Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Tukang becak di Pasar Kemiri

Tukang becak di Pasar Kemiri

Sasnadi adalah salah satu tukang becak yang ada di pasar tradisional Kemiri, ia sudah menekuni profesi ini lebih dari 10 tahun. Lelaki asal subang ini mempunyai 3 orang anak, 2 anaknya dan istrinya tinggal di kampung asalnya, sedangkan anaknnya yang satu lagi sudah menikah. Disini Sasnadi hanya hidup sendiri, ia tinggal bersama teman-temannya yang mengontrak tidak jauh dari pasar tempatnya bekerja.

Becak yang menemaninya mencari nafkah ini adalah miliknya sendiri.  Tiap harinya Sasnadi datang ke pasar dan mulai bekerja dari pukul 03.00 pagi sampai 18.00. Sekarang ini ia lebih sering mengangkut barang-barang pasar dengan jumlah yang banyak seperti kelapa, kentang, sayuran, kardus-kardus dan yang lainnya. Upah yang didapatnya dengan membawa barang seberat itu Rp. 10.000-Rp.15.000 sesuai banyaknya barang yang diangkutnya.  Tidak heran, becak miliknya ini sering rusak karena sering membawa barang yang melebihi kapasitas yang tidak seharusnya. Sasnadi pun sering membawa becaknya ke bengkel dan uang yang seharusnya ia kumpulkan itu terpakai untuk membetulkan becak miliknya.

Sasnadi tidak pernah mencari pekerjaan lain, selain menarik becak karena baginya semua pekerjaan sama saja, yang penting selalu berusaha, karena rezeki setiap orang sudah diatur sama yang diatas, begitu tuturnya.

Kendala yang Sasnadi alami saat ini adalah berkurangnya pendapatannya. Semua ini karena  sudah senakin banyaknya orang yang mempunyai kendaraan pribad, sehingga jasanya menjadi kurang diminati. Dan sekarang pun ia sering mengakut barang-barang berat dengan becaknya. Upah yang didapatnya pun sama saja dengan menumpangi orang sedangkan beratnya sangatlah jauh berbeda.
Kalau boleh memilih Sasnadi lebih memilih menarik penumpang dibanding mengakut barang tetapi apa boleh buat, jasanya lebih dibutuhkan untuk mengangkut barang. Untungnya jarak mengantarkan barang-barang ini tidaklah jauh karena masih berada di dalam pasar. Sasnadi pun punya langganan yang setiap harinya selalu memakai jasanya.

Perjalanannya saat menarik penumpang yang paling jauh ditempuh adalah Cinere, Sawangan dan Depok Dua. Ia mengenjot becaknya terus menerus tanpa istirahat karena ingin cepat mengantarkan penumpangnya. Ia mau mengantarkan penumpangnya karena upah yang didapatnya lumayan besar daripada ia hanya berdiam diri dipasar.

Saat Sasnadi sedang berdiam diri karena belum ada penumpang, ia melakukan aktifitas membaca Koran. Ia senang membaca karena ia tidak mau tertinggal berita-berita yang selalu berganti tiap harinya dan ia juga tidak mau menjadi orang yang tidak tahu apa-apa. Untuk itu di sela-sela waktunya bekerja Sasnadi menyempatkan waktunya untuk membaca.

Hujan adalah penghalang alam ketika ia mencari uang, karena saat hujan tiba orang-orang jarang keluar rumah apalagi datang ke pasar dan mengangkut barang pun tidak mungkin karena barangnya akan terkena air hujan dan basah. Pada saat seperti itu, Sasnadi hanya diam di rumahnya karena tidak ada yang dikerjakan.

Karena kurangnya pendapatannya, tukang becak ini selalu berusaha agar dapat mencukupi kebutuhannnya dan keluarganya dengan mencari kerja sampingan seperti menjadi kuli bangunan, kuli panggul dan mengecor jalanan. Selain untuk mencukupi kebutuhannya dan keluarganya, Sasnadi pun harus mempunyai uang lebih untuk pulang ke kampungnya agar bisa menemuni anak-anaknya dan istrinya. Setiap bulannya Sasnadi pulang menemuninya anak dan istrinya di kampung tetapi jika pendapatannya sedang menurun Sasnadi harus menunggu bulan depan untuk bertemu kangen dengan keluarganya. Belum lagi ia harus membayar uang keamanan tiap harinya, mau tidak mau Sasnadi harus membayarnya jika ingin mencari uang di pasar.

Sasnadi lebih milih bekerja disini daripada di kampungnya karena menurutnya sama saja, malah di kampung jasa menarik becaknya sangat kurang diminati, sekarang di kampung pun sudah menggunakan alat-alat modern untuk mengangkut barang dan orang-orang disana pun sekarang sudah banyak yang mempunyai kendaraan pribadi.

Saat ini Sasnadi hanya mensyukuri apa yang ia dapat setiap harinya, ia selalu berusaha agar dapat mencukupi semua kebutuhannya disini dan kebutuhan anak istrinya. Ia tidak pernah menyesali keadaannya sulit yang diterima karena Sasnadi percaya bahwa Tuhan-Nya pasti mempunyai rencana yang baik untuknya.

back to top