Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

Kenalkan Budaya dan Makanan Luar Negeri, UMY Kembali Gelar Festival Internasional

IMG 0604

Bantul-KoPi| Universitas Muhamamdiyah Yogyakarta (UMY) merupakan kampus yang dinamis dengan tagline “muda medunia” yang dijadikan sebagai simbol semangat internasionalisasi. Program Internasionalisasi dijadikan sebagai proses menciptakan suasana akademik yang bernuansa Internasional di UMY.

Dengan adanya hal tersebut, Lembaga Kerjasama UMY mengadakan International Cultural and Culinary Festival (ICCF) 2018 untuk yang keempat kalinya.

Dalam acara pembukaan acara International Cultural and Culinary Festival (ICCF) 2018 di lantai dasar masjid KH Ahmad Dahlan UMY pada hari Selasa (20/3), Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Alumni dan AIK (Al-Islam dan Kemuhammadiyahan) UMY Hilman Latief, Ph.D. mengungkapkan bahwa dengan adanya acara ICCF, pengunjung dapat mengenal berbagai budaya, melihat secara langsung makanan, tarian, lagu dan lain sebagainya yang berasal dari berbagai negara.

“Misi kita, (UMY) dengan mengenal budaya lain, maka akan ada proses dialog kebudayaan, tukar ilmu pengetahuan, serta pengalaman dengan muara pada pemahaman antar budaya. Dengan memiliki paham tersebut, maka akan tercipta kerjasama,” ungkanya.

Dalam pembukaan ICCF 2018 tersebut, Hilman mengapresiasi terselenggaranya acara ICCF untuk tahun keempat ini. Ia berpesan bahwa semoga ICCF tahun depan peserta asing dapat seimbang dengan peserta yang berasal dari Indonesia. “Harapannya, untuk kedepannya penampilan lebih didominasi oleh peserta luar negeri, artinya seimbang antara mahasiswa Indonesia dengan luar negerinya,” ujar Hilman.

Sementara itu, Yordan Gunawan, S.H., Int.MBA, M.H, selaku Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) UMY menjelaskan bahwa International Cultural and Culinary Festival (ICCF) merupakan festival tahunan. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan ruang bagi mahasiswa asing di Yogyakarta untuk mengenalkan kebudayaan dari masing-masing negara mereka kepada mahasiswa Indonesia begitu pula sebaliknya. Selain itu, program ini diadakan guna membangun komunikasi dan relasi diantara mahasiswa Indonesia dan mahasiswa asing.

"Pada tahun-tahun sebelumnya, ICCF dikenal dengan nama International Cultural Festival (ICF). ICF telah mendapatkan dukungan dari berbagai pihak baik dari kedutaan besar asing di Indonesia, universitas luar negeri maupun dalam negeri dan lembaga-lembaga internasional. Acara yang sudah berjalan dari tahun 2015 dan menjadi agenda rutin UMY ini, juga telah menjadi acara yang menarik banyak peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan negara lain," jelas Yordan.

Yordan juga menjelaskan terkait tema ICCF 2018 “Beauty in Diversity” bahwa keberagaman merupakan sebuah keindahan yang harus dipelihara secara baik. Jangan sampai keberagaman justru memecah belah, dan masing-masing dapat saling melengkapi. “Bagaimanapun, kita satu sama lain memiliki kekurangan yang harus dilengkapi,” jelas Yordan.

Kembali ia menambahkan bahwa tujuan utama dari terselenggarannya acara ini untuk pengenalan budaya negara lainnya kepada pengunjung terutama mahasiswa. Tidak sampai itu saja, kuliner juga menjadi hal penting dalam acara ICCF ini. Dalam hal ini, diplomasi makanan adalah diplomasi yang paling mudah, sudah banyak negara yang menekankan diplomasi ini, seperti Korea dan beberapa negara lainnya.

Salah satu mahasiswa Timor Leste, peserta ICCF Julius Dos Santos mengungkapkan rasa bangganya dapat ikut andil memperkenalkan kebudayaan dari Timor Leste. Ia juga merupakan mahasiswa Hubungan Internasional UMY. “Kali ini, kami (perwakilan dari Timor Leste) memperkenalkan masakan bernama Kaldeirada dan Beefi, tidak hanya itu saja, kami juga berkesempatan menampilkan tarian Dansa Balsa Manatuto,” jelasnya.

ICCF 2018 menjadi menarik karena adannya “kitchen street” dari berbagai negara. Pengunjung dapat menikmati secara gratis makanan tersebut dengan menukarkan kupon yang sudah disediakan oleh panitia. Untuk menunjukkan ciri khas dari setiap negara, setiap stand dihiasi dengan pernak pernik dari kebudayaan masing-masing negara. Kitchen street kali ini diikuti oleh Indonesia, Amerika Serikat, Thailand, Malaysia, Filipina, Timor Leste, Turki, Italia, Yaman, Turkmenistan, Taiwan, Singapura, Mesir, China, Tunisia, dan Iran.

Sebagai pelengkap dari acara ICCF tahun ini, UMY juga mengadakan “cultural week”. Acara ini akan memberikan pengalaman bagi mahasiswa asing dari universitas mitra luar negeri tentang kebudayaan Indonesia, menikmati pertunjukan seni dan belajar kebudayaan Indonesia yang berlangsung selama satu minggu dari Senin, 19 Maret 2018. Dalam acara cultural week meliputi kunjungan ke beberapa tempat wisata di Yogyakarta dan Jawa Tengah. (Darel)

back to top