Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Kebersamaan ala AKAP

Kebersamaan ala AKAP
 
Oleh: Dedi Yuniarto

 

Enam perupa berbeda daerah asal yakni AT Sitompul (Medan), Dedy Sufriadi (Palembang), Gusmen Heriadi (Padang), Luddy Astaghis (Malang), M.A Roziq (Lampung), dan Suharmanto (Yogyakarta) menggagas sebuah pameran bersama bertajuk "AKAP". Pameran yang sedianya diselenggarakan di Jogja Gallery, Jl. Pekapalan no.7, Alun-Alun Utara Yogyakarta dibuka secara resmi pada tanggal 15 Desember 2016 pukul 19.00 WIB.

AKAP sebagai label pameran terinspirasi lantaran perbedaan daerah asal masing-masing seniman pesertanya. Sekali lagi, AKAP dimaknai sebagai tajuk pameran, dan tidak dimaksudkan sebagai sebuah nama kelompok. AKAP kependekan dari Antar Kota Antar Provinsi yang merujuk pada panjangnya rute layanan operator bus dengan trayek yang meliputi antar daerah dan melintasi lebih dari satu provinsi.

Bagi anggota kelompok ini yang berasal dari Sumatera dan Jawa Timur tentu pernah sangat akrab dengan bus AKAP. Pada saat mereka masih menyandang status sebagai mahasiswa, bus AKAP merupakan modal transportasi yang sering mereka gunakan karena paling ekonomis bila dibandingkan moda lain seperti pesawat terbang yang pada saat itu harga tiketnya setinggi langit. Pun bisnis travel atau sewa mobil masih belum begitu menjamur seperti sekarang.

Adapun tema besar yang merangkai pameran ini adalah "kebersamaan". Sebuah kebersamaan yang justru dilandasi oleh kesadaran akan adanya perbedaan masing-masing para pelakunya. Ditengah situasi Indonesia yang tengah diuji komitmen kehidupan kebhinekaannya, maka tema "kebersamaan" yang ditawarkan oleh enam perupa (yang sebagian besar) alumni ISI Yogyakarta ini menjadi up to date dan tentu saja patut untuk disimak.

Jika pada umumnya kegiatan bersama dibangun di atas pondasi kesamaan-kesamaan seperti kesamaan suku, kesamaan jurusan kuliah, kesamaan angkatan, kesamaan genre lukisan yang dianut, dan seterusnya, namun kelompok kecil ini bersama-sama justru karena karya dan gaya mereka berbeda. Mereka berkeyakinan bahwa ketidaksamaan (baca: perbedaan) malah memperkuat kebersamaan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kebersamaan memiliki arti "hal bersama" atau aktivitas yang dilakukan secara bersama-sama. Bertolak dari kata dasar "sama" maka kebersamaan ini pun berlandaskan kesamaan; semangat yang sama, pemikiran yang sama, tujuan yang sama, latar belakang yang sama, atau cita-cita yang sama. Namun demikian alamiahnya tidak saja kesamaan, perbedaan pun memiliki andil kuat membangun kebersamaan, mengingat kita masing-masing memiliki kekurangan-kelebihan serta pemikiran yang tidak mungkin sama.

Kebersamaan yang baik adalah kebersamaan yang berlandaskan kebutuhan (need) bukan paksaan. Kebersamaan yang terbentuk karena kebutuhan biasanya lebih mudah mencapai tujuan dibandingkan kebersamaan oleh karena paksaan. Kebersamaan yang ideal bercirikan adanya tenggang rasa, kekompakan, dan kepentingan bersama. Ruang kebersamaan memungkinkan kita menemukan kemungkinan-kemungkinan baru, ilmu pengetahuan baru, dan teman-teman baru sebagai wahana saling bertukar pengalaman dan wawasan.

Seringkali terlihat di angkasa serombongan burung bangau terbang ke arah Selatan dalam formasi huruf "V". Saat burung pada bagian depan mengepakkan sayap, hal itu memberikan daya dukung bagi burung di belakangnya. Ini terjadi karena bangau yang berada di belakang tidak perlu bersusah-payah menembus dinding udara di depannya. Konon dengan terbang dalam formasi "V" ini seluruh kawanan dapat menempuh jarak jelajah lebih jauh hingga 71% dibandingkan apabila mereka terbang sendiri-sendiri. Ketika bangau yang terbang pada bagian paling depan lelah, ia akan terbang memutar ke belakang formasi, lalu bangau yang lain akan menggantikan posisinya.

