Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Malala, Pejuang Remaja Muslim untuk Pendidikan Perempuan di Dunia

Malala, Pejuang Remaja Muslim untuk Pendidikan Perempuan di Dunia

KoPi| Pada dinding facebook, Bill Gates menuliskan penyataan bahwa betapa kita beruntung memiliki Malala, seorang remaja perempuan yang bersemangat untuk perjuangan advokasi perempuan dan anak-anak perempuan. Siapa Malala yang disebut oleh Bill Gates ini?

Malala Yousafzai adalah seorang remaja aktivis pendidikan, saat ini berusia 18 tahun dari kota Mingora di Distrik Swat, Propinsi Khyber Pakhtunkhwa atau Propinsi Perbatasan Barat Laut, Pakistan. Dia dikenal sebagai pejuang untuk pendidikan dan hak-hak perempuan di Lembah Swat, di mana Taliban melarang gadis bersekolah. Seperti mayoritas orang Pakistan, Malala adalah penganut agama Islam Sunni.

Malala pertama kali menjadi perhatian publik secara lebih luas pada awal tahun 2009 saat Malala (12 tahun) dengan nama samaran menulis di blognya untuk BBC Urdu, menceritakan secara detil tentang betapa mengerikannya hidup di bawah pemerintahan Taliban, upaya mereka untuk menguasai lembah, dan pandangannya dalam memperjuangkan pendidikan untuk anak perempuan.

Ketika dia ditembak di kepala dan lehernya pada Oktober 2012 oleh seorang pria Taliban bersenjata, dia sudah terkenal di Pakistan. Namun dengan kejadian penembakan tersebut, Malala menjadi pusat perhatian internasional. Penembakan tersebut juga melukai dua teman sekolahnya.

Dalam buku yang dia tulis bersama Christina Lamb, seorang jurnalis senior Inggris yang sering menulis tentang Pakistan dan Afghanistan, berjudul I Am Malala: The Girl Who Stood Up for Education and Was Shot by the Taliban (2013), Malala menceritakan bahwa pada tanggal 9 Oktober 2012, sebuah truk yang dimodifikasi sebagai bus Sekolah “Khushal”, sekolah milik ayah Malala di kota Mingora, sedang membawa sejumlah murid perempuan pulang dari sekolah mereka, salah satunya adalah Malala. Tiba-tiba  sekolah itu dihadang oleh dua laki-laki muda bersenjata dari Taliban. Salah satunya menaiki belakang truk itu, lalu bertanya, “Yang mana Malala?” Itulah pertanyaan yang sempat didengar oleh Malala, sebelum dia kehilangan kesadaran. Pemuda Taliban itu menembaknya dua kali, tembakan pertama menuju ke kepala di dekat mata kirinya, dan yang kedua menuju ke lehernya. Malala seketika itu langsung roboh bermandikan darah.

Malala ditembak karena bagi Taliban meskipun Malala berusia 15 tahun, dia seorang anak perempuan yang berani menentang Taliban yang melarang anak-anak perempuan bersekolah. Saat itu Taliban dipimpin oleh Maulana Fazlullah yang menguasai Lembah Swat.

Setelah dioperasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di kepalanya dan beberapa hari dirawat di sebuah rumah sakit militer di Peshawar, Pakistan, Malala diterbangkan ke Inggris, untuk menjalani operasi dan perawatan intensif di Rumah Sakit Queen Elizabeth, Birmingham. Sekitar 6 bulan Malala harus berada di rumah sakit itu untuk menjalani beberapa kali operasi termasuk bedah syaraf di wajah Malala, agar wajahnya bisa dikembalikan sesempurna mungkin dan perawatan pemulihan.

Pimpinan Taliban Pakistan, Adnan Rasheed, mengirim surat kepada Malala, menjelaskan bahwa dia hendak dibunuh bukan karena sebagai seorang penggiat pendidikan anak perempuan, tetapi karena sikapnya yang terlalu kritis terhadap Taliban. Rasheed menawarkan agar Malala mau kembali ke Pakistan untuk melanjutkan sekolahnya dengan aman, dengan syarat patuh terhadap aturan-aturan yang telah ditetapkan Taliban, antara lain kewajiban memakai burqa (pakaian yang menutup seluruh tubuh disertai cadar penutup muka).

