Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Komnas HAM, Hari Tani Nasional Momen Kebangkitan Petani

Unjuk rasa mahasiswa di pertigaan UIN SuKa pada konflik petani Urut Sewu Unjuk rasa mahasiswa di pertigaan UIN SuKa pada konflik petani Urut Sewu

Jogjakarta-KoPi| Anggota Komnas HAM Dianto Bachriadi, Ph.D menilai pentingnya menjadikan Hari Tani Nasional sebagai hari kebangkitan petani. Hari Tani Nasional yang sebelumnya dikenal dengan hari lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria jatuh pada tanggal 24 September 1960. UU PA memiliki landasan cita-cita untuk mewujudkan kemakmuran petani sepadan dengan Hari Tani Naional.

Namun di masa paska-reformasi sekarang Dianto melihat praktek-praktek kebijakan petani saat ini tidak berlandaskan pada asas UU PA. Tercatat ada empat konflik besar terjadi seperti kasus petani Urut Sewu Kebumen, pembangunan bandara Kulonprogo, penambangan pasir besi Kulonprogo, dan semen Rembang. Contoh keempat kasus tersebut belum menemukan titik solusi yang memuaskan bagi para petani.

Dianto menambahkan ketidakselarasan antara UU PA dengan kondisi petani di lapangan, jauh sekali dari ketercapaian cita-cita lahirnya UU PA. Menurutnya UU PA penggodokan UU PA memakan waktu hampir 12 tahun yang digagas oleh Bung Karno.

“UU PA lahir pada tahun 1960. Pada pidatonya Bung Karno menjelaskan petani sebagai soko guru ekonomi. Petani diberi penghormatan. Undang-undang ini selama 12 tahun digodok, merupakan waktu yang lama membuat undang-undang, tidak seperti DPR sekarang yang cepat buat undang-undang,” jelas Dianto saat diskusi publik Hari Tani Nasional “Agraria dan Persoalannya” di Fakultas Hukum UGM pukul 11.00 WIB.

Pemberlakuan utuh UU PA akan menjadi solusi terbaik konflik petani saat ini, pasalnya dari semua undang-undang, UU PA yang paling populis.

“Menurut satu penelitian UU PA , satu-satunya yang populis membela kepada petani kecil. Tidak ada UU lain selain ini yang terbaik. Memuliakan orang kecil petani,” pungkas Dianto. |Winda Efanur FS|

back to top