Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

KontraS protes tindakan hukum pada Asiyani

KontraS protes tindakan hukum pada Asiyani
Surabaya – KoPi | Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) merespon proses peradilan yang dilakukan Perhutani pada nenek Asiyani. KontraS mencurigai kasus tersebut penuh dengan rekayasa dan kecurangan. KontraS menganggap penghukuman pada Asiyani dengan bukti yang tidak memadai merupakan hal yang tidak manusiawi dan melanggar HAM.
 

“Karena itu kami mendesak pengadilan bisa membebaskan nenek Asiyani. Terlihat banyak kejanggalan dalam proses penyidikan perkara tersebut,” ujar Koordinator KontraS Surabaya Fatkhul Khoir.

Beberapa bukti yang KontraS anggap dibuat-buat antara lain pohon jati yang dihadirkan dalam sidang. Menurut Fatkhul, ketika ditangkap pihak kepolisian, pohon jati yang disita dari rumah Asiyani sudah dipotong-potong karena akan dijadikan tempat tidur. Namun ketika dihadirkan dalam persidangan, pohon jati yang dihadirkan adalah yang masih utuh. Selain itu, jumlah pohon jati yang dihadirkan berjumlah 38, padahal dari rumah Asiyani polisi hanya menyita tujuh pohon. 

KontraS Surabaya sendiri masih memantau perkembangan kasus tersebut, karena kasus tersebut mencuat setelah masuk ke proses persidangan. Fatkhul mengatakan belum ada tim yang dikirim ke Situbondo untuk memantau.

Kasus ini menambah daftar kasus kriminalisasi terhadap petani di Indonesia. Sebelumnya KontraS Surabaya juga memberikan bantuan hukum kepada petani di Banyuwangi terkait kriminalisasi yang dilakukan oleh PT Wongsorejo. Berdasarkan data KontraS, hingga saat ini ada 11 kasus yang menjerat petani yang diduga hasil rekayasa aparat penegak hukum.

back to top