Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Johan Galtung: Begawan Studi Konflik

Johan Galtung: Begawan Studi Konflik

Berbagai relasi antar manusia, antar kelompok, dan antar negara tidak pernah bersih dari muatan kepentingan, penguasaan, permusuhan, dan penindasan. Inilah kodrat sosial dalam sejarah masyarakat manusia. Rasa cinta dan empati seperti lapisan tipis yang tidak mampu menjaga relasi harmonis secara permanen. Sehingga manusia membangun berbagai pengetahuan (nilai) dan aturan sosial (norma) untuk menjaga tubuh masyarakat yang disusun oleh rentannya relasi-relasi sosial tersebut. Namun demikian nilai dan norma sosial memiliki sifat yang statis, pada tingkat kritis tidak mampu membuka peluang pemecahan masalah pada saat relasi sosial memanas oleh kepentingan dan perilaku bermusuhan yang terlepas dari prosedur norma dan etika nilai sosial. Kondisi inilah yang menciptakan krisis relasi sosial yang mana setiap subyek jatuh pada berbagai pilihan untuk menjatuhkan dan meniadakan subyek lain.

Kekerasan pada gilirannya adalah instrumen yang paling sering digunakan oleh krisis relasi sosial karena kekerasan merupakan naluri dan sekaligus bentuk nalar itu sendiri. Johan Galtung adalah sosok akademisi konflik dan perdamaian yang mentasbihkan dirinya pada masalah manusia tersebut, bagaimana krisis relasi sosial yang disebut sebagai konflik kekerasan mampu mencapai kondisi equilibrium nilai dan norma sosial, yang secara teknis disebutnya sebagai pemecahan masalah (problem solving). Pemecahan masalah adalah kondisi yang diciptakan melalui proses sinergis dan dinamis dari berbagai kelompok kepentingan alam relasi konflik. Persoalannya bagaimana proses sinergis dan dinamis ini bisa dibangun?

Biografi Galtung

Sebelum masuk pada pemikiran utama Galtung mengenai cara pencapaian pemecahan masalah, perlu diketahui figur dari seorang aktivis perdamaian ini. Galtung lahir di Oslo pada 24 Oktober 1930 dari keluarga ilmu eksak. Ia menamatkan kuliah sarjana pada bidang matematika di Universitas Oslo. Bidang ilmu ini memberi pondasi positivisme ilmu sosialnya ketika ia melanjutkan studi doktoralnya pada bidang sosiologi di Universitas yang sama. Pada tahun 1959 ia menjadi asisten profesor di Departemen Sosiologi Universitas Columbia US, dan kembali ke Norwegia untuk mendirikan International Peace Research Institute (PRIO).

Pendirian pusat kajian konflik ini tidak lepas dari pengaruh tradisi sosiologi konflik yang sedang mendapatkan tempat pada tahun 50-an dan 60-an di Amerika Serikat melalui karya-karya Lewis Coser dan Ralf Dahrendorf. Melalui PRIO, Galtung masuk lebih dalam pada fakta konflik masyarakat manusia dan upaya menjawab berbagai krisis relasi sosial yang muncul dalam masyarakat dunia. Saat ini ia membentuk ’TRANSCEND’ a Network for Peace and Development di Norwegia. Nama Transcend ini sekaligus merupakan pendekatannya yang saat ini menjadi perhatian ilmuwan konflik dan aktivis perdamaian.

Berbagai karya besar telah disumbangkannya pada masyarakat dunia, melalui lebih dari 1000 artikel dan 100 buku. Beberapa buku penting Galtung seperti Peace by Peaceful Means: Peace and Conflict Development and Civilization (1996), Transcend Approach the Road to Peace (2000), Searching for Peace: The Road to Transcend (2002), dan Transcend and Transform: An Introduction to Conflict Work (2004) memberi pengaruh besar pada upaya pemecahan masalah dari berbagai krisis relasi sosial. Karya-karya Galtung merupakan hasil kerja empiris dan sekaligus akademis yang panjang dalam berbagai kasus konflik dunia, baik konflik antar negara dan dalam negara.

Pendekatan Transcend

Galtung melihat bahwa setiap krisis relasi sosial terdapat berbagai tingkatan sifat penyelesaian. Setiap tingkat sifat penyelesaian mempunyai resiko dan kendala-kendalanya yang berbeda. Galtung memilahnya menjadi tingkat penyelesaian yielding (mengalah), withdrawal (menarik diri), contending (menyerang) compromising (kompromi), dan problem solving (pemecahan masalah). Tingkat penyelesaian pemecahan masalah berada pada tingkat tertinggi yang mana masing-masing pihak konflik melakukan pertukaran empati dan menciptakan kesepakatan yang prakteknya merupakan jawaban dari muatan kepentingan dari relasi krisis sosial. Tingkat pemecahan masalah adalah kondisi ideal yang pada banyak kasus hanya sebagian saja yang bisa mencapainya. Pada konteks inilah Galtung mengaya ’transcend approach’ yang secara bahasa bisa ditertejemahkan sebagai pendekatan ’keluar dari keterbatasan’.

