Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Jember Lebih Beradab dari Kota Surabaya

Jember Lebih Beradab dari Kota Surabaya

Surabaya – KoPi. Kebudayaan merupakan jati diri dari peradaban suatu bangsa. Matinya kegiatan kesenian dan kebudayaan di kota Surabaya, tidak hanya disebabkan oleh hantaman arus modernisasi tetapi juga karena pemerintah kota dianggap tidak serius dalam memperhatikan kehidupan seni dan budaya kota Surabaya.

Chrisman Hadi selaku ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS) ketika ditemui dalam sebuah pagelaran seni di Museum Bank Indonesia (17/4/2014), mengatakan jika Pemerintah kota (Pemkot) tidak serius memperhatikan kehidupan seni dan budaya di kota Surabaya.

 

Chrisman Hadi yang akrab disapa Cak Chris melihat dana anggaran sebesar 90 Juta yang dikucurkan kepada DKS pertahunnya merupakan bukti ketidakseriusan Pemkot Surabaya dalam memeprhatikan kehidupan seni dan budaya di kota Surabaya. “Kalau kita perhatikan, surabaya itu Pendapatan Asli Daerah (PAD) nya 64 Triliun setahunnya, ngasih DKS nya itu 90 juta sekian, itupun dikasih pertriwulan kaya’ orang ngemis gitu, per tiga bulan harus mengajukan anggaran” ungkapnya.

 

Anggaran 90 juta sekian pertahun memang dirasa sangat kecil jika dibandingkan dengan PAD kota Surabaya itu sendiri yang sebesar 64 Triliun Rupiah, sehingga dirasakan wajar jika kegiatan seni dan budaya tradisional yang ada di kota Surabaya pada saat ini seakan berjalan di tempat dan semakin lama makin pudar.

 

Cak Chris kemudian menambahkan jika saat ini kota Jember lebih beradab dari kota Surabaya. Menurutnya, Pemkot Jember lebih mendukung kegiatan seni dan budaya di kota Jember yang membuat kota tersebut menjadi lebih beradab jika dibandingkan dengan kota Surabaya.

 

“Bandingkan dengan Jember. Jember itu APBD nya pertahun 1,7 T, tapi pertahun bisa ngasih dewan keseniannya saya dengan sekarang malah 1,3M. Itu tanda bahwa pemerintah kota itu serius, bahwa Jember lebih beradab dari kota Surabaya. Sehingga menurut saya, salah satu ukuran melihat kota itu beradab atau tidak itu dari bagaimana pemerintah kota mensupport kegiatan kesenian dan budaya” pungkasnya.***

 

 

Reporter : Aditya Candra Lesmana

back to top