Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Lumayanlah, UKT 2017 di PTN tidak naik, masih kisaran Rp 1-6 juta

Lumayanlah, UKT 2017 di PTN tidak naik, masih kisaran Rp 1-6 juta

Sleman-KoPi| "UKT 2017 tidak ada kenaikan," ujar Mohammad Nasir Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi pada jumpa pers di Graha Sabha Pratama UGM, Senin (30/1).

Mohammad Nasir menilai kenaikan UKT akan menjadi beban negara sehingga diputuskan tahun ini tidak ada kenaikan. Keputusan itu juga mendengarkan masukan dari protes mahasiswa ketika beberapa waktu lalu yang mempertanyakan soal UKT di kantor Kemenristekdikti.

"Kenaikan UKT ini akan menimbulkan gejolak masyarakat yang tinggi dan beberapa waktu lalu ada salah satu senat mahasiswa yang datang kekantor mempertanyakan UKT," jelasnya.

Menurut Moh Nasir, Kemenristekdikti sendiri menerapkan tarif 1-6 juta. Sementara untuk golongan masyarakat miskin dipertahankan dikisaran Rp. 1-2 juta.

"Tarif Rp 1-6 juta, namun untuk masyarakat miskin kita pertahankan di antara Rp 1-2 juta," katanya.

Mohammad Nasir mengatakan salah satu permasalahan saat ini adalah ketidakjujuran masyarakat yang masuk ke dalam golongan tarif 1-2 juta. Selama ini Kemenristekdikti sudah berusaha meminta masyarakat untuk mengisi data diri dengan benar, namun fakta di lapangan masih ditemukan mahasiswa atau masyarakat yang masuk ke dalam golongan itu. |Syidiq Syaiful Ardli|

back to top