Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Kalpataru lepas, karena Jogja kotor ?

Kalpataru lepas, karena Jogja kotor ?

Winda Efanur FS


Yogyakarta-KoPi, “Soal Kalpataru lepas tahun ini setelah tujuh kali berturut-turut dipertahankan. Hal ini lebih kembali kepada kebijakan pemimpin walikota. Walikota dulu kan beda sama sekarang. Toh, menjaga lebih susah dari membuat bersih”.

Sebuah pernyataan yang dilontarkan oleh Marketing farmasi, Aris hadi. Menurutnya dengan lepasnya Kalpataru tidak lantas membuat Yogyakarta dicap kota kotor. Pasalnya ada titik-titik strategis lain yang menunjukan perbaikan.

“Sekarang cenderung lebih bersih, kalau dahulu di Kranggan kotor. Orang-orang membuang sampah sembarangan. Tapi kita juga lihat tempatnya, kalau di kampung cenderung warga bisa menjaga kebersihannya, tapi untuk tempat umum kayak alun-alun utara cukup susah soalnya tidak jarang wisatawan yang membuang sampah seenaknya”, jelas Aris.

Berbeda dengan Aris Hadi, wisatawan asal Bekasi Hasan Busro melihat Yogyakarta tidak bersih dan tidak kotor. Kebersihan terlihat pada desa-desanya sedangkan tempat umum beberapa kotor.

“ Soal kebersihan jadi tanggung jawab masyarakat dan pemerintah dan yang terpenting pengawasan. Kayak Singapura kan aslinya kota kecil, menerapkan sanksi besar serta konsisten. Kalau ada pengunjung buang rokok sembarangan restoran, pemilik segera memungutnya sampahnya, Karena takut kena denda. Kalau kita masih sebatas konsep”, kata Hasan.

 

 

 

back to top