Apakah makna hakiki dari kebersamaan? Jawabannya tentu tidak terlepas dari sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial. Jelas manusia tidak akan pernah bisa benar-benar hidup dalam kesendirian. Kita tak mungkin sebagai makhluk egois yang merasa mampu melakukan segala sesuatu sendirian dan tak membutuhkan uluran tangan orang lain. Kehidupan adalah suatu siklus sebab-akibat. Berpikir dan berbuat baik, saling berbagi dalam kebersamaan, serta menjalin sebuah hubungan yang positif itu pilihannya. Barang siapa menanam kebaikan, niscaya memetik kebahagiaan. Barang siapa menanam keburukan, niscaya menuai penyesalan. Demikanlah rumus adab sosial di tengah-tengah alam-semesta yang maha saling terkait ini.

Keterkaitan dimaknai sebagai asal-muasal kehidupan. Sebagaimana pendapat para ilmuwan bahwa tak ada makhluk hidup yang muncul dengan sendirinya. Tak ada peristiwa yang terjadi dengan sendirinya. Semua saling terkait. Bahkan hal remeh-temeh yang terlepas di alam semesta ini dikemudian hari akan berdampak sangat luar biasa bagi keseimbangan di tempat lain.

Adalah Edward Norton Lorenz yang pertama kali menyampaikan pemikiran bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil secara teori dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Dikemudian hari teori ini dikenal sebagai "efek kupu-kupu" (butterfly effect) yang dalam teori chaos (chaos theory) terkait dengan "ketergantungan yang peka terhadap kondisi awal" (sensitive dependence on initial conditions), di mana perubahan terkecil sekalipun pada satu tempat dalam suatu sistem non-linear dapat mengakibatkan perbedaan besar dalam keadaan kemudian.

Kepakan sayap kupu-kupu secara teori menyebabkan perubahan-perubahan sangat kecil dalam atmosfir bumi yang pada akhirnya mengubah jalur angin ribut (tornado) atau menunda, atau mempercepat, atau bahkan mencegah terjadinya tornado di tempat lain. Kepakan sayap ini merujuk kepada perubahan kecil dari kondisi awal suatu sistem, yang mengakibatkan rantaian peristiwa menuju kepada perubahan skala besar (efek domino). Alam menjadi guru!

Masyarakat Nusantara sebagai komunitas agraris sangat menjunjung tinggi rasa kekeluargaan. Ada beberapa fenomena menarik bagaimana mereka membangun rasa kebersamaan. Bakar batu merupakan tradisi penting di Papua, berupa ritual memasak bersama-sama warga sekampung sebagai sebuah ungkapan rasa syukur, dan silaturahim mengumpulkan sanak-saudara menyambut kebahagiaan seperti: kelahiran, perkawinan adat, penobatan kepala suku, atau guna mengumpulkan prajurit untuk berperang. Sementara itu wahana kebersamaan mereka terwujud dalam bentuk "rumah bujang".

Rumah bujang ini tidak saja berfungsi sebagai tempat untuk mengadakan rapat-rapat namun juga sebagai tempat upacara adat dan keagamaan. Fungsinya hampir mirip dengan "balai" dan "surau" pada masyarakat Minang. Bedanya jika balai adalah sebuah ruang kebersamaan untuk mengadakan rapat-rapat warga, sementara surau lebih diutamakan sebagai ruang pendidikan non-formal bagi anak remaja laki-laki untuk belajar petatah-petitih, adat merantau, belajar sejarah leluhur serta budaya dan tata nilai masyarakat setempat.

Pada masyarakat Batak di Sumatera Utara terdapat rumah adat Bolon yang biasanya dihuni oleh empat hingga enam keluarga yang hidup bersama-sama. Masyarakat Dayak di Kalimantan mengenal rumah adat Betang yang biasanya dihuni oleh 100 hingga 150 jiwa secara bersama-sama.

