Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Kebangkitan mentalitas metropolitan

www.travelchannel.com www.travelchannel.com

Meskipun gerhana matahari sudah lewat, gaungnya masih saja terdengar hebat hingga saat ini. Artinya, gegap gempitanya perayaan gerhana itu menujukkan massifnya spirit petualangan. Inilah pertanda kebangkitan masyarakat haus hiburan. Efek lanjut dari mentalitas metropolitan.

Mentalitas metropolitan adalah gejala masyarakat industrial. Entitasnya hasil percampuran antara alam (nature) dan budaya (nurture). Di satu sisi, mereka kagum pada objektifitas alam. Di sisi lainnya, mereka pun mudah larut dalam komodifikasi alam buatan. Buah dari kepentingan campur tangan manusia.

Itulah yang membuat batas agama dan budaya menjadi buram. Hal ini muncul karena standar-standar material menjadi pemujaan dalam hidup keseharian. Semisal, perdagangan kaca mata anti panas gerhana, kaca mata polimer. Di Madura, tiap orang yang hendak melihat gerhana di pantai harus membayar. Padahal, tiap hari biasa, orang bebas keluar masuk di sana.

Banyak orang tak bisa membedakan antara pariwisata dan industri budaya. Yang pertama terkait dengan pengelolaan atas nama kebijakan negara. Yang kedua terkait budaya massa. Ironisnya, momentum gerhana sering disusupi oleh industri budaya.

Masalahnya, budaya massa itu selalu menyimpan bias kelas dan gender. Menurut John Urry (1995) aktivitas mengisi waktu luang adalah mata rantai industri budaya. Dibaliknya terpancar suatu praktik memproduksi dan mengkonsumsi. Tanda masyarakat pasca modern ini ditunjukkan dengan budaya mengkonsumsi. Terutama, mengkonsumsi ruang dan waktu.

Siapakah yang memproduksi budaya massa ? Tentu bukanlah orang miskin atau para ibu di desa. Untuk makan saja susah. Apalagi, membuat pesta menyambut gerhana. Mentalitas orang tak berpunya adalah mentalitas mengutamakan selamat dirinya (safety first).

Berbeda halnya dengan mentalitas kelas berpunya, utamanya di kota. Mentalitas mereka menurut Simmel (1990) adalah mentalitas metropolitan. Yakni, kehidupan yang berkaitan dengan uang, cinta berpetualang, dan tragedi kebudayaan (seperti sinisme).

Uang memiliki nilai. Tapi, nilainya bagi kelas atas dan bawah, desa dan kota, akan berbeda. Bagi orang desa, uang tak berjarak dari kebutuhan utamanya. Kita seringkali mendengar orang tua di desa mengatakan tak punya uang. Hal itu bukan berarti uang tak ada. Tapi, tak punya uang lebih untuk kebutuhan sekunder dan tersiernya.

Bagi orang kota, apalagi kelas atas, uang memiliki jarak. Mereka tak lagi berpikir urusan perutnya. Melainkan, bagaimana keberlimpahan uang itu memenuhi kesenangan baru baginya. Maka, mereka selalu berpetualang mencari hiburan yang beda dari orang pada umumnya. Perayaan gerhana matahari adalah buktinya. Karena, mengkonsumsinya tak bisa didapatkan setiap hari. Di sanalah objek petualangan itu ditemukan.

Padahal, dibaliknya ada pihak yang diuntungkan. Tak sedikit pula yang dirugikan. Hal ini terjadi karena logika sirkulasi kapital. Buah dari ideologi kapitalisme sejak zaman orde baru silam. Generasi sekarang hanya penerima warisan. Tidak heran, apabila nilai sakralitas dibalik peristiwa alam itu menjadi banal, dangkal.

Nilai kesakralan itu galibnya membangun solidaritas sosial. Sosiolog Perancis, Durkheim (1912) mengatakan bahwa sakralitas bagian dari elemen dasar keagamaan. Ini yang mempertegas bahwa agama memiliki fungsi sosial.

Riset bunuh diri dilakukannya. Untuk menemukan hubungan antara agama dan harapan sosial. Kasus bunuh diri umat agama di Eropa salah satu contohnya. Semakin kuat ikatan kolektif suatu agama, semakin rendah angka bunuh diri umatnya.

Namun, pandangan agama di atas cenderung reduksionistik. Persoalan agama kini tak sesederhana itu. Spirit kapitalisme pun menyusup ke ranah agama. Maka, ikatan solidaritas di antara umat itu berpotensi ditransaksikan.

Emin Baki Addas (2006), Sosiolog Turki, berhasil memperkuat tesis tersebut. Menurutnya, Islam sekarang telah kompatibel dengan kapitalisme. Banyaknya fenomena enterpreneurship Islami di Turki adalah buktinya.

Kapitalisme Islami ini sedang berkembang biak. Menjalar hingga ke Indonesia. Ini berkat adanya asosiasi para saudagar global. Merekalah para aktor utama memproduksi nilai-nilai Islami untuk dilempar ke pasar. Sehingga, setiap acara motivasi Islami selalu ramai pengunjung.

Tak terkecuali, pelatihan sholat khusuk di mall-mall. Tak sedikit dari mahasiswa dan para pelajar yang turut tergoda bisnis Islami ini. Efeknya, mereka enggan membaca buku kritis dan berkualitas. Karena, dianggap produk "setan". Kasus Gafatar adalah salah satu contoh terbarunya.

Padahal, tugas kaum terpelajar dan mahasiswa itu mencerahkan. Mereka harus siap tampil sebagai intelektual organik. Yakni, sosok pendobrak kebusukan kapitalisme. Dari akar hingga rantingnya. Mereka harus keluar dari goa kegelapan yang sudah sekian lama menjadi sistem kurikulum pendidikan kita.

Sistem pendidikan yang membekukan sikap kritis peserta didik dan pendidiknya tampaknya tak layak diapresiasi. Karena, sistem pendidikan seperti ini akan melahirkan pembodohan struktural bagi generasi bangsanya.

Beruntung, masih ada anak-anak muda di sejumlah ormas agama yang peka. Mereka bergerak di luar pendidikan formal pada umumnya. Seperti, gerombolan Islam bergerak dan kelompok intelektual muda di NU. Termasuk, JIMM dan kelompok profetik di Muhammadiyah. Mereka semua berkesadaran kritis dengan caranya masing-masing. Anggapan mereka bahwa beragama berarti menegakkan praktik anti penindasan dan pembodohan.

Kesadaran kritis dalam beragama itu memang perlu ditumbuhkan. Terutama di kalangan generasi muda. Agar, efek buruk kapitalisme tidak terus menerus menimbulkan kerusakan di muka bumi. Supaya, mentalitas metropolitan dengan segala rongrongannya bagi kebersahajaan umat manusia tak semakin merajalela. Bukankah ini semua amanah tuhan yang harusnya dijalankan demi keselamatan alam semesta ? Tanyalah kepada hatimu kawan.

back to top