Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Jalan-jalan hemat tapi nikmat

Jalan-jalan hemat tapi nikmat

Awalnya kami mengira untuk mencapai Pulau Dewata membutuhkan biaya besar, namun semua itu terpatahkan oleh perjalanan kami kali ini yang berhasil mengunjungi Pulau Dewata hanya dengan ratusan ribu rupiah saja.

Berawal dari obrolan siang menjelang Ujian Akhir Semester (UAS), aku dan Tika berencana berlibur pada liburan semester mendatang. Setelah cukup penat dengan rutinitas dan tugas kuliah yang menumpuk, kami memutuskan untuk berlibur ke luar kota tentunya dengan budget yang tidak terlalu besar.

Aku pun mengusulkan untuk berlibur ke Bali, awalnya Tika sempat meragukan dan berpikir beberapa hari sebelum akhirnya ia mengiyakan. Setelah Tika setuju dengan tempat liburan yang aku usulkan, akhirnya aku mulai mencari tahu mengenai transportasi murah menuju Bali, dan jawabannya adalah Kereta Api. Selain tarifnya yang murah, kereta api juga lebih nyaman jika dibandingkan dengan bus karena kereta api tidak pernah mengalami kemacetan.

Kereta Api merupakan sarana transportasi yang paling murah untuk mencapai Pulau Dewata. Kami berencana pergi pada tanggal 03 Agustus 2014, sejak 2 bulan sebelum keberangkatan kami sudah memesan tiket kereta api karena takut kehabisan jadi kami membelinya jauh sebelum keberangkatan. Tika memesan tiket kereta api jurusan Jakarta-Malang dan Malang-Banyuwangi melalui situs resmi online PT.KAI di www.tiket.kereta-api.co.id, kami memutuskan untuk memilih kota Malang sebagai tempat transit sebelum sampai ke Bali.   

Menuju Malang

Akhirnya waktu yang dinantikan pun tiba, pada tanggal 3 Agustus 2014 kami berangkat dengan kereta Matarmaja jurusan Jakarta-Malang dengan harga tiket Rp 65.000,00 kereta berangkat dari stasiun pasar senen pukul 13:00 dan tiba di Malang pada tanggal 4 Agustus pukul 05:30. Setelah itu, kami sarapan Nasi Pecel seharga Rp 7.000,00 di warung dekat stasiun. Setelah mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan ke kota Batu, di sana kami menikmati suasana kota Batu yang begitu sejuk dan membuat kami betah disana, tak lupa kami mencoba permainan bianglala yang tarifnya hanya Rp 3.000,00.

Pelabuhan Bayuwangi

Setelah itu, kami kembali ke stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi. Kereta api yang kami gunakan kali ini bernama kereta api Tawang Alun dengan harga tiket Rp 35.000.00. Kereta ini berangkat dari Malang pukul 14:55 dan kami tiba di stasiun Banyuwangi baru pada pukul 23:00. Setelah itu, kami melanjutkan dengan berjalan kaki ke Pelabuhan Ketapang. Jarak dari Stasiun Banyuwangi baru ke Pelabuhan Ketapang hanya sekitar 150 meter saja, sehingga kami menolak secara halus tawaran angkot dan becak yang ingin mengantarkan kami ke pelabuhan.

Tiba di Bali

Tiba di pelabuhan Ketapang, kami membeli tiket dengan tarif pejalan kaki seharga Rp 6.500,00. Kapal laut yang menyeberangi Selat Bali ini menurut informasi selalu datang tiap 30 menit, sehingga kami tidak perlu menunggu lama. Bahkan pada saat itu kami langsung mendapatkan kapal laut yang hendak berangkat. Penyebrangan dengan kapal laut ini hanya memakan waktu 45 menit. Ketika hendak keluar dari pelabuhan Gilimanuk, petugas meminta kami untuk menunjukan tanda pengenal yaitu KTP, rupanya pemeriksaan KTP ini memang selalu dilakukan ketika hendak memasuki wilayah Bali.
   
Ketika kami sedang berjalan menuju terminal, seorang sopir elf menawarkan jasa kepada kami dengan tarif Rp 40,000,00 dari terminal bus Gilimanuk sampai ke terminal Ubung Denpasar. Saat itu waktu menunjukan pukul 01:00 WITA, kami pun menyetujui dan segera naik ke dalam elf bersama beberapa penumpang lainnya. Perjalanan dari Terminal Gilimanuk ke Terminal Ubung Denpasar memakan waktu cukup lama yakni sekitar 3 jam. Tiba di terminal Ubung, kami melanjutkan perjalanan menggunakan angkot berwarna biru ke Pantai Kuta, saat itu kami mendapatkan harga Rp17.500,00
.
Kuta Bali

Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, kami berhasil menginjakan kaki di Pantai Kuta, rasanya seperti mimpi dan masih tidak percaya bisa sampai ke tempat ini. Sebelum bermain di pantai, kami memutuskan untuk sarapan di restoran cepat saji di depan pantai kuta. Setelah itu kami melihat sunrise dan istirahat sejenak di pantai. Kami tak ingin membuang waktu dan melanjutkan ke rencana selanjutnya untuk mengunjungi kawasan Tanjung Benoa yang terkenal dengan wahana airnya.

