Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Membuat kartun lebih bermoral

Membuat kartun lebih bermoral

Oleh: Indra Jaya K.W


Masifnya perkembangan informasi dan teknologi mutakhir di Indonesia telah mendorong munculnya sejumlah stasiun televisi swasta yang jelajah hegemoniknya meruntuhkan dominasi TVRI sebagai satu-satunya televisi nasional. Berbagai tayangan yang disajikan televisi swasta itu membuat para penontonnya betah di depan layar kaca. Tayangannya yang beragam mengalahkan tayangan TVRI yang monoton dan sarat propaganda rezim penguasa orde baru, setidaknya di era tahun ‘80 hingga ‘90-an.  

Pesatnya pertumbuhan industri pertelevisian di Indonesia itulah yang kemudian menjadi dasar pembentukan komisi penyiaran indonesia (KPI) dalam rangka tata kelola sistem penyiaran. Fungsi dari lembaga ini memainkan peran kontrol dan pengawasan terhadap kelayakan berbagai program televisi. Salah satu kelayakan ini terkait dengan penayangan siaran yang terklasifikasi dalam muatan, jam tayang, sensor, dan jenjang usia penontonnya. 

Namun, program anak-anak diprioritaskan mendapatkan proteksi yang lebih. Oleh karena itu, program anak-anak yang bermuatan unsur kekerasan dan seksualitas dianggap tidak pantas ditayangkan. Jika tidak diperhatikan, maka televisi bersangkutan akan diberi sanksi. Unsur-unsur mistis, pornografi, dan sifat-sifat destruktif (seperti kemarahan, serakah, pelit, rakus, dendam, iri, dan malas) pun tak lepas dari sorotan KPI. (www.kpi.go.id, diakses 22/09/14).

Beberapa program anak bergenre anime (kartun), akhir-akhir ini juga disorot tajam oleh KPI. Program-program tersebut adalah kartun Bima Sakti, Little Krisna, dan Tom & Jerry yang masuk kategori berbahaya karena dianggap sering menyuguhkan praktik kekerasan simbolik dan masif dengan frekuensi tayangnya dua kali sehari. Adapun tayangan anak bergenre kartun yang masuk kategori hati-hati adalah Sinchan dan Spongebob. Bahkan, pihak KPI merekomendasikan tayangan-tayangan tersebut untuk memindahkannya ke jam tayang dewasa (22.00-03.00 WIB). Apabila, pihak televisi bersangkutan masih ingin menayangkan program tersebut di jam normal, wajib meminimalisir muatan-muatan kekerasan simbolik tersebut.

Bagi kebanyakan anak-anak, kartun merupakan tayangan televisi yang dapat menghibur. Padahal, senyatanya tidak demikian. Televisi membuatnya tampak rasional, seolah-olah kartun itu telah melalui proses pembuatan yang ditangani oleh kaum profesional dan seniman di bidang desain grafis visual. Dalam perspektif Marcuse, sistem yang tampak rasional dalam masyarakat industri modern, sebenarnya juga mengandung dimensi irasional. Karena di dalamnya disusupi oleh kepentingan ekonomi politik media bersangkutan.

Keberadaan KPI juga memiliki orientasi kepentingan yang bersifat dominatif, dalam arti merekalah yang paling berhak menentukan standar-standar etika penyiaran. Meskipun, tafsiran tentang standar etika yang dilembagakan itu juga berkontradiksi dengan dasar filsafat moralitas  itu sendiri. Imanuel Kant mengatakan bahwa dasar moralitas haruslah imperatif kategoris (tanpa syarat). Keadilan, kejujuran, dan kebaikan itu menjadi umum karena setiap orang melakukannya atas dasar kebutuhan rasa aman dan ketenangan hidup umat manusia. Jika ada tayangan televisi atau media apapun yang membuat rasa aman dan ketenangan manusia terganggu, maka di situlah diperlukan sentuhan moralitas. Artinya, moralitas ada bukan karena pengaruh paksaan dari pihak luar, melainkan adanya panggilan hati kecilnya. Ketika moralitas itu dipaksakan di dalam sebuah institusi, maka wujud tindakannya bukan lagi murni atas nama hati nuraninya. Inilah yang lantas membuat kecenderungan sistem masyarakat yang tidak sehat, bersifat represif dan totaliter, serta menghancurkan otonomi eksistensial (Sastrapratedja, 1983: 156). 

Kartun bukan sekedar hiburan, melainkan juga berperan sebagai media pembelajaran dan mengembangkan daya imajinasi. Apabila imajinasi anak itu telah ditekan sedemikian rupa, justru berpotensi memunculkan keterkucilan individu yang kompromistik. Kondisi inilah yang menjadi perhatian psikoanalisis Erich Fromm. Yakni, kondisi dimana perkembangan individu sejak dini dikerdilkan melalui praktik penekanan realitas dalam proses pendidikannya (Fromm, 1998:344). Tetapi juga, realitas visual itu dapat beresiko menciptakan banalitas jiwa dan pikiran anak-anak karena adanya modifikasi realitas artifisial dari luar dirinya (Raditya, 2014). Bagi Fromm, anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang meluap-luap tentang dunia apapun di luar dirinya. Namun, pemikiran orisinil yang harusnya tumbuh dari dalam dirinya harus berasal dari daya imajinasinya melalui dongeng yang memberi motivasi hidupnya di masa depan. Masalahnya, di tengah media massa yang begitu massif belakangan ini telah menggantikan tugas para orang tua berdongeng bagi anak-anaknya sebelum tidur. 

Kini, anak-anak membutuhkan tayangan kartun yang membangun semangat positif bagi mereka. Suatu semangat yang membuat mereka peka dan kritis terhadap kehidupan sosial yang penuh ketidakadilan dan alienatif. Sebagaimana dikatakan Erich Fromm bahwa pendidikan anak-anak harus berupaya menghapus berbagai metode yang mengancam, menghukum, dan menakuti-nakuti secara samar agar mereka tidak berhenti berimajinasi dan mengasah perasaannya tentang dunia manusia.



back to top