Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Matinya Olah Raga: Surplus Ideologi dan Running Shoes

Painted by Acil Aliancah, Paling Terlihat, 150x100, 2012 Painted by Acil Aliancah, Paling Terlihat, 150x100, 2012

Pelari yang Tidak Pernah Berlari: Operasi Ideologi

Jika Barthes dalam “Mitologi” miliknya menegaskan bahwa pertandingan gulat bukanlah sebuah ‘olahraga’ melainkan hanyalah ‘tontonan’, maka tulisan ini juga hendak mengantarkan salah satu jenis olahraga [baca: lari] sebagai sebuah mesin raksasa penghasil ideologi. Tentu bukan secara langsung bermaksud untuk menyatakan bahwa kegiatan berlari adalah kesia-siaan belaka. Lebih dari itu, tulisan ini bertujuan untuk menyajikan fenomena para ‘pelari’ yang sedang asik running to nowhere dengan penuh hasrat menggebu, menebarkan persona narsistiknya di tengah-tengah ruang simbolik dengan sepatu berwarna cerah dan smartphone di lengannya (para pelari kita hari ini, mengikatkan smartphone pada lengan, dengan asesoris yang menyerupai sabuk) .

Fenomena aktifitas berlari yang seharusnya menawarkan kebugaran tubuh sang subjek, ternyata memiliki nilai lain yang terselip di dalamnya. Paradoks ini ditunjukkan dengan makin menjamurnya komunitas pelari amatir dan pelbagai perhelatan pesta pora pelari melalui event-event yang diselenggarakan. Sebut saja komunitas IndoRunners yang tersebar di banyak wilayah, baik kota hingga daerah ‘menyerupai kota’ di Indonesia. Bersamaan dengan itu, muncul pula beberapa event seperti Night Running, Pocari Sweat Run, Color Run, dan ragam event lainnya yang syarat ideologi di dalamnya. Alih-alih mendapatkan kesehatan melalui tiap bulir keringat yang dikeluarkannya, para pelari kita malah disibukkan dengan pembentukan identitas ‘pelari’nya dalam busana ber-sponsor. Mereka juga senantiasa mempertontonkan kesalahpahaman akan usaha subyeksinya dalam ruang publik masa kini: facebook, twitter, instagram, path, dan kroni-kroninya.

Berkenaan mengenai sponsor yang selalu dengan senang hati merangkul para pecinta olahraga dengan menyertakan jutaan ideologi dibelakang punggungnya. Boyle dan Haynes menyatakan bahwa alasan perusahaan menyeponsori banyak kegiatan olahraga adalah untuk meningkatkan pengenalan terhadap profil perusahaan yang sekaligus menambah perhatian publik terhadap produk tersebut ketika muncul pada olahraga tertentu (Boyle and Hanes, 2009: 47). Dalam pembahasannya, Ia menyontohkan pada tahun 1970, perusahaan kondom ‘Durex’ menyeponsori olahraga balap motor yang bertujuan untuk ‘menormalkan’ produknya. Dalam hal ini, tentu iklan Durex dimana sebelumnya dianggap sebagai produk ‘tabu’. Melalui periklanan ini, Durex menjadi lebih tampil percaya diri, dengan penghamparan symptom yang senantiasa menghadirkan suatu normalitas dalam ruang simbolik.

Symptom disini berkaitan dengan sebuah formasi yang mengatur bagaimana sebuah realitas selalu tampak normal. Lacan menjelaskan kasus ini sebagai proses penundaan subjek dalam kegagalannya mengakuisisi objek hasratnya. Pemirsa olahraga atau pelari amatir, yang dengan riang gembira mendambakan sebuah kebugaran tubuh, akhirnya menjadikan hidupnya dalam keseolah-olahan. Keadaan ini, terjadi karena adanya kegagalan subjek dalam upaya memanifestasikan dirinya, sehingga subjek mengalami misrecognition atas eksistensinya. Akibat dari kesalahpahaman dalam memahami diri, subjek yang terbelah akan terus menerus dirundung kecemasan, hingga akhirnya Ia masuk ke dalam rantai pertandaaan tanpa dasar dan menciptakan wilayah chaotic yang secara berkesinambungan menggeser dorongan (drive) dan hasrat (desire) (Bracher, 2009: xiii).  Lacan kemudian menyatakan bahwa “We do not believe in object, but we observe desire” (Lacan, 1975-76: 10) yang dengan ini memunculkan sebuah ambiguitas, dimana subjek senantiasa patuh dan dihasrati oleh objek hasrat. Subjek akan terus dalam kondisi kegelisahan akut sebagai pengejawantahan keterbelahan akan dirinya. Dari sinilah, symptom menjaga konsistensi kegelisahannya sehingga tampak sebagai sebuah realitas yang normal. Para pelari dan pemirsa olahraga dibiarkan terlena dalam belenggu ideologi dalam ruang simbolik. Apa yang ditonton dan apa yang dikenakan pada dirinya, seolah berjalan apa adanya karena symptom menjaga eksistensi subjek dari opresi simbolik.