Dalam era serba digital ini, kebersamaan dalam konteks gagasan, dapat dibangun melalui sarana komunikasi dan media sosial. Namun dalam konteks fisik ia kian luas dan luwes, ia dapat saja ada di mall, cafe, hotel, panggung pertunjukan, lapangan futsal, atau bahkan terwujud melalui sebuah event pameran seni rupa semacam ini.

Materi-materi visual yang disajikan pun memiliki gagasan kuat menyangkut pemikiran tentang kebersamaan (dalam perbedaan) ini. Mari kita simak karya abstrak AT Sitompul (b. 1977) berjudul "Menahan Hasrat" dengan teknik cipratan ala Pollock yang sengaja disandingkan dengan garis-garis serba presisif. Noktah-noktah warna-warni yang bertumpuk-tumpuk empat hingga lima layer tanpa pola tertentu, berbagi ruang dalam satu frame dengan linier-linier hitam-putih. Kontradiksi antara ekspresi intuitif bersanding dengan ekspresi presisif namun tetap menemukan keseimbangannya.

at sitompul akap

Dalam konteks kehidupan sosial keseimbangan tidak terjadi begitu saja, ia bermula dari adanya ruang untuk berdialog. Perbedaan tidak serta-merta menjadi sumber perpecahan dan konflik jika dialog dikedepankan. Demikian ide dasar karya Luddy Astaghis (b. 1976) dalam karyanya bertajuk "Percakapan".

Bagaimana mungkin kesepahaman yang berangkat dari perbedaan-perbedaan dapat dicapai tanpa melalui adanya percakapan dua arah? Percakapan pun ternyata memiliki dua sisi, selain sisi positif, ia juga dapat menjadi sumber konflik apabila memang sedari awal ditujukan untuk memecah-belah kebersamaan. Polemik, permusuhan, dan gejolak politik sangat mudah tersulut jika latar belakang percakapan adalah konspiratif, apalagi bermaksud menyembunyikan logika positif dan fakta-fakta sebenarnya.

luddy akap

Luddy masih mempertahankan figur-figur bervolume sebagai subject matter bahasa visual untuk karya-karya mutakhirnya. Bidang kanvasnya riuh dengan figur-figur komikal laki-laki maupun perempuan yang datang dari berbagai latar belakang profesi. Dalam karya sepuluh panelnya itu, tampak tiap-tiap panel bagai sebuah fragmen dimana dua atau lebih figur saling melakukan interaksi. Dan tentu saja tiap panel mengandung narasi yang tak sama bahkan terlihat random, nampak beberapa di antaranya seperti adegan percakapan ringan, guyonan, intimidasi, hingga perkelahian.

Berbanding terbalik dengan karya-karya Luddy yang riuh, Suharmanto (b. 1976) mengetengahkan seekor kuda jantan di atas kanvasnya yang berukuran cukup besar. Kuda adalah satwa bersifat komunal yang juga memiliki "kelasnya". Namun, bagi Suharmanto hanya kuda kelas pekerja (baca: kuda beban) yang memiliki nilai fungsi guna paling besar karena tenaganya dapat dinikmati oleh orang banyak, termasuk bagi sang kusir dan keluarganya.

suharmanto akap

Sosok kuda yang hadir di kanvas nampak proporsional dan terlihat sebagaimana kebanyakan kuda lokal. Sadel dan tali kekang masih terikat pada tubuhnya. Ada kesan paradoks karena gambaran akan naluri bebas-merdeka yang melekat pada kuda, dinegasikan oleh sadel dan tali kekang sebagai gambaran akan beban-tanggungan hidup. Secara visual lukisan berjudul "Ordinary Horse" ini terlihat menarik karena diselesaikan dengan menggunakan teknik pallet. Torehan-torehan cat minyak dengan pallet itu memberikan dampak ekspresif, kesan ini diperkuat oleh coretan-coretan berupa teks yang nampak spontan dan cepat pada bagian-bagian kanvas yang kosong.

