Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Keaslian kebudayaan

Keaslian kebudayaan

Tulisan ini menanggapi tulisan saudara Ranang Aji SP Atropi dan identitas kebudayaan, Solo Pos edisi 13 Februari 2011, yang kemudian ditanggapi saudara Anton Suparyanta dalam tulisannya Atropi sekadar diksi di pasar seni, Solo Pos edisi 13 Maret 2011.


Pertama, saya ingin menilik ulang penggunaan istilah atropi yang dipakai saudara Ranang Aji SP menyitir dari Goerge Simmel dalam The Philoshopy of Money, yang diartikan sebagai berhentinya proses kreatif (budaya) subjektif karena dominasi budaya global (kapitalisme).

BACA: ATROPI KEBUDAYAAN

Sekedar untuk komparasi, istilah atropi banyak pula dipakai dalam bidang medis yang bisa diartikan sebagai penyusutan atau kerusakan jaringan tertentu sehingga menyebabkan penurunan fungsi organ tersebut yang sering juga diikuti munculnya penyakit lain. Dalam konteks sosial-budaya—jika itu memang terjadi—sebagaimana amsal yang disodorkan saudara Ranang pada kasus tradisi Topeng Ireng, Putra Rimba dan Topeng Sojana di Magelang, sekiranya fenomena atropi syah untuk diwaspadai. Persoalannya adalah, sejauh mana percontohan dari kasus tersebut bisa disebut sebagai atropi?

Dalam hal ini perlu adanya studi yang memadai untuk mengetahui sisi historis kemunculan dan perkembangan tradisi yang dimaksud. Saya merasa ini adalah tema yang baik untuk dilontarkan sebagai wacana yang bisa memberikan stimulasi kesadaran bagi publik. Saudara Anton Suparyanta mestinya bisa mengupas secara terang apabila memiliki fakta-fakta obyektif soal itu, mengingat pada hemat saya saudara Ranang tidak secara telak menohok bahwa secara umum seni tradisi yang digunakan dalam ritual-ritual telah terjangkit atropi. 

Namun jika memang banyak fakta yang menunjukkan bahwa sebagian ritual dalam masyarakat telah ditekuk fungsinya menjadi komoditas wisata semata, hal itu memang patut menjadi keprihatinan bersama. Hegemoni global yang merasuk dalam tubuh bangsa-bangsa di dunia tidaklah serta-merta sebuah kebetulan atau kelaziman zaman, melainkan sebuah arus besar yang di belakangnya tertata rapi grand narasi kapitalis.

Tulisan saudara Ranang Aji SP lebih saya pahami dalam kaitannya dengan penyadaran budaya atau upaya napak tilas merunut identitas, dan bukan provokasi yang ambisius untut memberangus seni pasar apalagi seni untuk wisata sebagaimana terkesan dari tampikan saudara Anton.

Sebagaimana kita tahu, sejauh ini masyarakat kita telah mengalami tawar-menawar kiblat secara sengit soal seni murni, seni terapan, seni pasar, seni craft, seni tradisional, seni modern, seni postmodern, seni Barat, seni Timur dan kotak-kotak seni yang lain, namun toh masyarakat akhirnya dengan spontanitas dan nuraninya menentukan pilihan dan menyaring apa yang paling mereka butuhkan.

Kalaupun ada kalangan yang aktif menggiatkan kesenian untuk pariwisata, itu sebuah pilihan yang kita semua layak menghargainya sejauh didorong oleh motifasi yang tidak destruktif. Namun dalam konteks penyadaran, sepahit apapun realitas membentur pilihan kita, kitapun berkewajiban untuk terbuka dan mendukungnya. Lontaran mengenai gejala atropis dari saudara Ranang adalah hal yang baik untuk kita telaah bersama.


Orisinalitas

Apa yang digelisahkan saudara Ranang dalam tulisannya sebenarnya lebih pada ihwal identitas ketimbang atropi itu sendiri. Pertanyaannya adalah, apakah identitas harus orisinal? Sementara hampir di setiap bidang seni—tak terkecuali dalam sastra—nyaris tak ada yang steril dari pengaruh. Dalam bidang seni rupa, perupa manakah yang menampilkan karyanya dengan seasli-aslinya? Vocab seni rupa Barat terlalu gencar menyerbu masyarakat kita pada era kolonial dan menggila pada era post-kolonial. Penetrasi wacana Barat saat itu adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa terelakkan akibat gerusan perubahan politik-sosial-budaya yang ada.

Demikianpun dalam bidang seni tari. Selintas kita mengenal tari-tari sakral di Jawa adalah Jawa yang seasli-aslinya. Namun siapakah memungkiri bahwa pada gerakan-gerakan tari Jawa klasik juga bertebar pola-pola mudra dan asana yang juga terdapat di dalam gerakan yoga—yang notabene berasal dari India?

Pun di dalam sastra. Pada zamannya syair-syair Amir Hamzah dinilai sebagai tonggak sastra Pujangga Baru yang membedaki wajah kaku sastra Melayu saat itu. Disusul Chairil Anwar yang tampil membelot dari pakem-pakem sastra yang dianggapnya terlalu basah oleh basa-basi aristokrasi yang lamban dan sok romantik. Taufiq Ismail dan barisan angkatan ’66 menyusul dalam tampilannya yang berbeda, mencakar wajah tiran kekuasaan dengan karya-karya yang kritis terhadap pemerintahan Orla saat itu.

