Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Kekerasan anak dianggap tabu, bukti masyarakat belum peduli

Kekerasan anak dianggap tabu, bukti masyarakat belum peduli

Surabaya-KoPi| Kasus Kekerasan pada anak terus meningkat tiap tahunnya.  Pada 2010 hingga 2014, Indonesia dilaporkan tengah berada dalam ‘Darurat Kejahatan Terhadap Anak’ oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Di tahun 2015 ini, diprediksi akan lebih banyak lagi laporan pengaduan tentang kekerasan anak yang diterima oleh KPAI.

Komnas Perlindungan Anak (Komnaspa) mencatat sekitar 2.737 kasus kekerasan anak yang masuk di tahun 2014. Lembaga tersebut juga memprediksi akan terjadi peningkatan kasus kekerasan pada anak di tahun 2015 dengan kalkulasi sebesar 15%. Prediksi meningkatnya kasus kekerasan pada anak tentu mengundang keprihatinan luar biasa dari berbgai pihak.

Bagong Suyanto selaku akademisi sekaligus pemerhati anak memprediksi pada tahun 2015 juga akan terjadi peningkatan kekerasan pada anak. Meskipun tidak menyebutkan perkiraan angka kenaikan kasus kekerasan pada anak, Bagong Suyanto menilai jumlahnya dapat lebih dari apa yang diungkapkan oleh Komnaspa.

“Kedepan diperkirakan kasus kekerasan anak yang terungkap, ter-ekspose itu akan semakin besar. Jadi selama ini kasus itu kelihatan tidak banyak karena kasus abuse pada anak seringkali dianggap sebagai kasus di wilayah domestik,” Ujar Bagong Suyanto (8/1).

Menurut Bagong Suyanto laporan kekerasan pada anak yang diterima oleh lembaga-lembaga peduli anak merupakan laporan kekerasan pada anak yang cukup parah. Artinya pelaporan dilakukan apabila kasus kekerasan telah masuk pada wilayah kriminal, seperti meninggalnya korban, pemerkosaan dan kekerasan yang menyebabkan jatuhnya korban. Ini mengapa pemerhati anak tersebut berujar, bahwa sesungguhnya angka kekerasan yang terjadi pada anak jauh lebih banyak daripada yang dilaporkan.

Masih banyaknya masyarakat yang menganggap tabu untuk melaporkan kasus kekerasan terhadap anak, dapat menjadi ancaman bagi anak-anak di Indonesia. Kasus-kasus yang diabaikan tersebut sebenarnya memiliki bahaya yang sama. Kasus-kasus abuse sendiri bermacam-macam, mulai dari verbal abuse, psikis abuse hingga sexual abuse.

Dari berbagai macam kekerasan anak yang dilaporkan pada KPAI, kasus kekerasan seksual dan pelecehan seksual merupakan kasus yang paling banyak dilaporkan. Yang lebih mengejutkan dari banyaknya kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang diterima oleh KPAI, sebagian besar pelaku adalah orang-orang terdekat yang seharusnya menjaga korban (anak-anak).

Di Indonesia, Bekasi merupakan Kota dengan tingkat kekerasan pada anak paling tinggi. Berdasarkan data yang dikeluarkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia pada pertengahan Desember 2014, ada setidaknya 105 kasus kekerasan pada anak yang terjadi di Bekasi. Angka tersebut masih terbilang fantastis meski mengalami penurunan apabila dibandingkan tahun sebelumnya.

Negara telah membentuk Komisi Perlindungan Anak sejak namun hadirnya Negara saja tidak cukup untuk menjangkau wilayah domestik. Seharusnya masalah-masalah kekerasan pada anak dapat menjadi perhatian masyarakat. Anak-anak adalah aset masa depan bangsa dan negara. Untuk itu Bagong berharap kedepan akan semakin banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berfokus pada masalah kekerasan terhadap anak.

 

Reporter : Chusnul Chotimmah

back to top