Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

Kurang dari 50 tahun ke depan manusia akan mudah sakit dan sulit sembuh

Kurang dari 50 tahun ke depan manusia akan mudah sakit dan sulit sembuh

Sleman-KoPi| Pada tahun 2050 manusia akan resisten terhadap obat antibiotik dan tidak ada obat mampu menyembuhkan penyakit. Demikian dokter-dokter dari Fakultas Kedokteran Gajah Mada Yogyakarta mengatakan, 1 Februari 2017.

Menurut dr. Tri Wibawa, PhD,.SpMK, kurang dari 50 tahun ke depan manusia kebal terhadap obat-obatan dan membuat penyakit sulit disembuhkan. Hal ini akan terjadi di seluruh dunia.

Resistensi terhadap antimikroba atau antibiotik akan menjadi masalah kesehatan dunia, sehingga diprediksi pada tahun 2050 angka kematian mencapai 4,7 juta per tahun yang berhubungan dengan resistensi mikroba di Asia.

"Prediksi tahun 2050, pada saat resistensi antibiotik tinggi,kematian karena tidak adanya obat untuk mengobati penyakit infeksi akan meningkat, Asia salah satu yang tertinggi kematian nya," jelas Tri Wibawa.

Tri Wibawa juga menjelaskan seingnya manusia memakan antibiotik akan membuat tubuh resistensi terhadap obat-obatan. Bakteri yang diberikan antibiotik akan berubah. Perubahan ini menurutnya ada dua kemungkinan, pertama bakteri akan mati karena antibioti atau hidup.

Karena menurutnya resiko adanya bakteri yang tahan pada antibiotik memang ada. Semakin sering tubuh diberikan antibiotik maka semakin besar peluang tubuh akan resistens pada antibiotik.

"Semakin sering kita pakai antibiotik,semakin cepat terjadi nya resistensi antibiotik," katanya.

Sementara itu dr. Egi Arguni, SpA, Ph.D mengatakan mudahnya masyarakat membeli antibiotik di beberapa apotik dan toko obat adalah salah satu penyebab. Padahal, menurut Egi untuk pemberian obat antibiotik seharusnya berdasarkan resep dokter.

"Mereka yang mendapat akses langsung untuk mendapatkan antibiotik tanpa resep obat membuat konsumsi obat antibiotik menjadi tidak terkontrol," kata dr. Egi Arguni.

Faktor lain adalah tenaga kesehatan sendiri yang membuat kesalahan memberi resep karena ketidakpastian diagnosis, kurangnya pengetahuan, insentif. Dan dari pemberi layanan obat adalah kurangnya aturan penjualan antibiotik hingga motiv pencarian profit.

dr.Egi Arguni ,SpA,PhD menghimbau masyarakat agar bijak dalam menggunakan antibiotik. Menimbang perlu tidak obat ini diperlukan untuk penyembuhan adalah sangat penting. Sementara untuk tenaga kesehatan agar tidak menjual bebas obat antibiotik. |Syidiq Syaiful Ardli|

back to top