Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Jeda penuh harapan pasca kebakaran Pasar Klewer Solo

surakarta.go.id surakarta.go.id

Pergantian tahun selalu membawa harapan, setidaknya juga bagi seluruh komunitas pasar Klewer yang baru saja mengalami musibah kebakaran yang meludeskan sumber kehidupan mereka pada akhir tahun lalu (27/12/14). 

Si jago merah tidak hanya menghancurkan fisik pasar beserta isinya, namun juga mengancam menghanguskan harapan-harapan seluruh pihak yang bersentuhan langsung maupun tidak langsung dengan pasar Klewer.  

Pasar Klewer merupakan icon pasar batik tradisional terbesar di asia tenggara dengan nilai omset harian milyaran rupiah yang juga menjadi tempat bergantung penghidupan orang banyak. Memang musibah ini telah menghentikan segala aktivitas pasar, namun apakah harapan-harapan komunitas pasar Klewer juga berhenti ? 

Pasca musibah pemerintah telah mencoba membangkitkan harapan dan semangat hidup seluruh elemen komunitas pasar Klewer. Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla dan Presiden Indonesia Joko Widodo telah turun langsung meninjau dan memberikan dukungan moral. Bahkan Walikota Solo maupun Gurbernur Jawa menginstruksikan untuk segera membangun pasar darurat. 

Begitu pula Wakil Presiden Yusuf Kalla dalam kunjungannya memberikan pernyataan yang sedikit melegakan (untuk sementara waktu) bahwa tidak akan ada keterlibatan pihak ketiga dalam pembangunan maupun percepatan pengerjaan bangunan pasar yang baru dalam kurun waktu 1 tahun ini (29/12/14). Harapan-harapan baru telah dijanjikan untuk memulihkan kehidupan seluruh komunitas pasar Klewer dan kehidupan harus terus berjalan dengan tetap memelihara harapan terwujudnya janji itu. 

Jeda : penantian dan harapan

Saat ini pasar Klewer dalam situasi ‘jeda’. Jeda dalam dimensi ruang maupun waktu. Pasar Klewer sebagai sebuah ruang aktivitas ekonomi dan sosial terhenti untuk sementara waktu. Dalam situasi jeda tersebut ada hal yang menarik bagi saya untuk diperbincangkan, bahwa dalam situasi jeda terkandung penantian dan harapan. Pasar Klewer menanti untuk melanjutkan kembali kehidupan dan berharap pulih seperti sediakala. 

Dalam hal ini saya ingin merujuk pada diskusi antara dua ahli amerika latin yang saya ikuti, yaitu Fraya Frehse (profesor sosiologi perkotaan universitas São Paulo Brazil) dan Laurent Vidal (profesor sejarah kontemporer universitas La Rochelle Perancis) yang diselenggarakan pada 9 – 11 desember 2014 di Universitas La Rochelle Perancis tentang implementasi konsep ‘jeda’ untuk membahas sebuah fenomena perkotaan, misalnya dalam kasus relokasi perkampungan kumuh di kota kecil sebelah utara Rio de Janerio Brazil. 

Penduduk harus meninggalkan tempat tinggalnya dan berpindah dalam penampungan sementara untuk menunggu panggilan mendapat giliran menempati perumahan yang baru. Situasi ini merupakan salah satu kasus apa yang mereka sebut sebagai sebuah penantian ‘struktural’.  Disebut ‘struktural’ karena tercipta atas implikasi dari sebuah kebijakan pemerintah.

Menurut saya konsep penantian struktural diatas sesuai untuk menggambarkan keadaan yang dihadapi komunitas pasar Klewer paska kebakaran. Janji-janji pemerintah yang telah disampaikan kepada komunitas pasar Klewer menimbulkan penantian yang penuh harapan bagi semua pihak, terlebih lagi jika janji-janji tersebut akan diwujudkan menjadi sebuah kebijakan. Misalkan janji untuk segera membangun pasar darurat yang hingga saat ini belum juga terealisasi menjadi penantian dan harapan semua pihak. 

Sementara implikasi sebuah kebijakan akan membutuhkan waktu. Selama rentang waktu menunggu implikasi kebijakan tersebut bagaimana kita bisa terus percaya terhadap harapan-harapan? Bagaimana implikasi kebijakan tersebut dapat menjadi harapan bagi semua pihak? Harapan harus terus dirawat untuk mengawal realisasi semua janji.

Merawat harapan

Di pasar Klewer terdapat beberapa himpunan yang mengatasnamakan perwakilan komunitas pasar klewer, salah satu yang paling tua adalah Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK). HPPK selama ini adalah sebagai penggerak utama sekaligus penyuara aspirasi dari kalangan para pedagang, baik juragan maupun sekedar pekerja. HPPK selalu berusaha memperjuangkan kepentingan seluruh elemen komunitas pasar Klewer, dari juragan, pekerja, buruh gendong, pedagang kaki lima sampai pengemudi becak di lingkungan pasar Klewer.

Kekuatan utama HPPK adalah ibu-ibu pedagang. Bahkan bagi saya ibu-ibu pedagang ini bukan hanya sebagai simbol namun sebagai sebuah kekuatan sosial nyata dan istimewa di pasar Klewer. Saya masih ingat betul kontak awal saya dengan para pedagang, khususnya dengan ibu-ibu pedagang pada tahun 2004, ketika itu saya menjadi salah satu pendamping bersama Laboratorium Krisis Perkotaan dan Pengembangan Komunitas  (Lab.UCYD) Jurusan Sosiologi FISIP UNS. 

Bagaimana tidak istimewa? dari pagi hingga sore mereka disibukkan dengan segala urusan jual-beli di pasar, dan malam harinya dengan penuh semangat mereka berkumpul dan berdiskusi membahas strategi mempertahankan pasar Klewer dari usulan pembangunan pasar Klewer baru. Aktivitas ini terus berlangsung hingga terakhir saya berkontak langsung dengan mereka pada awal tahun 2013 dalam upayanya berjuang menghadapi tim Studi Kelayaan pembangunan pasar Klewer baru. Kesolidan dan kekompakan mereka terus meningkat.

Kembali pada harapan yang harus dirawat, menanti sambil berharap merupakan sebuah pekerjaan yang tidak mudah. Dibutuhkan sebuah kebersamaan dan kepercayaan yang kuat diantara mereka. Saya melihat kekuatan ibu-ibu pedagang pasar Klewer dapat diandalkan. Mereka adalah sebuah simbol bagaimana kehidupan pasar dan rumah tangga menyatu, artinya mereka lebih sensitif dengan segala sesuatu yang terjadi pada sumber penghidupannya, yaitu berdagang di pasar Klewer. 

Masyarakat juga harus ikut berharap terhadap kembalinya pasar Klewer, karena pasar Klewer bukan hanya milik pedagang ataupun komunitas yang ada di dalamnya. Pasar Klewer milik kita bersama, milik warga Solo, warga Jawa Tengah dan juga milik rakyat Indonesia. 

 

back to top