Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Kepercayaan orang tua lebih penting daripada sidik jari

Kepercayaan orang tua lebih penting daripada sidik jari
Sekolah berbondong-bondong adaptasi absen sidik jari. Reformasi kosmetik pendidikan?

Surabaya - KoPi | Menyikapi maraknya aksi bolos siswa pada jam belajar, berbagai sekolah kini telah mengganti absensi mereka dengan finger print. Sistem absen yang menggunakan sidik jari ini juga mulai digunakan beberapa sekolah di Surabaya.

Salah satunya sekolah SMA GIKI (Gita Kirti) Surabaya. Menurut Huda selaku Kepala Bidang Kurikulum SMA GIKI, sekolahnya telah menggunakan absen fingerprint selama dua bulan. “Siswa datang ke sekolah, absen finger print, lalu orang tua di rumah akan mendapatkan laporan SMS dari sistem tersebut,” ujar Huda saat menjelaskan cara penggunaan sistem tersebut.

Saat ini 25% sekolah di Surabaya dan 95% sekolah di Gresik telah menggunakan finger print sebagai pengganti absensi hadir siswa. Biaya untuk pengadaan alat tersebut beragam. Beberapa sekolah membebankan biaya tersebut pada orang tua murid, namun ada juga yang dana operasional sekolah. 

Menurut pakar sosiologi pendidikan Universitas Airlangga Tuti Budiahayu, kepercayaan orang tua terhadap anak yang lebih penting dibanding adaptasi teknologi baru. “Absensi merupakan bentuk tanggung jawab siswa pada dirinya sendiri, komitmen mereka untuk melaksanakan tugas pendidikan. Seharusnya siswa bisa menata diri sendiri untuk bertanggung jawab kepada orang lain tanpa perlu pengawasan seperti itu,” ujar Tuti.

Tuti mnenilai penggunaan alat ini hanya sekedar reformasi kosmetik sekolah. Sekolah dinilai lebih maju apabila mengadaptasi teknologi baru. Padahal teknologi yang lebih dibutuhkan adalah yang bisa meningkatkan kualitas guru dan pembelajaran. "Pada hakekatnya adalah bagaimana memanusiakan manusia. Murid bukan robot yang bisa dikuantifikasi. Jika murid sering bolos, pihak sekolah harus memberikan teguran, tidak hanya menggunakan pemberitahuan dengan sistem tersebut,” ujar Tuti.

Sistem yang dibutuhkan sekolah adalah bagaimana sekolah mengkomunikasikan kegiatan mereka. Menurut Tuti, teknologi di sekolah baru bisa dioptimalkan dengan baik jika ada pengelolaan yang intens. Pengelolaan tersebut merupakan tanggung jawab pihak perusahaan yang menyediakan teknologi tersebut. “Perusahaan tidak hanya sekedar mengambil untung dari sekolah, melainkan turut memajukan pendidikan Indonesia itu sendiri,” ujar Tuti. | Labibah

back to top