Rendra yang malas dikekang pengelompokan angkatan tampil dengan caranya sendiri, menulis puisi-puisi polos dan spontan yang kini kita kenal sebagai puisi pamflet, disamping juga ia dikenal sebagai penyair ballada yang masyhur. Dan mereka semua tidak tampil secara asli, betapapun masing-masing berperan sebagai pembaharu pada masing-masing zamannya. Masing-masing berangkat dari timbang-menimbang tradisi yang lama karena adanya pengaruh tradisi lain yang datang memengaruhinya.

Di dalam bersastra Amir Hamzah telak memiliki visi yang berbeda dari pendahulunya karena pengaruh pergaulannya dalam pergerakan nasional waktu itu, yang memungkinkan ia memiliki cakrawala pandang lebih luas. Chairil Anwar yang waktu itu muncul secara kontras dan segar pun terbukti terpengaruh kuat dua penyair Belanda H. Marsman dan J. Slauerhoff, disamping juga ia memperkaya pengetahuan sastranya dengan memelajari karya-karya Archibald MacLeish, Walt Whitman, Rainer M. Rilke, W.H. Auden dan Edgar du Perron (baca Chairil Anwar: Pelopor Angkatan ’45, H.B. Jassin).

Rendra, si burung Merak itu, yang menghentak lewat puisi-puisi balladanya pun dicurigai meniru gaya penyair Spanyol Federico Garcia Lorca (1898-1936) (baca Kerancuan Pribadi Rendra-Lorca (1974).., Subagio Sastrowardoyo). Rendra tak menampik bahwa ia membaca puisi-puisi Lorca, namun mengaku lebih terinspirasi oleh tembang-tembang dolanan Jawa.
Fenomena di atas menunjukkan bahwa keterpengaruhan itu lazim dan syah sifatnya di dalam proses kreatif personal maupun kolektif.

Identitas

Berangkat dari kenyataan di atas teranglah bahwa identitas seni-budaya tidak harus menyusu pada keaslian nilai-nilai filosofi dan budaya yang ada dalam masyarakat lokal saat ini atau pun masa lalu, karena yang sesungguhnya memang tidak ada yang sungguh-sungguh asli. Seluruh kebijakan dan nilai yang dimiliki oleh masyarakat atau individu merupakan pengolahan dari kebijakan dan nilai-nilai yang lain yang ada di luarnya. Seni yang semata mempertahankan keaslian hanya akan menjadi seni yang stagnan, tidak memiliki daya akomodasi dan plastisitas terhadap perubahan zamannya, yang ujung-ujungnya hanya menjadi seni museum untuk klangenan belaka. Bukan berarti tidak ada nilai positifnya sama sekali karena bagaimanapun defensifitas terhadap wajah budaya lama masih memiliki signifikasi untuk edukasi generasi muda mengenal akar budayanya.

Lain daripada itu identitas sebenarnya menuntut satu nilai yang khas. Khas berarti mengandung sesuatu yang unik dan otentik. Bahwa Islam di Arab dengan Islam di Jawa itu berbeda betapapun sama-sama merujuk satu ajaran yang dibawa oleh Muhammad. Affandi dan Van Goh juga berbeda satu sama lain meskipun sama-sama menggunakan media ungkap yang sama-sama ekspresionistis.

Chairil dan Marsman terang berbeda meskipun keduanya memiliki kesamaan suasana dalam sajak-sajaknya. Serta Rendra dan Lorca pun berbeda satu dan lainnya meskipun sama-sama menulis dalam bentuk ballada. Masing-masing memiliki nilai yang khas oleh karena menempuh cara yang berbeda dalam menghayati dan mengolahnya. Kekhasan tersebut muncul karena setiap masyarakat atau individu telah lebih dahulu memiliki latar belakang dan eksistensi nilai yang berbeda pula. Dengan begitu, mereka tidak bisa disebut orisinal, namun memiliki nilai khas yang mampu menciptakan ruang pembedaan satu dan lainnya. Kekhasan inilah yang memberikan penandaan pada apa yang kita sebut sebagai identitas.

Kembali pada apa yang digambarkan saudara Ranang ihwal Topeng Ireng, Putra Rimba dan Topeng Sojana di Magelang, benarkah tradisi itu telah menjauh dari identitasnya? Sejauh itu menjadi ritual yang mampu diadopsi masyarakat setempat dan mampu memberikan nilai guna secara ruhani maupun ekonomis, tentu masih bisa ditolerir keberlangsungannya bahkan memungkinkan memunculkan identitas yang baru. Namun lain halnya apabila itu hanya sebuah kegiatan yang memprioritaskan uang saja yang secara dadakan memprodusir sebuah tradisi asal comot dari tradisi lain tanpa menghayati dan memperhitungkan eksistensi nilai dalam lingkungannya—apalagi sampai berbuntut atropis—tentu itu sesuatu yang syah untuk [email protected]

-DS Priyadi, Pelaku Kebudayaan

back to top