Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Jilbab, lifestyle atau kehormatan?

foto: www.examiner.com foto: www.examiner.com
KoPi. Kini mengenakan jilbab (hijab) bukan merupakan praktik yang sulit. Pada era 70-an dan 80-an, praktik berjilbab mendapatkan rintangan dari pemerintahan Orde Baru. Remaja berjilbab di lingkungan SMA (negeri) tidak akan mendapatkan perlakuan adil. Pemerintah melarangnya. Entah karena kebencian penguasa, atau tujuan politik yang phobia pada tumbuhnya komunitas muslim.

Alam demokrasi sekarang ini, membawa ruang terbuka bagi praktik berbusana dengan jilbab. Butik-butik busna jilbab, atau umum dikenal dengan butik muslimah, menumbuh subur. Setiap kota di Indonesia dipastikan memiliki butik-butik yang menawarkan busana berjilbab. Kreasi jilbab mendorong mode-mode busana muslimah yang kaya ragam.

Atas kerja kreasi busana muslimah, baik desain baju dan jilbab, Indonesia menjadi pusat mode busana muslimah dunia. Sebagaimana Prapancha Research pernah melaporkan pada periode 2013 lalu.

Perkembangan mode busana-busana muslimah selain didorong oleh kekuatan kreatif para produsen dan desainer, juga dipengaruhi secara kuat oleh respon pasar. Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam merupakan faktor sosiologis fundamental yang mendukung perkembangan industri fashion busana muslimah dan jilbab.

Menurut pakar perilaku perempuan dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Dr. Anis Farida, busana muslimah seperti jilbab dengan variasi modelnya menjadi lifestyle (gaya hidup) di setiap lingkungan. Busana muslimah dan jilbab kini bahkan tidak lagi soal kewajiban (syar'i) atau tidak. Namun menurut doktor sosiologi ini, busana muslimah juga terkait dengan prasyarat bergaul. Wanita muslim bisa diterima atau tidak oleh komunitas tertentu saat ini dilihat dari cari berbusananya.

"Busana muslimah, termasuk jilbab dan baju gamis, menjadi simbol wanita ada pada komunitas yang mana. Ini berarti, jilbab dan mode busana muslimah adalah gaya hidup."

Namun demikian, Anis Farida menambahkan bahwa itu merupakan gaya hidup yang baik, elegan dan terhormat. Sebab gaya hidup berbusana muslimah memberi ruang bagi pelaksanaan kewajiban keagamaan dan tidak terkesan 'murahan'. Walaupun demikian menurutnya, busana muslimah perlu tetap dilandaskan pada kesederhanaan dalam perkembangan progresifnya.

Para muslimah, tentu ingin memiliki gaya hidup yang terhormat bukan?*

 

Reporter: YP.

back to top