Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Jember Lebih Beradab dari Kota Surabaya

Jember Lebih Beradab dari Kota Surabaya

Surabaya – KoPi. Kebudayaan merupakan jati diri dari peradaban suatu bangsa. Matinya kegiatan kesenian dan kebudayaan di kota Surabaya, tidak hanya disebabkan oleh hantaman arus modernisasi tetapi juga karena pemerintah kota dianggap tidak serius dalam memperhatikan kehidupan seni dan budaya kota Surabaya.

Chrisman Hadi selaku ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS) ketika ditemui dalam sebuah pagelaran seni di Museum Bank Indonesia (17/4/2014), mengatakan jika Pemerintah kota (Pemkot) tidak serius memperhatikan kehidupan seni dan budaya di kota Surabaya.

 

Chrisman Hadi yang akrab disapa Cak Chris melihat dana anggaran sebesar 90 Juta yang dikucurkan kepada DKS pertahunnya merupakan bukti ketidakseriusan Pemkot Surabaya dalam memeprhatikan kehidupan seni dan budaya di kota Surabaya. “Kalau kita perhatikan, surabaya itu Pendapatan Asli Daerah (PAD) nya 64 Triliun setahunnya, ngasih DKS nya itu 90 juta sekian, itupun dikasih pertriwulan kaya’ orang ngemis gitu, per tiga bulan harus mengajukan anggaran” ungkapnya.

 

Anggaran 90 juta sekian pertahun memang dirasa sangat kecil jika dibandingkan dengan PAD kota Surabaya itu sendiri yang sebesar 64 Triliun Rupiah, sehingga dirasakan wajar jika kegiatan seni dan budaya tradisional yang ada di kota Surabaya pada saat ini seakan berjalan di tempat dan semakin lama makin pudar.

 

Cak Chris kemudian menambahkan jika saat ini kota Jember lebih beradab dari kota Surabaya. Menurutnya, Pemkot Jember lebih mendukung kegiatan seni dan budaya di kota Jember yang membuat kota tersebut menjadi lebih beradab jika dibandingkan dengan kota Surabaya.

 

“Bandingkan dengan Jember. Jember itu APBD nya pertahun 1,7 T, tapi pertahun bisa ngasih dewan keseniannya saya dengan sekarang malah 1,3M. Itu tanda bahwa pemerintah kota itu serius, bahwa Jember lebih beradab dari kota Surabaya. Sehingga menurut saya, salah satu ukuran melihat kota itu beradab atau tidak itu dari bagaimana pemerintah kota mensupport kegiatan kesenian dan budaya” pungkasnya.***

 

 

Reporter : Aditya Candra Lesmana

back to top