Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

”KOTAKUKOTAKITA” Surabaya dalam proyeksi seni visual

”KOTAKUKOTAKITA” Surabaya dalam proyeksi seni visual

(Surabaya, 4 Mei 2017) Dengan keinginan mendorong generasi muda untuk lebih mengenal kota Surabaya, serta memicu kreatifitas mahasiswa untuk meghasilkan sebuah karya yang memberi manfaat, dan diapresiasi oleh masyarakat luas, House of Sampoerna (HoS) dan DKV UK Petra kembali bekerjasama menggelar pameran Seni Visual yang bertajuk “KOTAKUKOTAKITA” yang diselenggarakan di Galeri HoS mulai tanggal 5 Mei hingga 3 Juni 2017 mendatang.

Pameran yang juga diselenggarakan sebagai respon dari civitas akademika untuk kota Surabaya yang memperingati hari jadi yang ke-724, serta sebagai ungkapan rasa syukur dan kecintaan pada kota Surabaya, dosen dan mahasiswa UK Petra menghadirkan 30 karya seni visual meliputi lukis, grafis, ilustrasi, instalasi, video, dsb, yang menggambarkan dinamika kota Surabaya yang memberi ruang kepada semua warganya untuk berkontribusi dan kemajuan kotanya.

Topik yang diangkat dapat dibagi menjadi beberapa kelompok subtema: Ragam
Permasalahan Kota, Impresi & Apresiasi Warga Surabaya, Kondisi Masyarakat, serta Yang Tak Terpantau, yang kesemuanya dikemas secara apik dan unik.

Bisa dilihat dari karya “SUBO” dari Aristarchus Pranayama (mahasiswa) yang menginterpretasikan ulang legenda Surabaya, dua entitas "Sura" dan "Baya", sebagai simbol penyatuan menuju kebhinekaan dan harapan akan Surabaya dimasa mendatang.

Sedangkan Andrian Dektisa Hagijanto (dosen atau mahasiswa? Sebutkan juga untuk yang lainnya) menampilkan karya digital imaging berjudul “Semanggi Suroboyo” makanan khas Surabaya. Berbeda dengan dua temannya Daniel Kurniawan memilih tema “Distorted Surabaya” untuk menampilkan dinamika Surabaya.

Tak kalah menarik, karya Kolaborasi dari Cindy Muljosumarto – Hartaman Satrio dengan judul “KOTAKITA” menampilkan transformasi Surabaya menuju kotakotak /ko·tak-ko·tak/ metropolis modern yang berbaur dengan ikon-ikon kota Surabaya yang digambarkan melalui karya instalasi interaktif dari barang bekas berbentuk dasar kotak yang dapat ditemui di keseharian.

Karya-karya yang ditampilkan bukan sekedar materi pameran, namun merupakan tugas kuliah mahasiswa, obyek penelitian para dosen, bahkan sebagian merupakan program pengabdian kepada masyarakat sebagaimana karya “Keber PKL: A Creative Contribution to Surabaya (Service Learning Mata Kuliah Tipografi 2)” yang dikerjakan oleh Maria Nala Damajanti, Elisabeth Christine Yuwono, Ferry Harjanto, Pauline Yosephine.

“Penyelenggaraan pameran KOTAKUKOTAKITA ini diharapkan bisa menjadi wujud ekspresi, apresiasi dan kebanggaan kami atas kota Surabaya, tetapi juga sebagai kritik, maupun doa agar Surabaya terus bertumbuh, terutama dalam membangun masyarakat dengan karakteristik yang unik melalui seni dan budaya”, ujar Rebecca Milka Koordinator pameran.

back to top