Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Jilbab, lifestyle atau kehormatan?

foto: www.examiner.com foto: www.examiner.com
KoPi. Kini mengenakan jilbab (hijab) bukan merupakan praktik yang sulit. Pada era 70-an dan 80-an, praktik berjilbab mendapatkan rintangan dari pemerintahan Orde Baru. Remaja berjilbab di lingkungan SMA (negeri) tidak akan mendapatkan perlakuan adil. Pemerintah melarangnya. Entah karena kebencian penguasa, atau tujuan politik yang phobia pada tumbuhnya komunitas muslim.

Alam demokrasi sekarang ini, membawa ruang terbuka bagi praktik berbusana dengan jilbab. Butik-butik busna jilbab, atau umum dikenal dengan butik muslimah, menumbuh subur. Setiap kota di Indonesia dipastikan memiliki butik-butik yang menawarkan busana berjilbab. Kreasi jilbab mendorong mode-mode busana muslimah yang kaya ragam.

Atas kerja kreasi busana muslimah, baik desain baju dan jilbab, Indonesia menjadi pusat mode busana muslimah dunia. Sebagaimana Prapancha Research pernah melaporkan pada periode 2013 lalu.

Perkembangan mode busana-busana muslimah selain didorong oleh kekuatan kreatif para produsen dan desainer, juga dipengaruhi secara kuat oleh respon pasar. Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam merupakan faktor sosiologis fundamental yang mendukung perkembangan industri fashion busana muslimah dan jilbab.

Menurut pakar perilaku perempuan dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Dr. Anis Farida, busana muslimah seperti jilbab dengan variasi modelnya menjadi lifestyle (gaya hidup) di setiap lingkungan. Busana muslimah dan jilbab kini bahkan tidak lagi soal kewajiban (syar'i) atau tidak. Namun menurut doktor sosiologi ini, busana muslimah juga terkait dengan prasyarat bergaul. Wanita muslim bisa diterima atau tidak oleh komunitas tertentu saat ini dilihat dari cari berbusananya.

"Busana muslimah, termasuk jilbab dan baju gamis, menjadi simbol wanita ada pada komunitas yang mana. Ini berarti, jilbab dan mode busana muslimah adalah gaya hidup."

Namun demikian, Anis Farida menambahkan bahwa itu merupakan gaya hidup yang baik, elegan dan terhormat. Sebab gaya hidup berbusana muslimah memberi ruang bagi pelaksanaan kewajiban keagamaan dan tidak terkesan 'murahan'. Walaupun demikian menurutnya, busana muslimah perlu tetap dilandaskan pada kesederhanaan dalam perkembangan progresifnya.

Para muslimah, tentu ingin memiliki gaya hidup yang terhormat bukan?*

 

Reporter: YP.

back to top