Pembahasan lebih lanjut mengenai bagaimana kemudian ideologi melalui symptom, merangkak masuk masuk ke dalam kehidupan ketika dan seolah membuatnya terlihat begitu normal, berhasil Slavoj Žižek bahasakannya dengan lebih jelas pada film “The Pervert’s Guide To Ideology”. Ia mengatakan bahwa “The material force of ideology makes me not see what I’m effectively eating” ironinya menurut Žižek adalah, ketika kita mencoba keluar dari belenggu ideologi, pada saat yang bersamaan pula kita berada dalam ruang surplus ideologi. Sehingga, nampaklah sebuah keadaan dimana para pelari kita yang fashionable alih-alih berlari, mereka ternyata hanya diam ditempat menikmati symptom yang telah menguncinya untuk senantiasa menunda pengetahuan (The desire of knowledge encounters obstacle). Lalu teriak Žižek: “Enjoy Your Symptom!”

The Running Shoes That’s Called Nike: Permainan Diskurus Sebuah Produk

Siapa yang tidak mengetahui ketenaran produk olahraga ‘Nike’? Jika Lennon pernah menyatakan bahwa The Beatles memiliki ketenaran melampaui Tuhan, maka tidak salah pula jika saja Nike ingin menyatakan hal serupa. Betapa tidak, produk Nike bergerak di berbagai jenis olahraga dan mendunia, Ia tidak ubahnya seperti virus yang belum ditemukan penangkalnya, sehingga persebarannya tidak akan mungkin terbendung.

Lalu apa hubungannya produk Nike dan keterbelahan subjek pelari riang yang telah gagal mengartikulasikan dirinya dalam belenggu ideologi? Tentu tidak jauh dari persoalan produk kondom Durex yang sempat dibahas sebelumnya. Namun dalam hal ini, terutama dalam segmen olahraga, Nike adalah ‘rajanya raja’ yang tidak bisa disangkal lagi kedigdayaannya di dunia. Dengan demikian, gurauan Macgregor Wise mengenai produk Nike dan globalisasi ada benarnya “whether it’s a question about buying a pair of Nike sneakers made in Asia or a tourist (who’s wearing Nike) trip to Cabo San Lucas” (huruf tebal diolah penulis) (Wise, 2008: 28). Maksudnya, sebagai produk olahraga terkemuka, Nike telah berhasil pula menjadi simbol globalisasi yang keberadaannya selalu membayangi bahkan sampai menjangkau wilayah paling pelosok sekalipun.

Alasan lain mengapa harus menjadikan Nike sebagai bahan analisa untuk produk ideologi, padahal diluar sana masih banyak produk-produk olahraga yang tidak kalah hebatnya dengan Nike, seperti Adidas, Reebok, Puma, dan sejenisnya adalah promosi ‘budaya lari’ yang begitu massif. Sebut saja buku yang ditulis oleh Geoff Hollister (2008) dalam “Out of Nowhere: The Inside Story of How Nike Marketed The Culture of Running”, dimana Ia menggambarkan pengalaman hidupnya sebagai anak desa yang bekerja di perusahaan Nike dan menjadi saksi hidup produk ini hingga menjadi perusahaan olahraga paling berpengaruh di dunia. Selain itu, buku ini juga menceritakan mengenai perlombaan-perlombaan lari di dunia, dan kehebatan produk Nike sebagai pencetak sepatu lari (running shoes) terbaik. Hal lain juga penggunaan para bintang televisi, guna mempromosikan produk sepatu lari milik Nike, seperti Kim Kardashian, Kanye West, dan Drake. Sehingga, Nike sebagai salah satu produk olahraga yang berpengaruh, akan senantiasa menampilkan diri sebagai sebuah institusi diskursif, yang siap untuk mengoperasikan wacana dalam tiap sendi kehidupan manusia, tidak terkecuali dalam komunitas para pelari, olahragawan, hingga para pemirsanya (mungkin juga anda atau saya).

Dalam pembahasannya mengenai diskursus, Mark Bracher dengan mengutip Lacan merumuskan empat struktur dasar diskursus, yaitu (1) mendidik / mengindoktrinasi; (2) mengatur / memberi; (3) menghasrati/memprotes; (4) menganalisis / mentransformasikan / merevolusikan (Bracher, 2009: 79). Masing-masing elemen memiliki bentuk diskursusnya sendiri. Lacan kemudian menempat posisi diskursus sebagai berikut :

Peran produk running shoes milik Nike, sebagai salah satu penggerak dari budaya lari yang pop ini, memposisikannya sebagai bentuk diskursus Sang Penguasa (Master’s Discourse). Lacan sebenarnya memiliki model diskursus lain selain diskursus sang penguasa, macam diskursus itu adalah: Diskursus Universitas (University Discourse); Diskursus Sang Histeris (Hysteric’s Discourse); dan Diskursus Penganalisis (Analyst’s Discourse). Lalu mengapa penulis menempatkan Nike ke dalam model diskursus Sang Penguasa? Dalam model diskursus ini Lacan memetakan posisi S1 sebagai pelaku yang mendeterminasi pengetahuan (S2) sesuai kehendaknya dan mempertahankan agar fantasi subjek tetap berada di dalam represifitas penandaan utama ($<>a).

