Menu
Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

Prev Next

Jawa Timur perang melawan bank titil

Jawa Timur perang melawan bank titil
Surabaya – KoPi | Salah satu upaya dalam meningkatkan daya saing Indonesia dalam menghadapi ASEAN Economic Community adalah memberdayakan UMKM. Hal itu bisa dilakukan dengan memberi bantuan permodalan pada UMKM. Namun hingga saat ini usaha mikro dan informal masih kesulitan mendapatkan akses modal dari bank.
 

Akibatnya, pelaku usaha mikro dan informal lebih memilih menggunakan jasa rentenir. Tidak seperti bank, rentenir tidak alias bank titil tidak memerlukan persyaratan formal yang lengkap. Asalkan pelaku usaha bisa mengembalikan uang pinjaman tersebut dengan bunga tertentu.

Jawa Timur sendiri berupaya mengurangi ketergantungan masyarakat pada bank titil. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membuka Bank UMKM untuk pelaku usaha mikro. Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan Bank UMKM Jawa Timur sampai saat ini sudah menembus hingga ke pedesaan. Karwo mengatakan hal itu dilakukan agar bisa langsung menjangkau orang-orang yang membutuhkan. 

“Untuk bisa mengkover seluruh Jawa Timur harus memiliki aset senilai Rp 5,5 triliun. Saat ini kapitasi Bank UMKM Jawa Timur masih 1,9 triliun. Namun meski dengan kapitasi senilai itu, kami menjamin di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di seluruh Jatim sekarang sudah tidak ada orang yang ngempit buku di ketiak (renternir),” ujarnya saat ditemui wartawan usai menjadi pembicara dalam kuliah umum di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (15/4).

Karwo mengakui di pasar-pasar tradisional sampai saat ini masih ada bank titil (sebutan renternir). Besarnya jumlah pasar rakyat menjadi halangan untuk mendirikan Bank UMKM. Karwo menyebutkan butuh waktu lama untuk menghapus bank titil ini. “Harapannya pada 2020 semua pasar rakyat sudah punya Bank UMKM,” kata Karwo.

Kehadiran renternir atau bank titil menandakan tidak sehatnya iklim usaha di Indonesia. Bunga yang tinggi, mencapai 120% membuat pelaku usaha mikro dan informal kesulitan melunasi peminjaman tersebut. Akhirnya mereka terjerat dalam lingkaran hutang yang tidak ada hentinya, dan pada akhirnya tidak dapat mengembangkan usaha mereka.

 

back to top