Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Membangun Kemandirian Bangsa Melalui Pembangunan Sektor Industri

Membangun Kemandirian Bangsa Melalui Pembangunan Sektor Industri

Sleman-KoPi| Saat ini, Indonesia masuk dalam kategori middle income trap, yakni negara yang terjebak dalam pusaran ekonomi berpenghasilan rendah. Dalam kondisi dan situasi semacam ini maka mustahil bagi Indonesia, sebagai negara dengan tingkat populasi 250 juta jiwa dan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 1,5% per tahun, untuk melaju menjadi negara maju.

Demikian antara lain pokok-pokok pikiran yang diungkapkan oleh Buntoro (Chairman dan Founder PT Mega Andalan Kalasan) dalam seminar dan diskusi bertajuk “Membangun Kemandirian Bangsa Melalui Pembangunan Sektor Industri.”

Seminar dan diskusi yang diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis ke-51 Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) ini berlangsung di Kampus III, Gedung Bonaventura, Jl. Babarsari 43 Yogyakarta pada Kamis, 22 September 2016.

Tak kurang dari 250 peserta, yang terdiri atas mahasiswa dan dosen maupun praktisi memadati acara ini. Kecuali Buntoro, pembicara lain dalam seminar dan diskusi ini adalah Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Piter Abdullah.

Sebagai pembicara kedua, Piter Abdullah mengungkapkan bahwa penyebab industrialisasi Indonesia kalah bersaing dengan negara maju meliputi beberapa sebab, yakni berkurangnya daya saing upah sehingga meingkatkan persaingan investasi padat karya dengan negara peers.

Di sisi lain, daya saing non-upah mengalami penurunan sehingga menjadi hambatan tambahan dalam menarik investasi. Selanjutnya Piter menegaskan, “Ketidakseimbangan struktur industri domestik saat ini tercermin pada profil industri yang kuat pada sektor SDA dan low-tech labor intensive. Padahal, industri masa depan berdaya saing dinamis yang dibutuhkan Indonesia adalah kelompok Med-High Tech Manufacturing yang saat ini masih tidak kompetitif.”

Rektor UAJY, Dr. Gregorius Sri Nurhartanto, SH. LL.M. secara resmi membuka acara ini. Dalam pidato sambutannya, Rektor UAJY menegaskan bahwa konsep kemandirian industri, harus mulai bergeser dari sekadar pembahasan swasembada, impor atau tidak impor dan lain-lain yang sejenis.

Saat ini dunia mulai memikirkan konsep Global Value Chain (GVC) untuk mendukung industrinya, di mana semaksimal mungkin diupayakan bahan baku dari dalam negeri, tetapi tidak diharamkan impor.

Rektor menambahkan, “Kolaborasi dengan akademisi sangat penting dalam menjawab tantangan inovasi berbasis teknologi tepat guna dan sasaran. Inovasi berbasis kebutuhan sehingga hasil inovasi tidak mubazir.

Tak kalah pentingnya, peran konsumen dalam mendukung konsep industri tidak sekedar mencari barang murah tetapi kurang bernilai dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Peran konsumen menjadi kekuatan dalam mendorong industri dalam negeri berkembang. Yang pasti adalah bahwa membangun induistri tidaklah semudah dan sesederhana membangun pabrik.”, demikian pungkasnya.| (One 23/9)

back to top