Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Menari di Atas Api: Oka Sosial, Oka Api

Menari di Atas Api: Oka Sosial, Oka Api

Kita lambangkan saja api adalah penanda gairah, ia adalah simbol dari apa saja yang membuat orang berkehendak hidup, memiliki hasrat. Dari seluruh karya yang dipamerkan ini saya menaruh perhatian pada ‘Menari di atas Api(Dancing on Fire)’. Karya itu seolah melambangkan situasi psikologis Oka dalam memandang hubungan dirinya dengan ideologi masyarakatnya. Dapat dikatakan Oka saat ini tengah membicarakan hubungan  ‘id’ dengan ‘superego’ dalam kamus psikoanalisa: dimana ‘id’ (keinginan) asimetris dengan kekuatan eksternal yang merepresi gairah;hasrat. Apa menariknya dari isu yang diketengahkan Oka melalui pameran tunggal ketiganya ini? Bukankah wacana represi sudah banyak diungkapkan oleh perupa? Mengapa kemudian Oka menghadirkan metafora api yang menari? Menari diatas gairah;hasrat? Apa maksudnya?

Apabila kita membuka lagi sejumlah katalog-katalog pameran seni rupa, tema pameran dengan wacana represi berkali-kali muncul. Wacana represi selalu muncul dengan berbagai bentuk dan artikulasinya. Sebuah wacana yang mencoba untuk memproblematisir rezim dengan berbagai bentuk dan teknik represinya. Dari rezim yang material bentuknya hingga immaterial, dari kekuatan sosial-budaya(simbolis) hingga kekuatan yang sifatnya koersif(fisik). Terdapat banyak cara memahami mengenai hubungan subjek dengan kondisi objektif diluar dirinya yang dikembangkan oleh ilmu sosial-humaniora, terutama dalam kaitannya dengan kesadaran subjek. Ada yang beranggapan subjek menjadi patuh 100 persen, dalam arti subjek menjadi sekadar fungsi dari sebuah bentuk ideologi. Ada pula yang keberatan dengan asumsi itu, bahwa orang masih punya celah untuk melalukan tawar-menawar, atau dalam bahasa Oka: negosiasi.

Oka sosial adalah Oka yang kita kenal, saat ini ia sedang menempuh studi di Progam Studi Seni Lukis, jurusan Seni Murni, FSR ISI Yogyakarta. Anak muda pendiam kelahiran Tabanan, Bali ini rupanya sangat aktif berorganisasi, bahkan beberapa kali menjadi ketua. Maka jangan menilai orang dari sekadar penampilannya saja, Oka adalah contoh; satu dari teramat sedikitnya perupa Bali yang gemar berorganisasi. Oka sadar bahwa belajar dikelas berbeda dengan dilapangan sosial. Didalam organisasi seseorang akan mengetahui dimana posisi fungsionalnya dalam struktur organisasi. Oka sepanjang saya mengenalnya bahkan sempat menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Hindu ISI Yogyakarta. Salah satu fungsi organisasi membuka celah jejaring sosial, dari situ Oka kemudian mengenal tokoh-tokoh perupa, hingga berbagai komunitas seni-budaya yang hidup di Yogyakarta. Interaksi Oka dengan berbagai orang dan komunitas ini menjadikan Oka memperoleh identitas sosial yang plus. Ia tidak saja sekadar mahasiswa seni lukis semata, tetapi Oka menjadi sosok yang dikenal menggandrungi kegiatan lintas disipliner, terutama melalui forum alternatif WASH (Weekly Art Sharing) bersama kurator dan peneliti independen, Hendra Himawan. Minat Oka ini yang saya yakini dan saya harapkan dapat memperluas dan memperkaya pengalamannya. Kita tahu bahwa kedalaman pengalaman inilah yang menentukan baik dan segarnya suatu hasil karya, tidak sekadar mereproduksi stereotipe, atau pengetahuan siap pakai.

Oka merawat tradisi menimba ilmu yang baik, dalam arti Oka aktif dan rajin bertandang dan menimba ilmu dari para seniornya. Saya terkesan dengan usaha membagi hasil  dialognya dengan tokoh senior Made Wianta, Pande Gede Supada dan Nyoman Erawan. Oka juga aktif pula berdialog dengan perupa Entang Wiharso, dan beberapa kali membuat kegiatan projek berbasis riset bersama Antena Project. Apabila dicermati, ada kebutuhan keilmuan yang dicari Oka, terutama pada pokok atau perihal tubuh. Bagaimana tubuh diimajinasikan, tubuh dialami dan tubuh diperagakan melalui berbagai bentuk dan teknik, kurang lebih itu pertanyaan-pertanyaan personal Oka. Dari situ Oka mencari jawaban akan makna kebebasan. Dalam kaitannya dengan hubungan makna kebebasan dengan tubuh adat, kita seperti diingatkan oleh praktik kesenian I Gusti Nyoman lempad, ia sosok legendaris yang justru dapat mendapatkan subyektifitasnya melalui praktik sublimasinya dengan adat. Ini menarik. Saya kira Oka dapat menimba dari apa yang ditempuh dari kiprah Lempad dalam masa berkeseniannya.

Pada akhirnya, api. Gelora hasrat; gairah. Simbol sumur gagasan. Pada saat ini Oka tengah mengeksplorasi dua alam kesadaran, api hasrat dalam dirinya dengan aku-sosialnya. Kita apresiasi bagaimana semuanya itu dinegosiasikan atau disublimasi oleh Oka melalui penguasan teknisnya saat ini dan subjek matter yang ditampilkan.

Yogyakarta, 18 Februari 2014

-Sudjud Dartanto, staf pengajar FSR ISI Yogyakarta



back to top