Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Kepercayaan orang tua lebih penting daripada sidik jari

Kepercayaan orang tua lebih penting daripada sidik jari
Sekolah berbondong-bondong adaptasi absen sidik jari. Reformasi kosmetik pendidikan?

Surabaya - KoPi | Menyikapi maraknya aksi bolos siswa pada jam belajar, berbagai sekolah kini telah mengganti absensi mereka dengan finger print. Sistem absen yang menggunakan sidik jari ini juga mulai digunakan beberapa sekolah di Surabaya.

Salah satunya sekolah SMA GIKI (Gita Kirti) Surabaya. Menurut Huda selaku Kepala Bidang Kurikulum SMA GIKI, sekolahnya telah menggunakan absen fingerprint selama dua bulan. “Siswa datang ke sekolah, absen finger print, lalu orang tua di rumah akan mendapatkan laporan SMS dari sistem tersebut,” ujar Huda saat menjelaskan cara penggunaan sistem tersebut.

Saat ini 25% sekolah di Surabaya dan 95% sekolah di Gresik telah menggunakan finger print sebagai pengganti absensi hadir siswa. Biaya untuk pengadaan alat tersebut beragam. Beberapa sekolah membebankan biaya tersebut pada orang tua murid, namun ada juga yang dana operasional sekolah. 

Menurut pakar sosiologi pendidikan Universitas Airlangga Tuti Budiahayu, kepercayaan orang tua terhadap anak yang lebih penting dibanding adaptasi teknologi baru. “Absensi merupakan bentuk tanggung jawab siswa pada dirinya sendiri, komitmen mereka untuk melaksanakan tugas pendidikan. Seharusnya siswa bisa menata diri sendiri untuk bertanggung jawab kepada orang lain tanpa perlu pengawasan seperti itu,” ujar Tuti.

Tuti mnenilai penggunaan alat ini hanya sekedar reformasi kosmetik sekolah. Sekolah dinilai lebih maju apabila mengadaptasi teknologi baru. Padahal teknologi yang lebih dibutuhkan adalah yang bisa meningkatkan kualitas guru dan pembelajaran. "Pada hakekatnya adalah bagaimana memanusiakan manusia. Murid bukan robot yang bisa dikuantifikasi. Jika murid sering bolos, pihak sekolah harus memberikan teguran, tidak hanya menggunakan pemberitahuan dengan sistem tersebut,” ujar Tuti.

Sistem yang dibutuhkan sekolah adalah bagaimana sekolah mengkomunikasikan kegiatan mereka. Menurut Tuti, teknologi di sekolah baru bisa dioptimalkan dengan baik jika ada pengelolaan yang intens. Pengelolaan tersebut merupakan tanggung jawab pihak perusahaan yang menyediakan teknologi tersebut. “Perusahaan tidak hanya sekedar mengambil untung dari sekolah, melainkan turut memajukan pendidikan Indonesia itu sendiri,” ujar Tuti. | Labibah

back to top