Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Jurnalisme Inklusi dan isu difabilitas tidak seksi

Jurnalisme Inklusi dan isu difabilitas tidak seksi

Sleman-KoPi|Pemberitaan difabel dalam media mendapat porsi yang sedikit dan kurang berimbang. Menanggapi hal itu SIGAB Yogyakarta mengkampanyekan ‘Jurnalisme Inklusif’ guna membangkitkan semangat media meperjuangkan hak-hak masyarakat tanpa diskriminasi.

Menurut Direktur Eksekutif Majalah Diffa, Jonna Damanik ada kekhawatiran media ketika meliput berita difabilitas. Kekhawatiran itu bisa berasal dari personal wartawannya sendiri hingga media tersebut.

“Bagi media berita difabilitas dipandang tidak seksi, kurang bisa menjual. Ada etika redaksional yang menjadi tekanan wartawan yang meliput. Semisal ada, cenderung beritanya bersifat bombastis dan seringkali terjadi dikotomi dan diskriminasi dalam struktur bahasa beritanya misalnya Si Yuyun berhasil menjadi juara meski dirinya cacat, kata meski di sini menjadi dikotomi”, papar Jonna.

Tanggapan serupa disampaikan oleh konselor Bandung Independent Living Center (BILiC), Yuyun Yuningsih, media seringkali mengabaikan perasaan difabel ketika dirinya menjadi narasumber.

“ Seringkali wartawan yang mewawancarai difabel tuna rungu, dirinya justru aktif berkomunikasi dengan interpreter (penerjemah) daripada memandang ke arah difabelnya. Dan untuk kasus difabek yang menjadi korban kekerasan seksual, ada kekurang hatian dari wartawan, sehingga dengan pemberitaan wartawan tersebut malah menjadikan difabel korban untukkedua kalinya”, jelas Yuyun.

Lebih lanjutnya, Yuyun memaparkan prinsip jurnalisme inklusi yakni :
·    Penghargaan yang layak kepada difaebel sebagai manusia yang memiliki potensi
·    Informasi difabilitas yang benarbagi masyarakat
·    Bebas dari eksploitasi
·    Perlakuan silent object
·    Perlindungan bagi difabel yang menjadi sumber informasi terkait pemberitaan difabel korban kekerasan seksual
·    Pelibatan difabel awal, selama proses dan pengambilan keputusan pemberitaan sampai publikasi |Winda Efanur FS|
 

 

 

 

back to top