Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Konflik Rohingya, pemerintah Indonesia harus lakukan advokasi

Konflik Rohingya, pemerintah Indonesia  harus lakukan advokasi
Surabaya - KoPi | Seorang biksu Buddha Myanmar, Ashin Wirathu, merupakan dalang atas penyerangan Muslim Rohingya di Myanmar. Adanya konflik etnis yang dilakukan warga Myanmar dan kelompok radikal Buddha merupakan kekhawatiran berkembangnya Islam di Myanmar. Akibatnya warga Rohingya terusir dan kini meminta pertolongan negara lain.

Aceh menjadi tempat di mana lebih dari 1000 pengungsi Rohingya bersandar. Ketika warga Rohinya ditolak oleh angkatan laut Indonesia dan Malaysia, para nelayan Aceh justru berbondong-bondong menolong mereka.

Menurut Syuhel Maidi Syukur, Presiden Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya (KSNR), keterlibatan warga Indonesia membantu Muslim Rohingya dilakukan sejak tahun 2012 lewat bantuan lembaga sosial ACT (Aksi Cepat Tanggap). Bantuan masyarakat tersebut digunakan untuk membangun shelter layak huni bagi pengungsi Rohingya, pangan, dan bantuan kesehatan.

“Saat ini yang dibutuhkan pengungsi Rohingya di Aceh atau yang masih berada di laut adalah bantuan pangan, sandang, dan tempat tinggal. Namun, yang lebih dibutuhkan mereka adalah diplomasi negara-negara dunia terhadap Myanmar. Diplomasi itu untuk mendesak Myanmar agar segera menyelesaikan konflik sehingga warga Rohingya akan kembali merasa aman,” ujar Syukur saat dihubungi KoPi.

Syukur menilai bahwa konflik kemanusiaan ini akan terus terjadi jika pemerintah Myanmar tetap bungkam. “Masih ada ratusan ribu penduduk Rohingya yang terancam di Myanmar, maka Indonesia harus bergerak untuk mendesak Myanmar segera menyelesaikan konflik tersebut,” ujar Syukur.

Indonesia merupakan negara yang memiliki peran strategis di ASEAN. Peran Indonesia dalam beberapa proyek pembangunan di Myanmar merupakan bentuk kedekatan diplomasi antara kedua negara. Kedekatan tersebut harus dimanfaatkan pemerintah untuk menciptakan advokasi bagi Muslim Rohingnya disana.

“Isu Rohingya adalah isu kemanusiaan. Jika Indonesia terus menerus menampung pengungsi Rohingya, lama-alam pasti akan kewalahan. Hal yang perlu dilakukan adalah deklarasi perdamaian, sehingga warga Rohingya bisa kembali ke Myanmar dengan kebebasan beragama dan mendapatkan hak asasinya sebagai manusia,” ujarnya. | Labibah

back to top