Surat tersebut tidak dijawab oleh Malala karena bagi dia haknya untuk bersekolah tidak tergantung oleh Taliban. Baginya sebagai seorang manusia ciptaan Allah, dia berhak bersekolah.

Malala kemudian melanjutkan sekolahnya di Birmingham, Inggris dan tinggal di sebuah rumah yang disediakan oleh pemerintah Inggris bekerja sama dengan pemerintah Pakistan.

Pada tanggal 12 Juli 2013, bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang keenam belas, Malala berpidato di Forum Majelis Kaum Muda di Markas Besar PBB, di New York, Amerika Serikat. Dia berbicara mengenai hak-hak (anak) perempuan untuk bersekolah serta perlawanan terhadap terorisme dan kebodohan. Salah satu kalimatnya yang terkenal adalah “satu anak, satu guru, satu buku, dan satu pena bisa mengubah dunia.” 

Setelah Malala selesai berpidato, semua orang, termasuk Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon melakukan standing ovation (sambutan dengan tepuk tangan sambil berdiri) untuk Malala. PBB menetapkan tanggal 12 Juli sebagai “Hari Malala” untuk memperingati hari hak-hak perempuan memperoleh pendidikan yang sama dengan siapa pun.

Penghargaan-penghargaan dari seluruh dunia seperti dari Amerika Serikat, India, Prancis, Spanyol, Italia, dan Australia menyambut perjuangan Malala. Bahkan Panitia Nobel di Norwegia, pada Jumat, 10 Oktober 2014 mengumumkan Malala bersama dengan pejuang hak-hak asasi anak-anak asal India, Kailash Satyarthi (61 tahun) meraih penghargaan nobel perdamaian 2014. Malala menjadi peraih nobel perdamaian termuda sepanjang sejarah.

Sayang, meskipun Malala mendapat berbagai penghargaan dari dunia internasional, dari negerinya sendiri lewat media sosial twitter dan facebook, masyarakat Pakistan banyak yang malah menghujatnya. Mereka menuduhnya bicara di PBB karena “nafsu remaja untuk menjadi terkenal.” Salah seorang warga Pakistan berkata: “Lupakan citra negaramu, lupakan soal sekolah. Pada akhirnya, dia akan mendapatkan apa yang diburunya, kehidupan mewah di luar negeri.”

Malala menanggapi hujatan tersebut di dalam bukunya dengan mengatakan bahwa dia mengerti kenapa sampai rakyat Pakistan banyak yang bersikap sinis kepadanya. Hal tersebut tidak lepas hubungannya dengan pandangan mereka yang selama ini melihat para pemimpin dan politisi di negerinya mengucapkan janji-janji yang tidak pernah mereka tepati.

“Segalanya di Pakistan malah semakin memburuk setiap hari. Serangan teroris yang tiada habis-habisnya telah membuat seluruh negeri terguncang. Orang-orang kehilangan kepercayaan terhadap satu sama lain. Namun, aku ingin semua orang tahu kalau aku menginginkan dukungan untuk diriku sendiri, aku menginginkan dukungan itu untuk tujuanku, yaitu perdamaian dan pendidikan.”

Saat ini Malala telah mendirikan yayasan kemanusiaan bernama Malala Fund, untuk membantu anak-anak yang menderita karena diperlakukan tidak adil, dirampas hak-hak asasinya, korban peperangan, dan sebagainya. Bersama yayasannya itu Malala sudah mengunjungi beberapa negara yang terdapat banyak anak-anak tidak bisa sekolah karena berbagai faktor, antara lain Nigeria dan Yordania (Azraq, kamp pengungsi Suriah).

Atas keberanian dan segala perjuangannya, media di Pakistan  menjuluki Malala dengan sebutan "tara jenai", "gadis bersinar cemerlang", dan "pakha jenai", "bijak melampaui usia." |Sanubari Bangsa - UR Sari|

back to top