Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Jepang: Antara Sejarah dan Pelajaran

Jepang: Antara Sejarah dan Pelajaran

Oleh: Rio F. Rachman


Kepahitan bangsa Indonesia ketika dijajah Jepang digambarkan dengan jelas dalam cerpen berlatar sejarah karya Budi Darma berjudul Misbahul (Jawa Pos, 7/11/2010). Misalnya, tentang tentara negeri Nippon yang gemar menjadikan perempuan sebagai hiburan pemuas nafsu bejat. Hobi menjebak dan licik serta gemar melihat orang sengsara bermodus memberi kesempatan menonton bioskop gratis padahal di bangku bioskop sudah lebih dulu disebari kutu busuk. Konon, tak hanya Indonesia, di negeri jajahan lainnya seperti Tiongkok, Taiwan, Papua Nugini, pun tentara Sakura suka berbuat brutal seperti itu.

Pernah dalam suatu film berlatar sejarah, Jepang yang merupakan penjajah menyuruh para pendekar dari negeri jajahannya untuk bertarung dengan jagoan Nippon. Bila pendekar pribumi menang, dia berhak menerima satu karung kecil beras dari Jepang. Beras itu sebenarnya hasil rampasan Jepang dari negeri jajahan. Sedangkan bila kalah, pendekar pribumi itu dibunuh.
   
Bisa dibilang, Jepang ketika menjadi penjajah kerap berbuat cabul. Hal itu bisa dibuktikan dengan sejumlah istilah yang sampai sekarang masih mengabadi, Jugun Ianfu (perempuan budak seks tentara Jepang di negeri jajahan) dan Kembang Jepun (kawasan di Surabaya tempat tentara Jepang mencari perempuan pelampias seks). Negeri itu juga hobi menindas. Istilah Romusha (pekerja paksa) menjadi bukti peninggalan yang mengekal.
   
Pada Agustus 1945, Amerika melepaskan bom atom ke dua kota di Jepang: Hiroshima dan Nagasaki. Sejak saat itu, Matahari Terbit lebih memilih fokus membenahi dalam negerinya yang luluh lantak dari pada menginvasi Negara lain. Jepang yang superior, runtuh seketika karena si Little Boy dan Fat Man. Dua bom atom yang dijatuhkan Paman Sam pada 6 dan 9 Agustus 1945. Keadaan itu disimbolkan Kawabata Yasunari, peraih nobel sastra 1968 asal Jepang dalam karyanya berjudul The Master of Go (1951).

Tokoh utama novel tersebut, Honnimbo Shusai, seorang pemain Go (sejenis catur dari Jepang, permainan adu strategi perang) yang tersohor dan digdaya. Namun, akhirnya takluk dan harus mengakui kehebatan penantang pemula, Otake. Bisa jadi, kisah tersebut juga merupakan analogi keruntuhan kultur angkat senjata Nippon yang kemudian menjelma jadi awal kultur berjabat tangan.
   
Jepang memang luka. Namun, tidak butuh waktu terlampau lama, Jepang memulih. Sekarang, sudah tidak ada sisa-sisa kehancuran di Hiroshima dan Nagasaki. Jepang menjadi salah satu negara terhebat di dunia dan sangat berkarakter. Dari segi seni, cara berpakaian, dan kreatifitas bahkan jargon, negeri Sakura memunyai sisi menarik nan berbeda dengan negeri-negeri lain.

Dengarkan lagu beraliran rock dari Jepang. Selalu kental dengan cabikan bass yang melompat-lompat di setiap ketukan. Musik popnya, penuh dengan irama melodik tuts keyboard dan dentingan gitar yang mendayu tajam. Siapa saja yang mendengar lagu atau nada-nada itu, akan dengan mudah mengidentifikasi asal negeri kelahiran lagu tanpa harus mendengar suara vokalis mendendangkan lirik lagu berlafal kanji.

Di sisi lain, lihatlah para remaja jepang yang berkumpul dan bercengkrama di kawasan Harajuku, sekitar Stasiun JR Harajuku, Distrik Shibuya, Tokyo. Dandanan dan warna asal tubruk yang mungkin akan lebih terkesan norak serupa orang gila bila dipakai di negara lain, justru menjadi pusaran idola. Bahkan, karakter unik tersebut sedikit demi sedikit menjangkit ke wilayah lain di Jepang, bahkan dunia!

Jepang bisa bangkit dengan cepat dan konsisten karena karakter bangsa itu sendiri. Bangsa Jepang tak takut bermimpi. Mereka juga tidak takut berpeluh-berdarah mengejar mimpi. Percayalah pada kekuatan mimpi, kata Soichiro Honda, salah satu intelektual otomotif dan pakar mesin Jepang.

Masutatsu Oyama, guru besar karate Kyokushin selalu berpesan pada muridnya sebelum pertandingan berlangsung, “Kalau masih tersedia untuk nomor satu, jangan berpikir untuk mengambil nomor dua,”. Menjadi nomer satu tidaklah mudah, tetapi jangan bangga menjadi nomor dua. Menjadi nomor satu adalah pilihan terbaik dari pilihan yang tersedia di alam (The Ethos of Sakura, Imam Robandi: 2010).

Pemikiran-pemikiran semacam itulah yang mempengaruhi salah satu negeri Asia Timur itu. Lantas, mungkin karena belajar dari sejarah pahit tentang keangkuhan yang pasti hancur dan penjajahan yang hanya melahirkan kesengsaraan, Jepang yang sebenarnya memiliki persenjataan militer maha lengkap dan canggih, enggan menarik pelatuk perselisihan. Negeri Oshin mengakrab dengan negara lain, termasuk mantan jajahan seperti Indonesia.

Nippon banyak beramal. Membangun sekolah gratis atau menyumbang sarana laboratorium ke berbagai negara berkembang. Termasuk, ke Indonesia. Misalnya, pada 2 November 2010. Jepang menghibahkan dana sekitar Rp 850 juta untuk pengadaan alat laboratorium bahasa yang dilengkapi berbagai sarana kemudahan belajar bahasa Jepang di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. Jepang juga sempat menyumbang New Orleans, AS, yang diterjang Badai Katrina 2005 silam.
   
Tersebutlah sebuah jargon: Jas Merah. Jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Bagaimana pun baiknya Jepang saat ini, sejarah pahit yang pernah dituliskan negeri Meiji tidak boleh lantas dilupakan. Mengingat sejarah bukan semata alat untuk membenci atau merekam sebuah tirani.

Sebaliknya, ini adalah pelajaran. Bahwa sehebat apapun negara, tidak pantas sombong membusungkan dada. Tidak ada gading yang tak retak, seperti halnya si tupai yang hebat meloncat pun mesti berkemungkinan terpeleset.  Sedangkan dengan kerendahan hati dan semangat memperbaiki diri, kebengisan di masa silam akan hanya menjadi sejarah, bukan benih dendam atau bibit permusuhan.---//

back to top