Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Kematian akibat resistensi antibiotik mencapai 700 ribu kasus

http://pspa29.blogspot.co.id http://pspa29.blogspot.co.id


Jogja-KoPi|Komite Pencegahan pengendalian infeksi (PPI) rumah sakit mata (RSM) dr Yap, dr Rastri Paramita menyebutkan angka kematian akibat resistensi antibiotik tanpa melihat usia penderita saat ini mencapai 700.000 kasus pertahun.

Setidaknya terdapat 140 kematian setiap bulannya akibat resistensi antibiotik diseluruh dunia. Sementara di tahun 2050 diperkirakan terdapat sekitar 10 juta kematian per tahun akibat resistensi antibiotik.

Menurut Rasti penyebab tingginya angka kematian dapat disebabkan oleh penanganan dokter atau perilaku pasien sendiri.

“Dari pasien, disebakan karena pembelian obat antibiotik yang bebas tanpa resep dokter, pasien yang tidak patuh kepada petunjuk dokter terkait penggunaan antibiotik, dan pasien berbagi antibiotik dengan orang lain”, jelasnya, saat di wawancarai di RSM dr Yap, Jumat (5/5).

Sementara dari pihak dokter dapat terjadi ketika dokter sering menggunakan obat antibiotik tanpa melihat jenis bakteri yang diderita pasien. Akibatnya pasien menumbuhkan bakteri yang kebal terhadap antibiotik akibat salah penggunaan jenis antibiotik.

Oleh karena itu semenjak dua tahun terakhir, pemerintah Indonesia bersama Kementrian Kesehatan (Kemenkes) memperketat penjualan antibiotik. Obat antibiotik tidak dijual secara bebas di toko obat, apotik, dan rumah sakit di seluruh indonesia. Pembelian harus lewat resep dokter untuk menghindari pengunaan antibiotik yang berlebihan.


Selain itu, Kemenkes juga mengeluarkan peraturan untuk membentuk komite pengendalian resistensi anti mikroba di setiap rumah sakit lewat UU no. 8 tahun 2015.


“Jadi setiap rumah sakit akan dilihat oleh komite terkait peta kumannya , tujuannya untuk melihat atau mencari tahu RS mana saja yang memiliki resistensi bakteri. Selanjutnya jika ada pasien terkena infeksi bakteri dan diketahui jika bakteri tersebut resistens terhadap salah satu jenis antibiotik maka jenis antibiotik tersebut tidak boleh digunakan”, jelas Rasti.


Di sisi lain, Dirut RSM dr YAP, dr. Enny Cahyani Permatasari mengatakan pihaknya akan menyarankan pasien untuk menggunakan antibiotik jenis dasar seperti Amoxicilin terlebih dahulu. Tujuannya senada yaitu mencegah resistensi dan menghindari potensi penyakit menjadi semakin parah.


“Kita dan Dinkes selalu memberikan pemahaman agar tidak memberikan antibiotik dengan mudah, karena sampai saat ini masih ada temuan antibiotik yang dijual bebas dan berpotensi menimbulkan komplikasi penyakit lainnya”, tandasnya.|Syidik Syaiful Ardli

back to top