Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Mahasiswa berkhianat, mereka tercatat dalam sejarah buram

Mahasiswa berkhianat, mereka tercatat dalam sejarah buram
Rencana aksi mahasiswa melakukan protes besar-besaran terhadap kebijakan Jokowi yang tidak merakyat, tidak menjadi kenyataan. Tidak ada alasan yang jelas, mengapa mahasiswa menggagalkan aksi mereka ini dan meninggalkan jejak inkonsistensi dalam sebuah perjuangan. Beberapa petinggi BEM ketika dikonfirmasi melalui BBM bahkan tidak menanggapi. Tetapi, Sebelumnya, Presiden Jokowi (18/5) mengundang sejumlah ketua BEM SI makan malam bersama di Istana Merdeka. 
 
Tentu, dari sini, kita menjadi mahfum mengapa para petinggi mahasiswa ini membatalkan aksi yang sudah direncanakan. Ada yang bisa diraba dari pertemuan makan malam bersama Jokowi di Istana ini -bahwa tentu ada kompromi tertentu yang melemahkan aksi para calon pemimpi masa depan ini.
 
Sikap para BEM SI ini tentu menggerus hati dan bikin ngeri membayangkan masa depan bangsa kita. Mengingat bahwa bangsa ini bertumpu pada para pemudanya atau mahasiswa. Sikap yang oportunis, pragmatis, mudah dibeli akan menjadi preseden buruk bagi bangsa Indonesia. Terutama bila itu terjadi pada para pemuda atau mahasiswanya dan menjadi tradisi yang langgeng. Kita menjadi nanar melihat masa depan bangsa ini karena bakal dipimpin oleh orang-orang yang tidak memiliki sikap satria dan mudah dibeli. Bukankah itu bagian dari bibit yang disebut korupsi?
 
Tradisi perlawanan yang seharusnya ada di dalam para pemuda ketika melihat ketidakadilan, benar-benar hampir terkikis dari darah mahasiswa setelah era reformasi. Para mahasiswa ini, sudah tidak lagi bisa diharapkan menjadi garda depan dalam memperjuangkan nasib bangsa. Prioritas yang afdol dalam darah para mahasiswa seperti ini adalah oportunisme dan pragmatisme. Sebuah sikap yang membangun tradisi baru yang kontra reaksi dan kontra revolusioner khas mahasiswa. Orang-orang yang memuja pragmatisme tentu kesulitan dalam memahami arti atau nilai-nilai kehormatan.
 
Melihat kenyataan ini, Raul Capote, seorang agen ganda CIA dan Kuba pernah menjelaskan dalam sebuah wawancara, bahwa ada sebuah kepentingan besar dari kelompok kapatilisme untuk melemahkan sebuah bangsa, yaitu dengan mematikan tradisi perlawanan (oposisi) mahasiswa melalui hegemoni yang masif. Tradisi pragmatisme, oportunisme dan hedonisme dicangkokkan dalam darah para pemuda dan mahasiswa. Sehingga mereka abai dengan kondisi bangsa. Menganggap remeh hal-hal yang besar dan menjadikan besar yang remeh temeh. Posisi tertentu secara politis dalam organisasi hanya menjadi  bergaining position demi kepentingan kecil. Sikap pragmatisme juga membuat orang beripikir remeh dan pribadi. 
 
Belum cukup dengan itu, dan agar selaras dengan misi kapitalisme membentuk pasar, maka melalui sayap-sayap politik diciptakanlah regulasi atau kebijakan-kebijakan. Privatisasi pendidikan dan Permendikbud No 49 tentang pembatasan masa kuliah adalah salah satu buktinya dimana semua regulasi itu jelas mengarahkan mahasiswa berpikir pragmatis. Apa yang disampaikan Raul Capote terbukti dalam sikap para mahasiswa yang banyak disebut sebagai penghianat.
 
Peristiwa ini, tentang bagaimana sebagian para aktivis mahasiswa yang bersikap inkonsisten terhadap nilai-nilai perjuangan, tentu akan dicatat dalam sejarah buruk bangsa kita. Bahwa ada suatu masa dimana para mahasiswa Indonesia bersikap lemah dan oleh sebab itu bangsa lain mudah menguasai bangsa ini. Sejarah mencatat nama mereka sebagai komprador, orang-orang yang menjual bangsanya untuk asing. Mereka memulai dengan menghianati perjuangan para mahasiswa dan rakyat Indonesia. Makan malam bersama orang yang mereka tuntut dan kemudian pergi seolah tidak ada masalah lagi.
 
Tetapi di luar catatan suram itu, semoga masih ada para mahasiswa atau pemuda yang punya sikap dan kuat dan senantiasa berteriak "Selamatkan Bangsa ini" dan tidak mudah dibeli. Dari mereka ini, kita berharap masa depan bangsa kita menjadi lebih baik. Tentu saja, mereka harus bersatu dan tidak mudah dipecah oleh kepentingan kecil. Kita harus benar-benar menciptakan pemimpin bukan dari para mahasiswa yang mudah dibeli. Itu membahayakan bangsa Indonesia di masa depan.
 
back to top