Gusmen Heriadi (b. 1974) menghadirkan visual dengan teknik realis berupa motif dan lekuk kulit satwa langka gajah, macan tutul, buaya, badak, dan kuda nil sebagai subject matter. Pada bagian kanvas yang lebih luas terdapat kolase lekukan tekstil berwarna mutiara yang membuatnya terkesan mewah.

gusman akap

 

Sebuah ironi, betapa bulu macan tutul, kulit buaya, cula badak, gading gajah, dan gigi kuda nil diselundupkan dari benua Afrika dan Asia, menempuh jarak ribuan kilometer setiap harinya hanya untuk dialihfungsikan menjadi komoditas pencitraan manusia. Barang-barang mewah dan super mewah yang mencitrakan sebuah kelas sosial hilir-mudik di pusat-pusat peradaban bahkan patron moralitas masyarakat dunia. Karya lima panel bertajuk "Prestisius" ini sengaja memasuki dimensi kritikal untuk meneruskan tema besar sebelumnya mengenai identitas dan globalisasi.

Masih mengusung tema kritik terhadap konsumerisme-hedonisme, sebuah karya abstrak gigantik Dedy Sufriadi (b. 1976) bertajuk "We are the Greatest Shopper" terinspirasi dari film animasi anak-anak berjudul Curious George. Di tangan Dedy Sufriadi, tokoh protagonis seekor simpanse bernama George yang selalu ingin tahu itu tidak dapat menahan keinginannya untuk menjadi manusia. Sehingga ia harus meniru apapun yang biasa dilakukan manusia. Ia mengamati bahwa berbelanja adalah perilaku manusia yang paling umum.

dedi s akap

Maka George pun mulailah berburu barang-barang di pusat perbelanjaan. Hingga pada akhirnya George menyadari berapapun uang yang ia habiskan untuk berbelanja, tidak akan mengubahnya menjadi seorang manusia. Simpanse tetaplah simpanse. Demikian kisah dibalik karya abstrak bertekstur dengan latar berwarna hitam pekat yang dipenuhi coretan-coretan intuitif berupa grafiti serta bentuk-bentuk dan figur-figur khas Dedy Sufriadi.

"See and Feel" pada intinya berbicara mengenai respons M.A Roziq (b. 1978) terhadap kecenderungan dalam mengapresiasi sebuah karya seni. Nilai seni bisa jadi lebih mudah ditemukan ketika rasa dan intuisi didahulukan. Konteks gagasan dan perjalanan kreatif sang seniman adalah juga pertimbangan lain dalam menimang sebuah manifestasi dari kontemplasi dan olah rasa yang mewujud menjadi karya seni, alih-alih menggunakan pisau logika yang hanya mempertimbangkan persoalan-persoalan teknis belaka.

ma rozig akap

Sebanyak 180 buah tube bekas cat minyak dalam posisi berdiri ditempelkan di atas kanvas lima panel. Tube yang ditata sedemikian rupa mengikuti gradasi warna itu pada masing-masing ujungnya terdapat sebuah mata boneka. Barangkali mata-mata boneka itu dimaksudkan sebagai gambaran dari mata hati. Betapa pentingnya kejernihan mata hati untuk dapat merasakan getar sebuah karya seni.

Melalui seluruh materi visual yang disuguhkan oleh keenam perupa, kita simak betapa semangat kebebasan mereka dalam menyampaikan kegelisahan yang dituturkan melalui karya-karya beragam visual dan media. Mereka bukanlah kuda dengan sadel dan tali kekang. Kendati hampir sebagian besar karya yang dipamerkan mengandung dimensi sosial, namun mereka berkarya dengan bebas zonder beban moralitas atau pretensi-pretensi. Mereka hanya ingin menyandarkan naluri berkeseniannya pada semangat 'harmonisasi beragam nada'.

Sebagai harapan bersama semoga pameran ini mampu merevitalisasi apapun keterkaitan yang sedang dijalani. Kebersamaan yang sebenarnya adalah kekuatan. Ilmu pengetahuan juga kekuatan, namun demikian sikap dan cara pandang kita adalah yang utama. We feel strong cause we are together!

Pameran ini mengetengahkan sekitar 15 karya kontemporer beragam genre yakni seni lukis abstrak, realis, surealis, instalasi, fotografi dan relief dan diresmikan oleh Dr. Oei Hong Djien serta akan berakhir pada tanggal 7 Januari 2017.

back to top