Pendekatan transcend memberi pondasi usaha cara penyelesaian yang bisa dilakukan ‘di sini’ dan ‘sekarang’ (here and now), dan akan dilakukan secara terus menerus apabila setiap pihak dalam krisis relasi sosial bersepakat atas konsep jalan keluar tersebut (Galtung, 2004). Pada suatu krisis relasi sosial paling akut yang ditandai oleh cara-cara penyelesaian contending karena dendam dan lingkaran perilaku kekerasan, pencapaian pemecahan masalah merupakan proses politik yang berat. Ketertutupan dan kepentingan eksklusif membatasi setiap pihak menyadari akar penyebab konflik dan jawaban-jawaban strategis bagi kepentingan yang sedang diperjuangkan. Proses ini menciptakan zero-sum game yang berarti hancur atau menang. Jika beberapa pihak berkonflik beruntung, seperti kondisi stale-mate yang mana habisnya tenaga politik dan sumberdaya berkonflik membuat mereka perlu melakukan penyelesaian kompromi. Yaitu penyelesaian yang tidak tuntas. Seperti pada kasus konflik korban lumpur Lapindo dan PT. Lapindo Berantas, yang mana korban harus menerima kesepakatan yang sebenarnya tidak menyelesaikan akar permasalahan dari sebab hubungan konflik.

Bagi Galtung untuk ‘keluar dari keterbatasan’ dan mencapai pemecahan masalah maka setiap krisis relasi sosial perlu pihak lain untuk menekan kekerasan, mendorong setiap subyek kembali pada kesadaran, dan menciptakan peluang pertukaran empati. Pihak tersebut adalah mediator konflik yang diterima sebagai ’netral’. Galtung mempercayai bahwa posisi netral adalah proses politik yang melibatkan setiap subyek yang berada dalam konflik. Seperti terpilihnya Marti Ahtiisari bersama CMI (Crisis Management Initiative) sebagai mediator konflik GAM dan Pemerintah Indonesia. CMI menjadi netral karena dianggap mampu melakukan tugas-tugas mediasi oleh pihak-pihak berkonflik. Karena netralitas sosial tidak sama dengan netralitas fisika. Pada saat bersamaan CMI menjadi bagian dari konflik dan proses negosiasi sehingga memiliki peluang melakukan penawaran alternatif pemecahan masalah melalui politik yang transparan. Empirisnya, konflik GAM dan Pemerintah Indonesia mencapai pemecahan masalah. Sedangkan konflik korban lumpur lapindo dan PT. Lapindo Berantas hanya mencapai jalan kompromi.

Kritik Pragmatisme Galtung

Beberapa kalangan ilmuwan sosial menyebut karya-karya Galtung berciri pada metodologi pragmatisme dalam menangani masalah krisis-krisis relasi sosial (Wolfgang, 2008). Hal ini tercermin dari pendekatan transcend Galtung yang berpijak pada berbagai tradisi metodologi ilmu sosial, dari positivisme, humanisme, dan post-struktukturalisme. Pendekatan transcend yang menempatkan terma netral dan intervensi melakukan perubahan yang dianggap relevan dan menguntungkan semua pihak adalah bentuk pragmatisme tersebut.

Terma netral berangkat dari tradisi positivisme ilmu sosial, yang mangklaim keberhasilan penciptaan formulasi obyektif yang berlaku universal dan bebas dari kepentingan subyektifitas. Klaim inilah menciptakan terma netral bagi berbagai formulasi ilmu sosial, termasuk formulasi teori konflik. Mediator konflik sebagai bagian dari formulasi itu pada gilirannya adalah netral, ia bekerja pada prinsip-prinsip ilmiah, yang tidak memihak dan bebas kepentingan subyektif. Galtung pun memberi porsi netralitas ini pada peran mediasi konflik, namun dia juga memberi porsi keterlibatan mediator diantara dua pihak berkonflik dalam bentuk intervensi yang berpihak. Seperti mediator konflik bisa memberi porsi kekuatan politik pada salah satu pihak berkonflik jika dipandang perlu agar terjadi keseimbangan kekuatan politik dalam proses negosiasi. Pandangan ini merupakan tradisi ilmu sosial kritis yang menolak terma netral tradisi positivisme ilmu sosial.

Apapun kritik yang telah muncul, sumbangan Galtung terhadap studi konflik dan perdamaian tampak luar biasa pengaruhnya terhadap transformasi konflik dunia. Tradisi pragmatisme studi konflik Galtung menjadi pijakan metodologis bagi transcend approach, menjadi sangat menarik untuk dijadikan sebagai cara menciptakan perdamaian (peace methodology) seperti bagaimana seharusnya konflik korban lumpur Lappindo, PKL dan hunian ilegal, sampai konflik sumber daya alam kelautan bisa didekati dan dicarikan solusinya. Sayangnya negara melalui pemerintahan daerah, seperti Surabaya, belum mampu membangun peace methodology ini. Semoga saja pemerintah daerah sebagai ujung tombak perdamaian Indonesia segera menyadari pentingnya mentransplantasi peace methodology.*** |Novri Susan dan Tim Litbang KoPi|

back to top