Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Menag meralat makna radikalisme agama

Menag meralat makna radikalisme agama

Sleman-KoPi|Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin meralat makna radikalisme yang benar kepada masyarakat. Ia mengungkapkan pemahaman radikal dalam beragama seringkali menimbulkan banyak kesalahpahaman masyarakat saat memaknai kata ini.

"Menjadi persoalan yaitu kata radikalisme menjadi semacam pemahaman umum seolah kata ini konotasinya terkesan negatif,"ujarnya saat mengisi sebuah seminar di Hotel East Parc Yogyakarta, Sabtu (23/9).

Lukman menuturkan penanggulangan masalah paham radikalisme saat ini perlu ditegaskan. Pasalnya pandangan tentang radikalisme ini banyak menimbulkan misleading dalam memahaminya. Tujuannya adalah demi mencegah resistensi-resistensi lanjutan saat menanggulangi gerakan yang dinilai salah ini.

"Radikalisme ini perlu ada kesamaan cara pandang, sebab kalau tidak, alih-alih menanggulangi malah memunculkan resistensi pada penanggulangannya,"tuturnya.

Ia melanjutkan,secara bahasa, kata radik ini berarti sesuatu yang mengakar. Menurutnya, Radik ini jika dikaitkan dalam beragama merupakan suatu hal yang baik jika disatukan. Sehingga menciptakan perspektif baik bahwa radikalis atau radik agama adalah sesuatu yang mengakarkan keyakinan diri pada agama.

"Sehingga radikal ini seolah menimbulkan perasaan konsistensi dalam keyakinan beragama,"lanjutnya.

Lukman pun memaparkan kalangan radikal ini bukanlah kalangan yang harus diperangi. Kalangan yang harus diperangi adalah kalangan yang terlalu fanatik beragama dan memaksakan ideologi beragama. Lukman menyebutnya bukan sebagai kaum radikalis tapi kaum ekstrimis.

Kaum ekstrimis ini cenderung mengupayakan segala cara seperti kekerasan dan pemaksaan untuk membenarkan keyakinan mereka. Oleh karenannya,Lukman menekankan kaum ekstrimis ini sangat berbeda dibandingkan kaum radikalis.

"Nah upaya memaksa ideologi dan keyakinan ini lah yang menjadi bahan penanggulangan kita,"tekannya.

Menurut Menag, ekstrimis dan radikalis ini perlu dibedakan karena dua pemahaman beragama ini sangatlah berbeda. Ia melanjutkan radikalis ini adalah sebuah pemahaman yang tidak memaksa dan sangat positif.

Hal ini perlu dilakukan agar pemahaman radik ini dapat diterima masyarakat agar masyarakat lebih terbuka dalam menerima pemahaman beragama yang benar

"Yang kita takutkan adalah saat kita tidak mengetahui perspektif ini ,akibatnya pemahaman radik yang bagus untuk diterapkan dalam beragama tidak pernah sampai ke masyarakat ,jangan sampai sebuah keyakinan agama yang kental menjadi encer hanya karena misleading ini,"pungkasnya.|Syidiq Syaiful Ardli

 

back to top