Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Kekerasan dan jurnalisme perspektif gender

Kekerasan dan jurnalisme perspektif gender

Oleh: Ulyati Retno Sari, M.Hum


Isu gender terutama pada penekanan isu-isu perempuan meskipun telah mengalami pergeseran pada kualitas perbaikan, tetapi belum selesai pada tingkat yang memuaskan. Berita-berita kekerasan terhadap kaum perempuan masih mewarnai berita-berita di media massa. Baik kekerasan yang bersifat fisik maupun batin. Baik yang terjadi dalam masyarakat biasa atau pada tingkat pejabat negara dan artis.

Komnas Perempuan mencatat dalam waktu tiga belas tahun terakhir kasus kekerasan seksual berjumlah  93.960 kasus kekerasan seksual terjadi dari total 400.939 kasus kekerasan yang dilaporkan. Artinya, setiap hari ada 20 perempuan menjadi korban kekerasan seksual. Kasus-kasus tersebut terjadi di dalam rumah/keluarga, tempat kerja, institusi pendidikan, alat transportasi publik, dan dalam berbagai konteks seperti konflik, migrasi, kekerasan atas nama agama, moralitas dan budaya (www.komnasperempuan.com).

Kekerasan yang menempatkan perempuan sebagai korbannya, bahkan seringkali berulang dan ironisnya dilakukan oleh aparat hukum. Kasus reviktimisasi yang paling muktahir dipertontonkan pada masayarakat luas adalah ketika sidang pengadilan kasus pemerkosaan dengan hakim calon Hakim Agung Daming yang tidak diloloskan DPR beberapa waktu lalu. Kasus ini tidak hanya memprihatinkan, tetapi juga mengingatkan betapa dominannya budaya patriarki di Indonesia memberikan pengaruh pada pengekalan stereotype bahwa perempuan adalah mahluk lemah yang nasibnya tergantung pada kebaikan kaum pria.

Kekerasan demi kekerasan yang tejadi pada perempuan seringkali dikaitkan dengan tidak saja faktor budaya –tetapi sering pula karena alasan kodrati. Bahwa pria secara alamiah tercipta sebagai mahluk yang dominan dan kuat secara fisik. Alasan ini mungkin juga memiliki kebenaran. Bahwa faktor alamiah tersebut mendorong terjadinya kekerasan terhadap perempuan dalam sebuah kasus. Namun pelanggengan terhadap apologi tersebut sadar atau tidak merupakan bentuk penyesatan terhadap logika peradaban. Dimana peradaban adalah sebuah tatanan budaya yang ditandai dengan persamaan hak, toleransi, egalitarian dan nilai-nilai yang menjunjung kemuliaan kemanusiaan.

Ada persoalan alasan yang kompleks pada ranah budaya dan alasan yang bersifat kodrati ( psikologis ). Namun semua alasan itu, atau yang kita pahami sebagai akar persoalan –tentu semuanya bisa diatasi dengan beragam cara pula. Bentuk penyadaran tersebut di antaranya adalah semakin meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap prinsip-prinsip persamaan hak dalam tatanan sosial.  Dalam bentuk penyadaran ini, instrumen yang bisa digunakan adalah media massa.

Meningkatkan Peran Media

Jurnalisme perspektif gender merupakan istilah praktek jurnalistik yang sudut pandangnya adalah berkaitan dengan isu perempuan. Isu yang memberikan ruang bagi eksistensi perempuan tidak sebagai sekedar korban atau bukan hanya sekedar peran kedua -atau hanya menampilkannya sebagai kebutuhan komersial seperti iklan dan hal lain yang banal. Tetapi secara utuh memberikan kelayakannya sebagai insan yang memiliki persamaan hak dan kewajiban serta segala hal dalam peradaban modern.

Kebutuhan media dengan membawa jurnalisme berperspektif gender ini sebenarnya memiliki urgensi dan relevansi terhadap upaya menekan dorongan kasus kekerasan selain tentu saja kekuatan undang-undang yang memproteksi perempuan. Dengan kekuatan media yang bersifat massif, sustainable, accessible, keasadaran terhadap eksistensi perempuan dalam konteks persamaan atau kesetaraan dapat lebih mudah disebarkan dalam masyarakat. Implikasinya sederhana–sebagai harapan, media semacam ini mampu memberikan informasi dan pengetahuan bagi masyarakat secara benar dan menekan kasus kekerasan pada perempuan.

Mendorong lahirnya jurnalisme berperspektif gender tentu saja mesti melibatkan semua masyarakat jurnalistik –terutama kaum perempuan sendiri. Hanya saja, saat ini di Indonesia peran perempuan dalam dunia jurnalistik masih sangat sedikit. Komposisi jurnalis perempuan dan pria masih sangat timpang. Riset Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) tahun 2012,misalnya, mencatat dari 10 jurnalis 2-3 adalah perempuan. Atau dari 1000 jurnalis, hanya ada 200-300 jurnalis perempuan. Ketimpangan yang sangat terasa terutama di daerah-daerah kecuali Jakarta yang komposisinya mencapai 40:60 persen. Dari komposisi yang ada yang memprihatinkan tersebut, masih menurut riset AJI hanya 17 persen jurnalis perempuan yang pernah mengikuti pelatihan isu gender.

Meningkatkan jumlah dan mutu jurnalisme dengan perspektif gender pada lanskap perjuangan melawan kasus kekerasan dan diskrimanasi perempuan menjadi upaya yang wajib. Setidaknya masyarakat mafhum bahwa media memiliki kekuatan yang mampu mengubah bayangan nasib sejarah yang buruk. Media mampu menjadi pengarah opini bagi perjuangan perempuan. 

Jurnalisme dengan perspektif gender tidak saja menjadi alat penyadaran bagi masyarakat –namun sesungguhnya juga mampu memberikan rangsangan terhadap munculnya keadilan-keadilan lain yang selama ini masih kurang dirasakan kaum perempuan seperti kesejahteraan bagi jurnalis perempuan yang masi di bawah jurnalis pria dan tentu saja bentuk kekerasan lainnya.

 

-Ulyati Retno Sari,M.Hum, Dosen di Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga

 

 

back to top