Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Jokowi, mafia dan rakyat

foto: www.opendemocracy.net foto: www.opendemocracy.net
Jokowi, presiden terpilih, pada beberapa kesempatan termasuk saat munas PKB di Surabaya (31/8/14), menyatakan Indonesia menghadapi musuh besar yaitu mafia migas. Namun perlu kita sadari bahwa mafia tidak hanya bercokol dalam pengelolaan migas. Para mafia tersebut menyebar dan menguasai sektor-sektor fundamental seperti pangan, pembangunan infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan sektor lainnya.

Para mafia membangun jejaring kuat di dalam struktur politik negara seperti dewan perwakilan rakyat (DPR), pemerintahan eksekutif, dan lembaga-lembaga penegakan hukum. Para mafia sebagian nampak sebagai para pejabat dalam struktur politik tersebut, beridentas ganda sebagai pebisnis sekaligus politisi, dan atau tersembunyi bermain di balik layar.

Kepentingan paling kuat para mafia adalah mengeruk segala kekayaan negara dan bangsa untuk kepentingan diri, kelompok dan golongannya. Mereka mengumpulkan dana haram untuk menyokong langgengnya jejaring kekuasaan dalam struktur politik. Sehingga siapapun yang menjadi presiden, para mafia tetap berjaya sebagai lintah penghisap tubuh bangsa.

Jokowi, dan JK, pun tidak akan imun dari kepentingan para mafia tersebut. Secara halus, desublimasi represif, Jokowi bisa saja tunduk pada kepentingan mafia sehingga susunan kabinet pemerintahan juga diisi oleh para aktor yang sesungguhnya pendukung dari kepentingan para mafia.

Jokowi menunjuk Rini Soemarmo sebagai kepala staff Kantor Transisi yang dinilai bersih dari korupsi. Benarkah demikian? Belum ada bukti apakah Rini Soemarmo terlibat atau tidak terlibat korupsi, terutama pada kasus skandal BLBI yang sempat menjadi isu. Namun demikian, lebih jauh dari isu korupsi, apakah Rini bagian dari mafia yang selalu berupaya mengeruk kekayaan negara untuk kepentingan sendiri?

Jawaban tersebut perlu pendalaman pada historis profesionalitas, jejaring ekonomi politik, dan bentuk kebijakan Rini ke depan. Saat ini, kita tetap harus waspada bahwa para mafia tidak akan tinggal diam. Mereka tidak hanya berdiri pada satu sayap kekuasaan, namun menanamkan jejaringnya pada sayap-sayap kekuasaan. Jokowi tidak imun dari para mafia. Rakyat perlu selalu waspada dan kritis.

 

 

back to top