Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Jatim kekeringan, DPRD minta embung Belanda diaktifkan lagi

Jatim kekeringan, DPRD minta embung Belanda diaktifkan lagi
Surabaya - KoPi | Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Timur menyesalkan turunnya Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur. Karenanya, Komisi B meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Pengairan Provinsi Jawa Timur untuk mengaktifkan kembali embung-embung peninggalan Belanda.
 

Anggota Komisi B DPRD Jatim, Yusuf Rohana meminta Dinas PU Pengairan agar mengaktifkan kembali embung-embung peninggalan Belanda yang dibangun pada masa penjajahan. Di Jatim masih terdapat banyak embung-embung peninggalan Belanda yang semestinya dapat diaktifkan kembali.

Yusuf juga menyatakan juga perlu ada pembangunan waduk-waduk di lokasi yang kekeringannya sangat parah, seperti di Sumenep. Menurutnya setiap musim kemarau, sering terjadi kekeringan di Kepulauan Sapudi . "Embung dan waduk ini dapat menampung air ketika musim hujan, sehingga tidak terjadi banjir. Di Sampang setiap hujan selalu banjir, maka dengan waduk dapat menampung dan dimanfaat ketika kemarau," katanya.  

Menurut Yusuf, NTP Jatim saat ini turun drastis. Padahal selama ini tidak pernah terjadi kondisi semacam ini. Bahkan, Yusuf mengatakan penurunan NTP di Jatim lebih besar dibandingkan dengan Jateng dan Jabar. Hal ini tampak dari turunnya kesejahteraan petani.

"Selama ini angka NTP di Jatim belum pernah di bawah 100 persen. Namun akibat kurangnya respons Pemprov dalam penanganan musim kemarau, NTP kita sekarang turun drastis hingga di bawah 100 persen," tegasnya.

Yusuf menambahkan, drastisnya penurunan NTP tersebut tidak hanya dirasakan para petani saja. Daya beli masyarakat terhadap produk pertanian juga turun karena naiknya harga jual.

Yusuf mengingatkan, dengan kondisi ini, Pemprov tidak bisa menjadikan faktor cuaca sebagai alasan utama. Pemprov Jatim melalui Dinas Pengairan harus mencari solusi yang tepat agar petani tetap dapat mempunyai persediaan air yang cukup ketika musim kemarau. 

"Pemprov tidak bisa menyalahkan alam sebagai dampak turunnya NTP. Jangan dibandingkan dengan provinsi lainnya. Dinas terkait harus cermat dalam mencari solusi. Indonesia ini kan mempunyai dua musim yakni hujan dan kemarau," tuturnya.

back to top