Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Ketahanan gizi lebih penting daripada ketahanan pangan

Ketahanan gizi lebih penting daripada ketahanan pangan
Surabaya – KoPi | Ketahanan pangan Indonesia menjadi salah satu program jangka panjang Presiden Joko Widodo. Namun ketahanan pangan saja dianggap kurang mewakili apa yang menjadi kebutuhan masyarakat Indonesia. Konsep yang digali seharusnya adalah kecukupan gizi bagi masyarakat Indonesia.
 

Ahli gizi Prof. Bambang Wirjatmadi mengatakan, ketahanan gizi jauh lebih penting dicapai daripada sekedar ketahanan pangan. Selama ini masyarakat menilai ketahanan pangan adalah swasembada beras, padahal Indonesia tidak hanya butuh beras. Bahan pangan lain seperti jagung, ketela, ubi, bahkan termasuk lauk pauk juga perlu dipenuhi sendiri.

“Yang dimaksud ketahanan pangan kan sebenarnya adalah ketahanan pangan yang beranekaragam. Daripada kita bisa mencukupi kebutuhan beras sendiri, tapi lauk pauknya tetap harus impor, kan sama saja,” ujar Bambang. 

Permasalahan yang ada di Indonesia selama ini bukanlah kekurangan pangan, namun kekurangan gizi. Bisa jadi daerah tersebut punya pangan melimpah, namun gizinya tidak mencukupi.

“Gizi buruk bukan hanya karena masalah ketahanan pangan, tapi juga gizinya yang kurang. Biasanya sumber gizi yang kurang adalah protein. Di Indonesia tidak pernah terjadi kelaparan (famine), karena alamnya yang subur. Yang ada adalah kekurangan gizi,” terang Bambang.

 

back to top