Seperti yang ditunjukkan oleh Lacan mengenai diskursus sang penguasa, Nike menempati posisi S1 dan tampil sebagai promotor olahraga yang merepresi subjek ($). Objek hasrat pun yang direpresentasikan melalui a berada dalam bayang-bayang Sistem Pengetahuan, sehingga apa yang menghasrati subjek, tidak akan terlepas dari sistem pengetahuan yang dibangun oleh Pendanda Utamanya. Sebagai contoh, pelari yang mengikuti pelbagai event lari, Ia tergerak untuk melihat sebuah Sistem Pengetahuan yang sudah direka sedemikian rupa, sehingga subjek dihasrati untuk berlari menggunakan sepatu.

Oleh karena Nike menempati posisi S1 yang mendominasi Sistem Pengetahuan, maka Ia akan secara terus-menerus menghadirkan objek hasrat si subjek dengan produk miliknya, sehingga subjek terdorong hasrat narsistiknya untuk tidak hanya sekedar mengidentifikasi dirinya dengan objek hasratnya, sekaligus hasrat anaklitik untuk memilikinya. Melalui ini, sebuah upaya dalam diskursus untuk membentuk sebuah ‘nilai ideal’ untuk sebuah pelari, adalah dengan menggunakan sepatu dengan merk tertentu. ‘Ya, saya berlari karena bersepatu Nike’

Keadaan ambiguitas ini terus berlangsung dalam kegelisahan subjek dalam upaya identifikasi diri. Namun demikian, paradoksnya: justru ketidakmungkinan untuk benar-benar ‘sesuai’ lah yang menjadi prakondisi utama bagi subjek untuk melakukan proses identifikasi diri terus-menerus – tak kenal lelah mencari jati diri… yang belum tentu ada (Polimpung, 2014: 54). Kegamangan sang subjek atau pelari dalam usaha pencarian atas kekurangannya (lack), kemudian dinetralkan oleh symptom sebagai sebuah realitas normal, mengunci yang Riil, sehingga seolah-olah menjadi sebuah keutuhan diri. Artinya, subjek pelari tidak pernah mengetahui bahwa sumber fantasinya merupakan manifestasi dari kuasa Penanda Utama yang dalam hal ini adalah Nike atau bahkan Ideologi konsumerisme itu sendiri.

Akhir Sebuah Pencarian

Mungkin seperti itulah secuil sajian operasi ideologi melalui rezim diskursus a la Lacanian. Pencarian akan ‘nilai ideal’ seakan menjadi sebuah kesia-siaan belaka, ditengah gencarnya ruang simbolik merepresi subjek dengan serangan ideologi. Olahraga telah menjadi sebuah mitos dan semakin mantap dengan ideologi konsumerismenya. Kemunculan ideologi konsumerisme ini kemudian menjadi sebuah keniscayaan akan tumbuh suburnya subjek-subjek penuh hasrat, yang secara membabi buta memainkan perannya untuk semakin memperkuat cengkraman ideologi melalui produk-produknya.

Tentulah hal ini menjadi sebuah bahan perenungan kita bersama mengenai ‘Bagaimana kita menjalani hidup ini?’. Mungkin benar pula apa yang dikatakan Michel Foucault bahwa mungkin tujuan kita hari ini bukanlah untuk mencari apakah kita ini, tapi untuk menolak apakah kita ini (Foucault dalam Dreyfus and Rabinow, 1991: 216) . Upaya ini mungkin akan berhasil untuk melawan segala objek cinta akibat hasrat narsistik pada diri kita. Namun, apakah hal ini bisa benar-benar dilakukan?


DAFTAR PUSTAKA

Boyles, Raymond and Richard Haynes. 2009. Power Play: Sport, Media, and Popular Culture. Edinburgh: Edinburgh University Press

Bracher, Mark. 2009. Jacques Lacan, Diskursus, dan Perubahan Sosial. (trj.Gunawan Admiranto). Yogyakarta: Jalasutra

Dreyfus, Hubert L and Pau Rabinow. Michel Foucault: Beyond Structuralism and Hermeneutics. Chicago: The University of Chicago Press

Hollister, Geoff. 2008. Out of Nowhere: The Inside Story of How Nike Marketed The Culture Running. Maidenhead: Meyer & Meyer Sport, Ltd.

Lacan, Jacques. 1975-76. The Seminar of Jacques Lacan, Book XXIII. Sinthome. (trj. Luke Thurston). Diterbitkan di Ornicar, 6-11 (1976-1977)

Lacan, Jacques. 1998. The Seminar of Jacques Lacan, Book XX. Encore 1972-1973. (trj. Bruce Fink). New York: W.W. Norton & Company, Inc

Wise, J. Macgregor. 2008. Cultural Globalization. Oxford: Blackwell Pubishing

Žižek, Slavoj. 2013. The Pervert’s Guide to Ideology. New York: Zeitgeist Films [Film Dokumenter].

 

 

back to top