Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Kekerasan anak dianggap tabu, bukti masyarakat belum peduli

Kekerasan anak dianggap tabu, bukti masyarakat belum peduli

Surabaya-KoPi| Kasus Kekerasan pada anak terus meningkat tiap tahunnya.  Pada 2010 hingga 2014, Indonesia dilaporkan tengah berada dalam ‘Darurat Kejahatan Terhadap Anak’ oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Di tahun 2015 ini, diprediksi akan lebih banyak lagi laporan pengaduan tentang kekerasan anak yang diterima oleh KPAI.

Komnas Perlindungan Anak (Komnaspa) mencatat sekitar 2.737 kasus kekerasan anak yang masuk di tahun 2014. Lembaga tersebut juga memprediksi akan terjadi peningkatan kasus kekerasan pada anak di tahun 2015 dengan kalkulasi sebesar 15%. Prediksi meningkatnya kasus kekerasan pada anak tentu mengundang keprihatinan luar biasa dari berbgai pihak.

Bagong Suyanto selaku akademisi sekaligus pemerhati anak memprediksi pada tahun 2015 juga akan terjadi peningkatan kekerasan pada anak. Meskipun tidak menyebutkan perkiraan angka kenaikan kasus kekerasan pada anak, Bagong Suyanto menilai jumlahnya dapat lebih dari apa yang diungkapkan oleh Komnaspa.

“Kedepan diperkirakan kasus kekerasan anak yang terungkap, ter-ekspose itu akan semakin besar. Jadi selama ini kasus itu kelihatan tidak banyak karena kasus abuse pada anak seringkali dianggap sebagai kasus di wilayah domestik,” Ujar Bagong Suyanto (8/1).

Menurut Bagong Suyanto laporan kekerasan pada anak yang diterima oleh lembaga-lembaga peduli anak merupakan laporan kekerasan pada anak yang cukup parah. Artinya pelaporan dilakukan apabila kasus kekerasan telah masuk pada wilayah kriminal, seperti meninggalnya korban, pemerkosaan dan kekerasan yang menyebabkan jatuhnya korban. Ini mengapa pemerhati anak tersebut berujar, bahwa sesungguhnya angka kekerasan yang terjadi pada anak jauh lebih banyak daripada yang dilaporkan.

Masih banyaknya masyarakat yang menganggap tabu untuk melaporkan kasus kekerasan terhadap anak, dapat menjadi ancaman bagi anak-anak di Indonesia. Kasus-kasus yang diabaikan tersebut sebenarnya memiliki bahaya yang sama. Kasus-kasus abuse sendiri bermacam-macam, mulai dari verbal abuse, psikis abuse hingga sexual abuse.

Dari berbagai macam kekerasan anak yang dilaporkan pada KPAI, kasus kekerasan seksual dan pelecehan seksual merupakan kasus yang paling banyak dilaporkan. Yang lebih mengejutkan dari banyaknya kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang diterima oleh KPAI, sebagian besar pelaku adalah orang-orang terdekat yang seharusnya menjaga korban (anak-anak).

Di Indonesia, Bekasi merupakan Kota dengan tingkat kekerasan pada anak paling tinggi. Berdasarkan data yang dikeluarkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia pada pertengahan Desember 2014, ada setidaknya 105 kasus kekerasan pada anak yang terjadi di Bekasi. Angka tersebut masih terbilang fantastis meski mengalami penurunan apabila dibandingkan tahun sebelumnya.

Negara telah membentuk Komisi Perlindungan Anak sejak namun hadirnya Negara saja tidak cukup untuk menjangkau wilayah domestik. Seharusnya masalah-masalah kekerasan pada anak dapat menjadi perhatian masyarakat. Anak-anak adalah aset masa depan bangsa dan negara. Untuk itu Bagong berharap kedepan akan semakin banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berfokus pada masalah kekerasan terhadap anak.

 

Reporter : Chusnul Chotimmah

back to top