Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

Jember Lebih Beradab dari Kota Surabaya

Jember Lebih Beradab dari Kota Surabaya

Surabaya – KoPi. Kebudayaan merupakan jati diri dari peradaban suatu bangsa. Matinya kegiatan kesenian dan kebudayaan di kota Surabaya, tidak hanya disebabkan oleh hantaman arus modernisasi tetapi juga karena pemerintah kota dianggap tidak serius dalam memperhatikan kehidupan seni dan budaya kota Surabaya.

Chrisman Hadi selaku ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS) ketika ditemui dalam sebuah pagelaran seni di Museum Bank Indonesia (17/4/2014), mengatakan jika Pemerintah kota (Pemkot) tidak serius memperhatikan kehidupan seni dan budaya di kota Surabaya.

 

Chrisman Hadi yang akrab disapa Cak Chris melihat dana anggaran sebesar 90 Juta yang dikucurkan kepada DKS pertahunnya merupakan bukti ketidakseriusan Pemkot Surabaya dalam memeprhatikan kehidupan seni dan budaya di kota Surabaya. “Kalau kita perhatikan, surabaya itu Pendapatan Asli Daerah (PAD) nya 64 Triliun setahunnya, ngasih DKS nya itu 90 juta sekian, itupun dikasih pertriwulan kaya’ orang ngemis gitu, per tiga bulan harus mengajukan anggaran” ungkapnya.

 

Anggaran 90 juta sekian pertahun memang dirasa sangat kecil jika dibandingkan dengan PAD kota Surabaya itu sendiri yang sebesar 64 Triliun Rupiah, sehingga dirasakan wajar jika kegiatan seni dan budaya tradisional yang ada di kota Surabaya pada saat ini seakan berjalan di tempat dan semakin lama makin pudar.

 

Cak Chris kemudian menambahkan jika saat ini kota Jember lebih beradab dari kota Surabaya. Menurutnya, Pemkot Jember lebih mendukung kegiatan seni dan budaya di kota Jember yang membuat kota tersebut menjadi lebih beradab jika dibandingkan dengan kota Surabaya.

 

“Bandingkan dengan Jember. Jember itu APBD nya pertahun 1,7 T, tapi pertahun bisa ngasih dewan keseniannya saya dengan sekarang malah 1,3M. Itu tanda bahwa pemerintah kota itu serius, bahwa Jember lebih beradab dari kota Surabaya. Sehingga menurut saya, salah satu ukuran melihat kota itu beradab atau tidak itu dari bagaimana pemerintah kota mensupport kegiatan kesenian dan budaya” pungkasnya.***

 

 

Reporter : Aditya Candra Lesmana

back to top