi. Roni pun terpental dan sempat terinjak sapi aduan. Nyawanya tak tertolong. Begitu pula dengan sapi yang ditungganginya (wawancara dengan Haji Rais, 41 tahun, pada 22/01 jam 21.00 WIB).   

Begitu perhatiannya terhadap masa depan sapinya, orang Madura juga sering menggunakan jasa para dukun dan kiai tertentu untuk menjaga sapinya dari serangan ilmu sihir dari para lawannya dan gangguan mahluk halus (Smith, 1989). Mereka sangat percaya betul dengan keberadaan mahluk gaib. Karena, percaya dan yakin dengan keberadaannya bagian dari rukun iman dalam agama Islam. Bahkan, dalam acara kerapan sapi tidak sedikit para jagoan Madura yang turut bertaruh (berjudi). Mereka pun juga menggunakan kekuatan ilmu gaib agar memenangkan pertaruhannya. Karena ini pulalah lantas kerapan sapi menjadi “tercemar”, sehingga kerapan sapi di Madura mulai dikritik oleh kalangan tokoh agama sekitar (Kosim, 2007). Meski begitu, mereka semua merasa risih dan kecewa apabila ada kebijakan pemerintah yang melakukan impor (daging) sapi. Bagi mereka sapi bukanlah hanya urusan politik, melainkan juga perkara masa depan ekonomi keluarga dan menjaga harga diri budayanya. Nah Lho !



Daftar Pustaka

Abdurrahman, 1971. Sejarah Madura Selayang Pandang, Sumenep: The Sun

Kosim, Mohammad, 2007. Kerapan Sapi: “Pesta” Rakyat Madura (hal. 69-76), dalam KARSA: Jurnal Studi Keislaman, Vol. XI No.1, Pamekasan: Stain

Kuntowijoyo, 2002. Madura (1850-1940), Yogyakarta: Mata Bangsa

Smith, Glen, 1989. Pentingnya Sapi dalam Masyarakat Madura, dalam De Jonge, Huub, (ed.), Agama, Kebudayaan, dan Ekonomi: Studi Interdisipliner tentang Masyarakat Madura, Jakarta: Rajawali Press

Talbot, 2007. Media Discourse, Representation and Interaction, UK: Edinburgh University Press

Wiyata, Latief, 2002. Carok, Jogjakarta: LKiS
    
  
     







  

 

 

 

back to top