Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

M. Nuh: Buat apa ada ujian yang tak menentukan kelulusan?

M. Nuh: Buat apa ada ujian yang tak menentukan kelulusan?
Surabaya – KoPi | Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh punya komentar sendiri mengenai sistem UN 2015. Nuh mengaku ia berpegang pada aliran di mana ujian sebagai penentu kelulusan.
 

“Entah lulusnya 100 %, entah tidak lulus 100 %, yang penting ujian. Saya belum pernah menemui ujian yang tidak menentukan kelulusan. Buat apa ujian seperti itu? Ujian hidup itu juga ada yang lulus ada yang tidak lulus,” kata Nuh pada wartawan (18/4).

Nuh mengatakan hal itu karena iaberanggapan manusia itu perlu mendapat reward. Baginya orang yang sudah bekerja harus dapat penghargaan. “Anak-anak kita suruh belajar, kita uji, lalu kita beri penghargaan. Apa penghargaannya? Kelulusan dan masuk ke perguruan tinggi. Penghargaan untuk sekolah juga ada, yaitu pemetaan,” ujarnya.

Mengenai efektif atau tidaknya penggunaan nilai UN sebagai syarat kelulusan tergantung pada desainnya. Saat ini pemerintah menggunakan desain UN tidak dipakai sebagai syarat kelulusan. Namun nilai UN akan dipakai sebagai pertimbangan untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi, pemetaan, dan intervensi kebijakan.

“Tapi kalau mau dijadikan pemetaan, yang jangan pakai U, tapi pakai P, jadi Pemetaan Nasional. Pemetaan tidak harus lewat sensus, bisa lewat perwakilan. Satu orang siswa merepresentasi 100 siswa misalnya. Jadi biaya tidak perlu habis banyak,” ungkapnya.

Apakah tidak digunakannya nilai UN sebagai syarat kelulusan sebagai cara untuk menghindari isu mengenai banyaknya anak Indonesia yang tidak lulus? “Loh yang tidak lulus itu berapa? Ada ribuan, tapi itu kan dari jutaan anak Indonesia. Secara persentase itu sangat kecil. Wajar saja jika ada anak bandel, tidak mau mendengarkan guru, lalu tidak lulus,” tukas Nuh.

Namun ia menyerahkan keputusan itu pada pemerintah saat ini. Ia berharap pemerintah tetap melakukan yang terbaik untuk anak Indonesia. “Saya sekarang berikan kepercayaan itu pada kementerian yang sekarang, tapi pesan kami tolong haknya anak tetap diperhatikan,” ucapnya.

 

back to top