Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Keuntungan Dolly tak sebanding dengan dampak buruknya

Keuntungan Dolly tak sebanding dengan dampak buruknya
Surabaya KoPi - Isu penutupan Dolly terus bergulir, penutupan tinggal menghitung hari. Kelompok-kelompok yang merasa dirugikan terus merapatkan barisan, namun Walikota Surabaya tidak bergeming meski berbagai upaya kelompok kontra penutupan Dolly menyiapkan rencana bentrok dengan aparat pada hari H.

Pemerintah kota pada tanggal 18 Juni 2014 berencana menutup lokalisasi Dolly walaupun mendapat perlawanan dari beberapa kelompok yang terancam perekonomiannya jika penutupan itu tetap dilaksanakan. Namun Pemkot Surabaya tidak sendirian, sebenarnya di dalam gemerlap kehidupan Dolly yang tak pernah mati, banyak sekali warga yang mendapatkan dampak negatif berdirinya lokalisasi itu.

S, salah satu ketua RW di daerah Putat Jaya menuturkan bahwa sebenarnya Pemerintah Kota Surabaya telah memiliki itikad baik untuk memperhatikan nasib warga yang menggantungkan hidupnya dari aktivitas di Dolly. Maka, Risma selaku walikota melalui lurah setempat menginstruksikan untuk mendata warga-warga yang usahanya terkena dampak penutupan Dolly. Selain itu, bagi makelar PSK diberi opsi menjadi anggota Linmas di beberapa instansi di Pemerintah Kota Surabaya dengan bayaran sesuai UMK Kota Surabaya, namun menurutnya karena ada provokasi pihak tertentu dengan menjanjikan tawaran yang lebih besar sehingga membuat calo-calo tersebut enggan menyambut baik niatan baik itu. 

Selain itu, Lurah dan Dinas Sosial terah bekerjasama memfasilitasi dan memberikan jalan keluar serta memberikan berbagai pelatihan . misalnya saja memberikan kegiatan sesuai dengan minat PSK dan   memberikan modal usaha untuk bertahan hidup di kampung halamannya. Namun, sepengetahuannya para PSK yang sudah memasuki masa uzur ini lebih mampu mengembangkan usaha dibanding yang lebih muda, bisa saja kemudahan mendapatkan pemasukan yang lebih instant dan nominal yang lebih besar membuat PSK yang lebih muda ini enggan menggeluti usaha yag disediakan oleh Pemkot Surabaya.

Penolakan penutupan Dolly ini terasa aneh baginya karena kebanyakan warga yang berada di sekitaran Dolly tidak keberatan jika Dolly ditutup karena memang dampak negatif yang luar biasa sangat nyata dirasakan kebanyakan warga Putat Jaya dan sekitarnya.
“Berarti kan penolakan itu mengatasnamakan semua warga, saya kira hanya beberapa orang yang memiliki kepentingan. Tapi dari semua warga yang ada di daerah lokalisasi dan sekitarnya, mereka nerima aja” katanya.

Beberapa ajakan berdialog yang difasilitasi oleh Polrestabes pun tidak pernah disambut baik. Para undangan yang mayoritas germo dan PSK ini enggan untuk datang. Hal ini semakin jelas menggambarkan bahwa tidak adanya sambutan baik dari pihak germo dan PSK
Wajar saja dukungan mengalir kencang ke kubu Walikota Surabaya yang memiliki prestasi Internasional ini. Bagaimana tidak, keberadaan Dolly sudah menimbulkan permasalahan yag kompleks di daerahnya. Ibu dua orang anak ini menuturkan, bahwa image buruk yang melekat di daerah sekitar Dolly membuatnya gerah. Bagi warga sekitar dolly (warga wilayah jarak-putat jaya dan sekitarnya) seringkali merasa  tidak nyaman ketika pertanyaan diajukan terkait tempat tinggalnya, mereka pasti dihadapkan oleh penilaian buruk yang tidak bisa dihindari bahwa siapapun yang ada di daerah Dolly pasti berkaitan atau setidaknya akrab dengan lokalisasi tersebut dan dicap sebagai orang yang berperilaku buruk.

Selain itu, hal yang paling menyesakkan hatinya adalah masa depan anak-anak yang tumbuh di sekitar lokalisasi. Ia menyadari kemampuan anak-anak dalam menduplikasi perilaku orang dewasa sehingga dari kecil ini sangat berbahaya jika tiap hari dipertontonkan dengan gamblang aktivitas di lokalisasi tersebut. Apalagi saat ini marak kos-kosan yang menampung para pekerja PSK dan seringkali membawa lelaki yang diakuinya sebagai suami, padahal menurutnya bisa jadi di kos tersebut dijadikan transaksi esek-esek karena maklum kos-kosan tersebut tidak dijaga oleh empunya kos-kosan yang kebanyakan adalah tokoh masyarakat.

Perilaku penghuni kos yang bekerja sebagai PSK ini juga meresahkan, kebanyakan mereka saat aktivitas sehari-hari menggunakan busana yang kurang sopan, sehingga secara tidak langsung memberikan pengaruh negatif kepada anak-anak yang tinggal di daerah itu. Selain itu karena tidak ada penjagaan yang ketat dari pemilik kos-kosan, tingkat pencurian kendaraan bermotor meningkat karena pengurus RT-RW dan warga tidak bisa memonitor satu persatu penghuni kos karena memang tidak ada laporan dari pemilik kos terkait identitas atau informasi penghuni kos.

Ia merasakan betul perubahan atmosfer dalam bertetangga jika ia bandingkan dengan sebelum maraknya kos-kosan tersebut. Ia berpendapat saat ini solidaritas dan kerukunan warganya mengendur, karena memang seringkali teguran yang ditujukan pada tokoh masyarakat yang memiliki kos-kosan ini membuat mereka resisten dan menjadi persoalan pribadi.

Memang beberapa keuntungan bisa didapat, namun tidak sebanding dengan dampak buruknya. Ia menuturkan ada beberapa RT yang wilayahnya didirikan wisma mendapatkan pemasukan kas RT sekitar 7 juta dan untuk kas pribadi sekitar 4 juta. Di sisi lain, beberapa anak yang putus sekolah bisa terserap di beberapa pekerjaan informal di Dolly, seperti menjadi tukang parkir, calo dan lainnya. Namun menurutnya hal ini tetap tidak bisa dibenarkan dan tidak menjanjikan masa depan yang lebih baik.

“Semua orang memiliki hak untuk hidup, hak mendapat pendidikan dan pekerjaan namun bukan berarti menghalalkan cara-cara seperti ini” tutupnya.

Reporter: Nora T. Ayudha

back to top