Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Prev Next

Jilbab, lifestyle atau kehormatan?

foto: www.examiner.com foto: www.examiner.com
KoPi. Kini mengenakan jilbab (hijab) bukan merupakan praktik yang sulit. Pada era 70-an dan 80-an, praktik berjilbab mendapatkan rintangan dari pemerintahan Orde Baru. Remaja berjilbab di lingkungan SMA (negeri) tidak akan mendapatkan perlakuan adil. Pemerintah melarangnya. Entah karena kebencian penguasa, atau tujuan politik yang phobia pada tumbuhnya komunitas muslim.

Alam demokrasi sekarang ini, membawa ruang terbuka bagi praktik berbusana dengan jilbab. Butik-butik busna jilbab, atau umum dikenal dengan butik muslimah, menumbuh subur. Setiap kota di Indonesia dipastikan memiliki butik-butik yang menawarkan busana berjilbab. Kreasi jilbab mendorong mode-mode busana muslimah yang kaya ragam.

Atas kerja kreasi busana muslimah, baik desain baju dan jilbab, Indonesia menjadi pusat mode busana muslimah dunia. Sebagaimana Prapancha Research pernah melaporkan pada periode 2013 lalu.

Perkembangan mode busana-busana muslimah selain didorong oleh kekuatan kreatif para produsen dan desainer, juga dipengaruhi secara kuat oleh respon pasar. Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam merupakan faktor sosiologis fundamental yang mendukung perkembangan industri fashion busana muslimah dan jilbab.

Menurut pakar perilaku perempuan dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Dr. Anis Farida, busana muslimah seperti jilbab dengan variasi modelnya menjadi lifestyle (gaya hidup) di setiap lingkungan. Busana muslimah dan jilbab kini bahkan tidak lagi soal kewajiban (syar'i) atau tidak. Namun menurut doktor sosiologi ini, busana muslimah juga terkait dengan prasyarat bergaul. Wanita muslim bisa diterima atau tidak oleh komunitas tertentu saat ini dilihat dari cari berbusananya.

"Busana muslimah, termasuk jilbab dan baju gamis, menjadi simbol wanita ada pada komunitas yang mana. Ini berarti, jilbab dan mode busana muslimah adalah gaya hidup."

Namun demikian, Anis Farida menambahkan bahwa itu merupakan gaya hidup yang baik, elegan dan terhormat. Sebab gaya hidup berbusana muslimah memberi ruang bagi pelaksanaan kewajiban keagamaan dan tidak terkesan 'murahan'. Walaupun demikian menurutnya, busana muslimah perlu tetap dilandaskan pada kesederhanaan dalam perkembangan progresifnya.

Para muslimah, tentu ingin memiliki gaya hidup yang terhormat bukan?*

 

Reporter: YP.

back to top