Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

KMP juga ingin presiden dipilih MPR

KMP juga ingin presiden dipilih MPR
Jakarta-KoPi. Paska kekalahan dalam pilpres 2014, KMP (Koalisi Merah Putih) kumpulan para pendukung Prabowo Subianto juga ingin pemilihan presiden tidak lagi langsung namun oleh MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat).

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional Herman Kadir pemilihan presiden langsung itu memecah belah rakyat. Konflik politik pada agar rumput sering terjadi. Presiden menurutnya dipilih oleh parlemen saja (DPR).

"Kalau perlu, presiden dipilih kembali lewat MPR" ujarnya.

Menurut Novri Susan, pakar konflik politik dari Universitas Airlangga, pandangan mengembalikan pemilihan presiden melalui parlemen atau MPR merupakan siasat politik semata.

"Usulan tersebut bukan karena konflik di kalangan masyarakat meningkat. Sebab selama ini yang paling keras berkonflik adalah para elite. Gagasan tersebut hanya strategi politik agar mendapatkan kekuasaan."

Menurut Novri Susan, partai-partai dalam KMP selama ini sulit menang dalam pilpres secara langsung. Selain faktor tidak adanya kepemimpinan yang demokratis, miskin prestasi, dan kasus korupsi yang menjerat.

Menurut Novri, mengembalikan pemilihan presiden pada mekanisme DPR/MPR tidak akan menjawab esensi masalah bangsa. Pada masa Orde Baru, lanjutnya, mekanisme tersebut dilakukan untuk menyukseskan skenario pemilihan presiden yang bisa dikontrol oleh rejin Suharto.

Jika itu dilakukan sekarang, ini berarti ada kekuatan di balik itu yang merasa mampu mengontrol seperti halnya Suharto pada era Orde Baru.*

 

Reporter: E Hermawan

back to top