Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

“Jogja Istimewa” Dinilai Kurang Tersosialisasikan Dengan Baik

“Jogja Istimewa” Dinilai Kurang Tersosialisasikan Dengan Baik

Jogja-KoPi| Perubahan tagline “Jogja Never Ending Asia” menjadi “Jogja Istimewa” pada 31 Agustus 2012 lalu, dan mulai digalakkan pada awal tahun 2015 belum disosialisasikan dengan baik kepada seluruh masyarakat Kota Yogyakarta.

Perubahan tagline bagi kota pelajar, kota budaya, dan bahkan sebagai Never Ending-nya Asia, Humas Pemerintah Kota Yogyakarta sebagai komunikator dan mediator dalam proses sosialisasi antara pemerintah dan masyarakat Kota Yogyakarta sangat diperlukan.

Terlebih di era komunikasi digital, pemanfaatan media komunikasi Digital Public Relations (PR) menjadi hal urgent yang dapat dilakukan dalam proses sosialisasi.

“Tagline baru Kota Yogyakarta dibutuhkan proses sosialisasi agar bisa diterima oleh seluruh elemen masyarakat Kota Yogyakarta. Jika pemerintah dapat memanfaatkan digital PR, dalam proses sosialisasi “Jogja Istimewa” sebagai branding baru Kota Yogyakarta akan lebih cepat, tepat, dan efektif tersosialisasi kepada seluruh elemen masyarakat di Kota Yogyakarta.

Dengan demikian Daerah Istimewa Yogyakarta yang lebih berkarakter, berbudaya, maju, mandiri, dan sejahtera menyongsong peradaban baru dapat dengan mudah terwujud,” jelas Frizky Yulianti Nurnisya, M.Si., selaku panelis dalam diskusi panel di Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) lantai 1, Sabtu (29/10), dalam acara Asian Congress for Media and Communication (ACMC), yang telah diselenggarakan sejak Kamis (27/10).

Frizky melanjutkan, perubahan tagline atau branding Yogyakarta tersebut disebabkan semakin ketatnya persaingan pariwisata antar daerah di Indonesia. Akan tetapi perubahan branding tersebut justru banyak mendapat kritikan dari berbagai elemen masyarakat.

“Sebagai pusat pendidikan dan daerah yang sarat dengan seni bahkan menghasilkan seniman internasional, banyak masyarakat yang tidak hanya mengkritik logo tersebut, namun juga ikut sumbang saran untuk mengatasi persoalan logo ini. Hingga akhirnya terbentuklah tim sebelas dari berbagai kalangan untuk mewakili aspirasi seluruh masyarakat,”lanjutnya.

Peran Humas Pemerintah Kota Yogyakarta dalam sosialisasi tagline baru tersebut, Frizky menambahkan, hanya sebagai pelaksana atau implementator saja untuk memperkenalkan adanya branding baru kota Yogyakarta.

“Hal ini tentu sangat disayangkan karena posisi humas dalam sebuah instansi memiliki peranan penting untuk mendengar pendapat dari seluruh stakeholder. Tidak berlebihan jika kemudian humas dianggap bisa memiliki pertimbangan yang lebih matang karena bisa berada diantara kepentingan seluruh stakeholder,” ujarnya.

Sementara itu, diskusi panel yang menjadi salah satu rangkaian acara ACMC (Asian Congress for Media and Communication) bertemakan “Bagaimana Komunikasi Mengubah Struktur Kekuasaan,” dihadiri oleh lebih dari 80 akademisi dari beberapa negara di Asia.

Dijelaskan oleh Rachel E. Khan selaku ketua ACMC saat diwawancarai pada waktu yang sama, Rachel mengatakan bahwa ACMC merupakan organisasi bagi profesional akademik di bidang komunikasi dan media massa.

“Konferensi Internasional yang saat ini diadakan di UMY dalam rangka perayaan 10 tahun berdirinya ACMC. Sebelumnya ACMC diadakan di negara-negara yang berbeda, yang pertama tahun 2008 di Davao, Filipina. Kedua di Penang, Malaysia. Ketiga di Bangkok, Thailand. Keempat di Hongkong, dan sekarang ini adalah konferensi kelima,” jelasnya. Dan dalam konferensi kelima ini, UMY mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah dari penyelenggaraannya.

Rachel memaparkan, Konferensi ACMC yang bekerjasama dengan universitas penyelenggara yang memiliki minat pada tema saat ini merupakan wadah pertemuan dari berbagai negara ASEAN untuk saling berbagi ilmu di bidang komunikasi dan media massa.

“Tujuan utama dari konferensi ini yaitu agar semua peserta yang hadir dapat saling berbagi ilmu antar satu sama lain. Itu tujuan yang paling penting. Selain itu dengan terbentuknya networking (jaringan, red) dari kolega-kolega kami dari penjuru Asia. Ini salah satu cara untuk memperluas kolaborasi baik antar negara maupun antar universitas,” paparnya. (hv)

back to top