Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Konseling untuk pelaku pelecehan seksual di UGM

Konseling untuk pelaku pelecehan seksual di UGM

Jogja-KoPiRifka Annisa Women Crisis Center masih memberikan konseling terhadap EH, dosen Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Gadjah Mada yang melakukan pelecehan seksual terhadap mahasiswinya.



Kasus EH bukan merupakan kasus pertama dann satu-satunya yang melibatkan profesi, pengajar, atau staf dilingkungan pendidikan. Setidaknya Rifka Annisa Women Crisi Center pernah mendampingi 214 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan oleh oknum profesi dosen, guru, maupun staf akademik.

“Jenis kasus ini meliputi 146 kasus kekerasan terhadap istri, 22 kasus kekerasan dalam pacaran, 6 kasus kekerasan dalam keluarga, serta 32 kasus diantaranya adalah kasus pelecehan seksual dan 8 kasus pemerkosaan,” ungkap Suharti, Direktur Rifka Annisa Women Crisis Center.

Upaya yang dilakukan Rifka Annisa dalam menangani kasus pelecehan yang dilakukan oleh profesi, pengajar, atau staf dilingkungan pendidikan adalah dengan memberikan konseling pada pelaku termasuk EH. Konseling ini bukan dalam rangka mempengaruhi, menghindarkan atau meringankan pelaku dari proses hukum yang sedang dijalani.
“Konseling bagi pelaku bertujuan untuk mendorong pelaku bertanggung jawab terhadap perbuatan yang dilakukannya,” jelas Suharti.

Konseling yang diberikan Rifka Annisa terhadap EH telah berlangsung dari Januari 2016 atas permintaaan dari UGM. Sementara untuk detail konseling dan kasus yang dihadapi oleh EH, Suharti enggan meberikan penjelasan karena hal ini menyangkut kode etik dari Rifka Annisa sendiri.

Rifka Annisa mengapreasi atas hukuman yang diberikan UGM kepada EH, mengingat instrumen hukum kurang melndungi perempuan. Menurut Suharti, tindakan yang diambil oleh kampus dapat menjadi pelajaran agar tidak diulangi oleh yang lainnya. “Kami mendorong mahasiswa untuk berbicara dalam mengungkapkan kasusnya dan mendorong adanya menkanisme penanganan kekerasan perempuan di lingkungan kampus”, tambahnya.

Kasus pelecehan dilakukan EH

EH merupakan salah satu dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada. Pelecehan seksual ini bermula ketika korban (mahasiswi) meminta bantuan konsultasi kepada EH soal tugas presentasi kuliah pada April 2015, EH menyanggupi permintaan tersebut. Seusai bimbingan kuliah tersebut EH menceritakan kepada korban bahwa ia mendapatkan proyek dan meminta korban membantunya.

“April 2015 itu, dia (EH) menawari membantu proyeknya. Membantu me-resume penulisan jurnal gitu”, kata korban (dilansir dari kompas.com)

Sebelumnya korban mengenal EH sebagai sosok pengajar yang baik, ramah, dan berkarisma. Dalam proses pengerjaan tersebut EH beberapa kali mengajak korban bertemu pada saat malam hari antara pukul 19.00-21.30 WIB. Dan pada suatu ketika EH mengajak korban bertemu di suatu pusat studi di UGM. EH menunjukka sebuah rak buku yang akan digunakan korban untuk mengerjakan proyek. Korban kemudian berdiri dan tiba-tiba EH memluk korban dari samping sambil menjelaskan.

Korban sempat melindungi dirinya dengan tangan. “Kaget, takut, saya berusaha melindungi diri saya dengan menggunakan tangan”, jelas korban.

Seusai apa yang telah dilakukan EH kepada korban, korban sempat bertemu dengan EH beberapa kali. Namun, EH tidak meminta maaf dan bersikap biasa saja. Korban merasa ragu untuk mengungkit apa yang telah dilakukan EH. Ia memilih menceritakan hal tersebut kepada temannya, dan temannya menyarankannya untuk melaporkan hal tersebut..

Pada tahun 2016 korban menghubungi seseorang perwakilan dari kampus dan menyatakan kesediaanya untuk meneylesaikan kasusnya. Fisipol telah memberika sanksi kepada EH dengan membebastugaskan EH sebagai pembimbing skripsi dan tesis dan mewajibkan EH mengikuti konseling dengan Rifka Annisa Women’s Crisis Center.

 

back to top