Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Membangun Kemandirian Bangsa Melalui Pembangunan Sektor Industri

Membangun Kemandirian Bangsa Melalui Pembangunan Sektor Industri

Sleman-KoPi| Saat ini, Indonesia masuk dalam kategori middle income trap, yakni negara yang terjebak dalam pusaran ekonomi berpenghasilan rendah. Dalam kondisi dan situasi semacam ini maka mustahil bagi Indonesia, sebagai negara dengan tingkat populasi 250 juta jiwa dan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 1,5% per tahun, untuk melaju menjadi negara maju.

Demikian antara lain pokok-pokok pikiran yang diungkapkan oleh Buntoro (Chairman dan Founder PT Mega Andalan Kalasan) dalam seminar dan diskusi bertajuk “Membangun Kemandirian Bangsa Melalui Pembangunan Sektor Industri.”

Seminar dan diskusi yang diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis ke-51 Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) ini berlangsung di Kampus III, Gedung Bonaventura, Jl. Babarsari 43 Yogyakarta pada Kamis, 22 September 2016.

Tak kurang dari 250 peserta, yang terdiri atas mahasiswa dan dosen maupun praktisi memadati acara ini. Kecuali Buntoro, pembicara lain dalam seminar dan diskusi ini adalah Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Piter Abdullah.

Sebagai pembicara kedua, Piter Abdullah mengungkapkan bahwa penyebab industrialisasi Indonesia kalah bersaing dengan negara maju meliputi beberapa sebab, yakni berkurangnya daya saing upah sehingga meingkatkan persaingan investasi padat karya dengan negara peers.

Di sisi lain, daya saing non-upah mengalami penurunan sehingga menjadi hambatan tambahan dalam menarik investasi. Selanjutnya Piter menegaskan, “Ketidakseimbangan struktur industri domestik saat ini tercermin pada profil industri yang kuat pada sektor SDA dan low-tech labor intensive. Padahal, industri masa depan berdaya saing dinamis yang dibutuhkan Indonesia adalah kelompok Med-High Tech Manufacturing yang saat ini masih tidak kompetitif.”

Rektor UAJY, Dr. Gregorius Sri Nurhartanto, SH. LL.M. secara resmi membuka acara ini. Dalam pidato sambutannya, Rektor UAJY menegaskan bahwa konsep kemandirian industri, harus mulai bergeser dari sekadar pembahasan swasembada, impor atau tidak impor dan lain-lain yang sejenis.

Saat ini dunia mulai memikirkan konsep Global Value Chain (GVC) untuk mendukung industrinya, di mana semaksimal mungkin diupayakan bahan baku dari dalam negeri, tetapi tidak diharamkan impor.

Rektor menambahkan, “Kolaborasi dengan akademisi sangat penting dalam menjawab tantangan inovasi berbasis teknologi tepat guna dan sasaran. Inovasi berbasis kebutuhan sehingga hasil inovasi tidak mubazir.

Tak kalah pentingnya, peran konsumen dalam mendukung konsep industri tidak sekedar mencari barang murah tetapi kurang bernilai dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Peran konsumen menjadi kekuatan dalam mendorong industri dalam negeri berkembang. Yang pasti adalah bahwa membangun induistri tidaklah semudah dan sesederhana membangun pabrik.”, demikian pungkasnya.| (One 23/9)

back to top