Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Kekuatan Politik Lewat Media Massa

pusaka.org pusaka.org

PADA pemilu di AS tahun 1968, Richard Nixon berhasil menumbangkan lawannya, Rubert Humprey. Para pakar menilai, salah satu faktor yang menjadi penyebabnya adalah kepiawaian Nixon saat berada di depan kamera dan berbicara di depan jurnalis. Ia kerap tersenyum, ramah, dan gemar menyapa awak media. Ia pun lebih populer dan mudah tampil di halaman depan surat kabar atau headline televisi.

Kemenangan politik ini ditelaah sebagai bukti koneksifitas antara media massa dan tokoh yang ditonjolkannya. Dengan kata lain, yang dianggap penting atau disorot oleh media massa akan dianggap penting pula oleh khalayak (Subiakto & Ida, Komunikasi Politik, Media dan Demokrasi, 2014).
    
Berdasar pandangan itu, media massa menjadi ruh dalam segala bentuk komunikasi politik. Termasuk, untuk melakukan sosialisasi kebijakan politik dan pemerintahan. Di Indonesia, misalnya. Tatkala rezim orde baru berkuasa, terdapat departemen penerangan yang menjadi kontrol media massa se-Indonesia. Semua pemberitaan, pencitraan, disetting melalui instansi tersebut agar selalu tampil baik di masyarakat. Dalihnya, menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan negara.
    
Dalam perkembangan komunikasi politik dewasa ini, media massa begitu penting peranannya. Terlebih di masa kampanye pemilu. Baik pemilu legislatif maupun pemilu presiden. Terbukti, saat pemilu tahun 2014. Penggunaan media massa untuk suatu kampanye bersifat nyaris mutlak. Bila di AS gelombang kampanye terbesar adalah melalui televisi, di Indonesia kampanye politik terasa hingar bingar di bermacam jenis media massa. Mulai televisi, radio, media cetak, media online, dan lain sebagainya.
    
Dennis McQuail (Mass Communication Theories, 4th Edition, 2000) berpendapat, ada beberapa kondisi yang menentukan kesuksesan suatu kampanye di media massa. Kondisi itu mesti mendukung tiga elemen utama: audience, pesan, dan sumber kampanye. Singkatnya, harus ada kekuatan dan kesesuaian di masing-masing elemen tadi agar kampanye lebih optimal.
    
Peran penting media massa dalam perkembangan dan penguatan komunikasi politik dapat dilihat dari kenyataan yang ada sekarang ini. Dua kutub politik yang berlawanan (Koalisi Merah Putih atau KMP dan Koalisi Indonesian Hebat atau KIH) di negara ini masing-masing di-back up oleh media-media besar. Beruntung, media massa Indonesia tidak hanya dikuasai oleh satu faksi politik. Dengan demikian, keseimbangan dalam melakukan pemberitaan dan penyebaran informasi masih dapat dirasakan.
    
Meski harus diakui pula, kadang pemberitaan dari satu media yang berseberangan dengan kekuatan politik berbeda kurang proporsional. Itu adalah bentuk dinamika komunikasi politik lewat media massa yang tak dapat dihindari. Ini patut dilihat sebagai proses menuju pendewasaan berpolitik dan bermedia.

Media vs Masyarakat

McQuail mengemukakan, setidaknya ada enam hubungan berkelindanan antara media massa dan masyarakat. Pertama, media massa sebagai window on events and experience. Masyarakat selalu membutuhkan jendela untuk melihat ke lingkungannya. Lantas, melakukan aksi dan reaksi atas apa yang dilihat di jendela tersebut.
    
Kedua, media dianggap sebagai a mirror of events in society and the world, implying a faithful reflection. Media massa adalah cermin dari realitas faktual yang dapat ditangkap oleh indera. Realitas tersebut dipantulkan media massa untuk mendapat perhatian dari masyarakat. Seseorang juga dapat melihat kondisi suatu masyarakat dari media. Termasuk, belajar tentang kondisi sosial di luar lingkungannya.
    
Ketiga, media massa adalah filter atau gatekeeper tentang berbagai hal yang butuh perhatian intensif atau tidak. Media senantiasa memilih isu, informasi, atau konten yang dianggap paling menarik dan representatif. Di sini, khalayak "dipilihkan" oleh media tentang apa-apa yang layak diketahui dan mendapat atensi. Dalam titik ini, subjektifitas pengelola media yang dijadikan patokan.

Keempat, media massa adalah guide atau petunjuk jalan. Melalui media massa, wawasan masyarakat bertambah sehingga lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Bisa juga menjadi panduan apa yang mesti dilakukan. Kelima, media massa adalah forum untuk menyampaikan pendapat atau gagasan.

Apa yang dijelaskan tadi ada kaitannya dengan konteks hubungan media massa-masyarakat yang keenam. Yakni, media massa sebagai interlocutor. Bukan hanya sebagai jalur lalu lalang informasi. Media massa hadir sebagai kebutuhan berinteraksi. Media massa mirip seperti ruang pertemuan berbagai lapisan masyarakat. Di dalamnya, siapapun bebas berbicara atau urun opini.
     
Jika diperhatikan dengan seksama, poin ketiga berkekuatan super subjektif. Poin yang satu ini dapat mempengaruhi konten media dan "melucuti" lima poin lainnya. Jika jendela, cermin, petunjuk, forum, dan ruang interaksi difilter oleh paradigma yang subjektif, kuatlah posisi tawar media massa sebagai penggiring opini publik.
    
Opini publik terhadap satu isu yang muncul melalui media massa di masyarakat memang berbeda antar satu orang dengan yang lain. Namun, ruang redaksi berkesempatan  menyetir sudut pandang dengan kelihaian framing dan pengemasan. Hal semacam inilah yang dikhawatirkan menggejala secara serampangan.
    
Persoalan kontra produktif sehubungan dengan penggiringan opini publik, khususnya di bidang politik, memang tidak diinginkan semua orang. Maka itu, masyarakat mesti cerdas menilai mana informasi yang layak dipercaya, dan mana yang harus dipertanyakan lebih jauh. Tujuannya, agar tidak terjebak dalam perspektif yang diinginkan pihak-pihak tertentu. Sebab, opini yang sarat kepentingan memiliki kecenderungan tinggi untuk tenggelam di ranah fitnah, kampanye hitam, dan kampanye negatif.  
    
Masyarakat selalu memiliki kebebasan menilai dan memilih. Semua pihak, mesti secara sadar memahami kekuatan media dalam politik. Utamanya, tentang segala kemungkinan penciptaan opini yang tendensius untuk tujuan sepihak. Tak hanya menjadi sadar, tiap elemen masyarakat seyogyanya berperan aktif membangkitkan kesadaran seperti ini di lingkup yang lebih luas. Muaranya, setiap orang akan memiliki kedewasaan yang mapan dalam menyikapi informasi di media massa.--//

back to top