Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Makan seafood di restoran mahal jauh lebih sehat

Pelanggan memilih menu di sebuah restoran live seafood Pelanggan memilih menu di sebuah restoran live seafood
Surabaya – KoPi. Suka makan seafood? Meski enak, lebih baik mulai batasi konsumsi seafood seperti kerang, cumi, kepiting, dan ikan laut lainnya. Pasalnya ikan laut hasil tangkapan nelayan bisa dipastikan sudah terindikasi tercemar logam berat. Hal ini tak lain merupakan dari akibat dari banyaknya sungai yang tercemar limbah pabrik.
 

Pakar lingkungan Universitas Airlangga (UNAIR) Prof. Agoes Soegianto mengatakan, seluruh ikan yang ada di pesisir Pulau Jawa sudah tercemar lo9gam berat. Logam tersebut berasal dari pabrik-pabrik nakal yang membuang limbah yang belum diolah langsung ke dalam sungai. Akibatnya, kandungan logam berat pada limbah tersebut bermuara ke pantai dan laut di pesisir Pulau Jawa dan masuk ke dalam organisme laut yang ada.

“Di Pulau Jawa ini sudah tidak mungkin mencari ikan laut yang belum tercemar limbah dan polutan. Semua pencemaran dari sungai masuk ke pantai, di mana semua ikan tangkapan nelayan berkumpul,” tuturnya.

Namun, ada caranya agar ikan laut hasil tangkapan tersebut bisa bebas dari polutan. Caranya adalah memelihara mereka di air yang bersih setelah ditangkap. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Agoes, ikan tangkapan yang dipelihara di air bersih mampu memulihkan diri dari polutan yang ada di dalam tubuhnya.

“Kami mencoba menangkap ikan laut, lalu kami cemari dengan logam berat. Lalu kami coba pindahkan ke air bersih selama satu minggu. Setelah dianalisis ternyata kadar kandungan logamnya sudah menurun. Organ dalam ikan yang rusak karena tercemar logam berat kembali pulih,” ujarnya.

Agoes menyimpulkan, seafood yang disajikan di restoran-restoran seafood kelas atas lebih aman untuk dikonsumsi karena menggunakan teknik yang sama. Restoran tersebut umumnya menjaga ikan dan hasil laut tetap segar dan dalam keadaan hidup dengan memelihara mereka di dalam akuarium.

Sebaliknya, ikan hasil tangkapan nelayan tradisional atau yang dijual di pasar tradisional cenderung mengandung logam berbahaya karena tidak melewati proses tersebut. Biasanya nelayan tradisional tidak punya cara atau alat untuk mempertahankan agar ikan hasil tangkapan mereka tetap hidup hingga dibawa ke darat. Ketika dijual ke pasar tradisional atau pelelangan ikan, biasanya ikan-ikan tersebut sudah mati (meski masih segar). 

Agoes mengatakan, jika ikan sudah mati kadar logamnya tidak bisa dihilangkan dan akan terus mengendap di dalam daging. Makanya gaya hidup orang-orang yang mengkonsumsi ikan yang diambil hidup-hidup dari akuarium lebih sehat dibandingkan orang-orang yang biasa makan ikan tangkapan dari laut. 

“Yang kasihan adalah orang-orang yang tidak punya kemampuan untuk mengkonsumsi ikan-ikan seperti di restoran itu atau tidak punya pilihan selain mengkonsumsi ikan yang sudah tercemar. Misalnya para nelayan miskin. Mereka makan ikan yang sudah tercemar, lama-lama logam berat tertimbun di dalam tubuh, jadi lebih gampang terkena penyakit. Sudah miskin, sakit-sakitan, kan jadi semakin tidak sejahtera,” tukasnya.

Meski demikian, Agoes mengatakan masyarakat masih bisa memakan ikan walaupun mengandung logam berat. Yang penting adalah melihat kadar asupan harian dan berapa batas maksimal yang boleh dimakan. “Jangan sampai lebih dari batas asupan yang diperbolehkan sehari. Kalau lebih dari itu lama-lama logam beratnya akan terakumulasi, dan hasilnya hati ikut rusak, pankreas rusak. Efeknya bisa timbul necrosis atau kematian jaringan sel,” ujar Agoes.

Reporter: Amanullah Ginanjar Wicaksono

 

back to top