Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Editorial KoPi: Membangun tradisi oposisi

Editorial KoPi: Membangun tradisi oposisi
Menjelang terbentuknya pemerintahan baru Jokowi-JK, isu tentang oposisi politik menjadi ramai sebagai perbincangan publik. Bagaimana kita memahami oposisi?

Etimologi atau asal bahasa dari oposisi adalah opponere yang bermakna menentang, melawan, menolak, atau membangkang. Pada perkembangan sistem politik, terutama dalam politik demokrasi oposisi merupakan sikap dan praktik dari kelompok-kelompok yang menentang kebijakan pemerintahan berkuasa.

Kelompok-kelompok yang berbeda secara sikap politik, namun tidak berada dalam pemerintahan ini kemudian membangun wacana dan praktik kritis terhadap pemerintah. Para Kelompok oposan ini kemudian mencoba selalu kritis dan mencoba membuktikan kesalahan-kesalahan dari setiap kebijakan pemerintah.

Tradisi oposisi

Di Indonesia, praktik oposisi atau tradisi beroposisi tidak berlangsung secara terbuka. Suara-suara kritis lebih banyak muncul dari kalangan independen, seperti akademisi atau masyarakat di luar kelompok politik mainstream. Kondisi tersebut berlangsung sejak Orde Lama hingga Orde Baru yang cenderung otoriter yang membungkam kekritisan masyarakat dan menidurkan para wakil rakyat.

Pada masa Reformasi, tepatnya di masa pemerintahan SBY pertama (2004), praktik opisisi baru benar-benar dipraktikan secara penuh oleh Partai Demokrasi-Perjuangan (PDI-P). Partai ini memilih menolak ajakan pemerintahan SBY untuk bergabung dalam pemerintahan. Sikap ini tentu menjadi preseden yang baik bagi kondisi keseimbangan politik Indonesia (Semestinya).

Keberadaan oposisi dalam praktik politik semacam ini menjadi kontrol bagi kekuasaan secara nyata. Pemerintah yang berkuasa tidak menjadi mudah untuk memuluskan setiap kebijakan yang dibuat. Terutama kebijakan-kebijakan yang dianggap tidak pro rakyat atau melindungi warganya.

Secara moral, keberadaan kelompok oposisi tidak beda dengan pemerintah yang berkuasa, bekerja untuk kepentingan rakyat. Namun,secara politis keberadaan oposisi menjadi rentan dengan terjadinya distorsi moral. Beberapa oposan terkadang menjadikannya alat dagang untuk kepentingan pribadi. Kita melihat bagaimana suara-suara kritis kelompok oposisi keras menggelegar dan hilang tiba-tiba dalam dekapan uang. Dan bila ini terus terjadi, maka kita sulit menjadi bangsa yang benar-benar besar.

Menjelang pemerintahan Jokowi mendatang, ada baiknya bila tradisi oposisi yang nyata seperti dimulai oleh PDI-P diambil atau diteruskan oleh partai-partai lain secara konsekuen. Dan peran ini harus diniati sebagai sebuah jalan bakti terhadap kebaikan bangsa dan negara, bukan semata sekedar menjadi alat kekuasaan kepentingan. Tentu saja, rakyat Indonesia akan memberikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap partai-partai yang bersedia mengabdikan dirinya pada peran ini secara utuh dan konsekuen.


back to top