Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Jokowi, mafia dan rakyat

foto: www.opendemocracy.net foto: www.opendemocracy.net
Jokowi, presiden terpilih, pada beberapa kesempatan termasuk saat munas PKB di Surabaya (31/8/14), menyatakan Indonesia menghadapi musuh besar yaitu mafia migas. Namun perlu kita sadari bahwa mafia tidak hanya bercokol dalam pengelolaan migas. Para mafia tersebut menyebar dan menguasai sektor-sektor fundamental seperti pangan, pembangunan infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan sektor lainnya.

Para mafia membangun jejaring kuat di dalam struktur politik negara seperti dewan perwakilan rakyat (DPR), pemerintahan eksekutif, dan lembaga-lembaga penegakan hukum. Para mafia sebagian nampak sebagai para pejabat dalam struktur politik tersebut, beridentas ganda sebagai pebisnis sekaligus politisi, dan atau tersembunyi bermain di balik layar.

Kepentingan paling kuat para mafia adalah mengeruk segala kekayaan negara dan bangsa untuk kepentingan diri, kelompok dan golongannya. Mereka mengumpulkan dana haram untuk menyokong langgengnya jejaring kekuasaan dalam struktur politik. Sehingga siapapun yang menjadi presiden, para mafia tetap berjaya sebagai lintah penghisap tubuh bangsa.

Jokowi, dan JK, pun tidak akan imun dari kepentingan para mafia tersebut. Secara halus, desublimasi represif, Jokowi bisa saja tunduk pada kepentingan mafia sehingga susunan kabinet pemerintahan juga diisi oleh para aktor yang sesungguhnya pendukung dari kepentingan para mafia.

Jokowi menunjuk Rini Soemarmo sebagai kepala staff Kantor Transisi yang dinilai bersih dari korupsi. Benarkah demikian? Belum ada bukti apakah Rini Soemarmo terlibat atau tidak terlibat korupsi, terutama pada kasus skandal BLBI yang sempat menjadi isu. Namun demikian, lebih jauh dari isu korupsi, apakah Rini bagian dari mafia yang selalu berupaya mengeruk kekayaan negara untuk kepentingan sendiri?

Jawaban tersebut perlu pendalaman pada historis profesionalitas, jejaring ekonomi politik, dan bentuk kebijakan Rini ke depan. Saat ini, kita tetap harus waspada bahwa para mafia tidak akan tinggal diam. Mereka tidak hanya berdiri pada satu sayap kekuasaan, namun menanamkan jejaringnya pada sayap-sayap kekuasaan. Jokowi tidak imun dari para mafia. Rakyat perlu selalu waspada dan kritis.

 

 

back to top