Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Melestarikan situs Warungboto Yogyakarta

Melestarikan situs Warungboto Yogyakarta

Jogja-KoPi| Melalui festival kesenian tradisional, Dinas Kebudayaan Yogyakarta mengajak masyarakat agar menjaga situs bersejarah Warungboto. Ajakan itu disampaikan dalam sosialisasi Festival Adhiluhung Warung Boto, Yogyakarta, Sabtu (24/2).

Dinas kebudayaan mengingatkan agar selalu menjaga dan melestarikan situs Warungboto. Berdasarkan sejarah,situs Warungboto ini sudah ada sejak zaman Hamengkubuwono I yang berfungsi sebagai tempat istirahat raja. Situs ini berada di Jalan Veteran, Umbulharjo, Yogyakarta.

Beberapa upaya pun telah dilakukan seperti sosialisasi mengundang warga dan menggandeng Komunitas Tuk Umbul Warungboto dengan menggelar festival kesenian tradisional festival Adiluhung Bangun Tulak.

Menurut Bambang Marsamtoro dari Kasi Sejarah, festival ini sudah berlangsung empat kali dengan tema yang berbeda-beda. Bambang Marsamtoro mengatakan tujuan dari festival selain menjaga sekaligus melestarikan situs Warungboto.

Sementara itu, Ferian Fembriansah, koordinator Komunitas Warungboto menjelaskan tema festival tahun ini mengikuti konsep burung tulak yang berwarna hitam putih yang menggambarkan kehidupan. Masyarakat seolah diajak untuk membangun 'tulak' yang merupakan syarat hidup dan selamat di dunia ini.

Festival ini diadakan pada Sabtu tanggal 25 Februari 2017 bertempat di situs Warungboto. Nantinya festival ini akan diisi dengan pementasan tradisional seperti geguritan, tari tradisional, angklung, dan banyak lagi.

Selain itu juga terapat dialog dari berbagai pihak seperti pihak keraton, Pakualaman, Muhammadiyah, dinas kebudayaan. Festival ini diadakan dua sesi, sesi pertama pukul 15.30-17.30,dan malam pukul 19.00-24.00.
Ferian Fembriansah mengajak masyarakat untuk mengikuti event agar dapat berpartisipasi dalam menjaga situs Warungboto.
"Festival gratis dan tidak dipungut biaya sepeserpun,"pungkasnya. |Syidiq Syaiful Ardli|

back to top