Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Makan seafood di restoran mahal jauh lebih sehat

Pelanggan memilih menu di sebuah restoran live seafood Pelanggan memilih menu di sebuah restoran live seafood
Surabaya – KoPi. Suka makan seafood? Meski enak, lebih baik mulai batasi konsumsi seafood seperti kerang, cumi, kepiting, dan ikan laut lainnya. Pasalnya ikan laut hasil tangkapan nelayan bisa dipastikan sudah terindikasi tercemar logam berat. Hal ini tak lain merupakan dari akibat dari banyaknya sungai yang tercemar limbah pabrik.
 

Pakar lingkungan Universitas Airlangga (UNAIR) Prof. Agoes Soegianto mengatakan, seluruh ikan yang ada di pesisir Pulau Jawa sudah tercemar lo9gam berat. Logam tersebut berasal dari pabrik-pabrik nakal yang membuang limbah yang belum diolah langsung ke dalam sungai. Akibatnya, kandungan logam berat pada limbah tersebut bermuara ke pantai dan laut di pesisir Pulau Jawa dan masuk ke dalam organisme laut yang ada.

“Di Pulau Jawa ini sudah tidak mungkin mencari ikan laut yang belum tercemar limbah dan polutan. Semua pencemaran dari sungai masuk ke pantai, di mana semua ikan tangkapan nelayan berkumpul,” tuturnya.

Namun, ada caranya agar ikan laut hasil tangkapan tersebut bisa bebas dari polutan. Caranya adalah memelihara mereka di air yang bersih setelah ditangkap. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Agoes, ikan tangkapan yang dipelihara di air bersih mampu memulihkan diri dari polutan yang ada di dalam tubuhnya.

“Kami mencoba menangkap ikan laut, lalu kami cemari dengan logam berat. Lalu kami coba pindahkan ke air bersih selama satu minggu. Setelah dianalisis ternyata kadar kandungan logamnya sudah menurun. Organ dalam ikan yang rusak karena tercemar logam berat kembali pulih,” ujarnya.

Agoes menyimpulkan, seafood yang disajikan di restoran-restoran seafood kelas atas lebih aman untuk dikonsumsi karena menggunakan teknik yang sama. Restoran tersebut umumnya menjaga ikan dan hasil laut tetap segar dan dalam keadaan hidup dengan memelihara mereka di dalam akuarium.

Sebaliknya, ikan hasil tangkapan nelayan tradisional atau yang dijual di pasar tradisional cenderung mengandung logam berbahaya karena tidak melewati proses tersebut. Biasanya nelayan tradisional tidak punya cara atau alat untuk mempertahankan agar ikan hasil tangkapan mereka tetap hidup hingga dibawa ke darat. Ketika dijual ke pasar tradisional atau pelelangan ikan, biasanya ikan-ikan tersebut sudah mati (meski masih segar). 

Agoes mengatakan, jika ikan sudah mati kadar logamnya tidak bisa dihilangkan dan akan terus mengendap di dalam daging. Makanya gaya hidup orang-orang yang mengkonsumsi ikan yang diambil hidup-hidup dari akuarium lebih sehat dibandingkan orang-orang yang biasa makan ikan tangkapan dari laut. 

“Yang kasihan adalah orang-orang yang tidak punya kemampuan untuk mengkonsumsi ikan-ikan seperti di restoran itu atau tidak punya pilihan selain mengkonsumsi ikan yang sudah tercemar. Misalnya para nelayan miskin. Mereka makan ikan yang sudah tercemar, lama-lama logam berat tertimbun di dalam tubuh, jadi lebih gampang terkena penyakit. Sudah miskin, sakit-sakitan, kan jadi semakin tidak sejahtera,” tukasnya.

Meski demikian, Agoes mengatakan masyarakat masih bisa memakan ikan walaupun mengandung logam berat. Yang penting adalah melihat kadar asupan harian dan berapa batas maksimal yang boleh dimakan. “Jangan sampai lebih dari batas asupan yang diperbolehkan sehari. Kalau lebih dari itu lama-lama logam beratnya akan terakumulasi, dan hasilnya hati ikut rusak, pankreas rusak. Efeknya bisa timbul necrosis atau kematian jaringan sel,” ujar Agoes.

Reporter: Amanullah Ginanjar Wicaksono

 

back to top