Tanjung Benoa

Untuk mengunjungi tempat wisata di Bali kami memutuskan menyewa sepeda motor seharga Rp 50.000,00/hari dan kami menyewa untuk 2 hari. Tempat yang pertama kami kunjugi adalah Tanjung Benoa, kami mencoba Flying Fish dengan harga Rp 130.000,--/orang untuk 2x putaran. Tiket wahana air ini sudah kami pesan beberapa hari yang lalu melalui situs online www.hematkebali.com karena untuk harga tiket on the spot tentunya lebih mahal yakni Rp.250.000,00/orang. Rencananya kami juga ingin mencoba wahana Parasailing, namun karena cuaca yang kurang mendukung, permainan parasailing pun tidak dapat dioperasikan.

Menginap di Ayu Lili Garden

Setelah itu, kami kembali ke kawasan Legian untuk check in hotel yang beberapa minggu lalu sudah kami pesan melalui situs www.booking.com kami menginap di Ayu Lili Garden Hotel dengan tarif Rp 175.000,00/malam cukup untuk 2 orang. Kami menginap dari tanggal 5 – 7 Agustus. Hotel ini menyediakan fasilitas wifi, kolam renang, mini cafe dan memberikan sarapan gratis. Selain Tanjung benoa, kami juga mengunjungi Pantai Kuta, Pantai Legian, Pantai Jimbaran, dan Sebuah pantai yang kami lupa namanya yang terletak di kawasan Uluwatu. Selama di Bali kami hanya mengandalkan petunjuk jalan dan arahan penduduk setempat.

Balik ke Jawa

Sebelum pulang kami menyempatkan diri membeli oleh-oleh di Joger dan Krisna. Kami harus check out dari hotel pada tanggal 7 Agustus pukul 12:00 WITA. Setelah check out, kami langsung melanjutkan perjalanan. Di bali memang tidak ada angkutan umum, sehingga untuk kembali ke terminal Ubung kami harus menggunakan taksi. Kumpulan taksi yang berada di depan Pantai Legian ini memberlakukan tawar-menawar kepada penumpang, tidak seperti taksi di Jakarta yang menggunakan argo.

Setelah tawar-menawar kami tidak mendapat harga yang cocok, karena harga yang ditawarkan rata-rata berkisar Rp 120.000,00. Setelah hampir putus asa menawar beberapa taksi, ada seorang sopir taksi yang menawari kami tumpangan sampai ke terminal Ubung dengan harga Rp 70.000,00 karena saat itu sopir taksi sekaligus ingin pulang ke rumahnya yang terletak dekat dengan terminal Ubung. Sampai di terminal Ubung, kami langsung naik bus jurusan Gilimanuk. Bus ini memang tidak langsung berangkat karena masih menunggu penumpang hingga bangku setengah terisi. Bus ini baru berangkat pada pukul 14:30 WITA.

Menginap di Mushola

Sampai di Gilimanuk pada pukul 19:00 WITA, kami langsung membeli 2 buah tiket jurusan Ketapang. Kami tiba di Ketapang pukul 19:30 WIB. Lalu kami memutuskan untuk menginap di musolah Pelabuhan Ketapang. Kereta api menuju Jogja baru akan berangkat keesokan harinya yaitu 8 Agustus pukul 07:45 WIB. Beruntungnya kami bertemu dengan penjaga musolah yang dengan tulus menginzinkan kami bermalam di musolah tersebut. Keesokan paginya, sebelum kami berjalan kaki menuju stasiun Banyuwangi, kami menyempatkan diri untuk sarapan di warung nasi sekitar pelabuhan dengan harga yang sangat terjangkau yaitu Rp.10.000,00 yang berisi nasi putih, ayam goreng, bihun, dan telur balado dan tempe.

Kereta Bayuwangi-Jogja
   
Kereta api banyuwangi-jogja berangkat pukul 07:45 dan akan tiba di Jogja pada pukul 18:00 WIB. Setibanya di stasiun Lempuyangan, kami melanjutkan dengan berjalan kaki menuju Stasiun Tugu Yogyakarta untuk makan malam di angkingan pinggir jalan yang terkenal dengan Kopi Jossnya. Berjalan kaki dari stasiun Lempuyangan ke stasiun Tugu memang cukup melelahkan namun semua tidak terasa karena kami melewatinya sambil bersenda gurau. Kami melanjutkan dengan makan malam di angkringan pinggir jalan. Setelah itu kami berjalan menyusuri jalan Malioboro untuk mencari penginapan yang sesuai dengan budget kami.

Kembali ke Jakarta

Kami memutuskan untuk mencari penginapan di Jogja karena kereta menuju Jakarta baru akan berangkat pada keesokan harinya yaitu tanggal 9 Agustus 2014 pukul 14:30. Kami menyusuri gang yang berada di samping Malioboro Mall, peginapan hampir semua penuh. Hingga kami menemukan sebuah penginapan yang masih memiliki 1 kamar kosong, namanya “Penginapan Bu Gondo” dengan tarif Rp 100.000,00/malam cukup untuk berdua. Di dalam kamar ini tersedia televisi dan kipas angin, sedangkan kamar mandi terletak di luar. Penginapan ini menyediakan teh dan kopi gratis di pagi hari. Keesokan harinya, setelah sarapan kami mengunjungi Pasar Beringharjo dengan berjalan kaki untuk membeli oleh-oleh khas Jogja.
           
Setelah itu, kami melanjutkan dengan makan siang di warung nasi padang yang terletak berdekatan dengan penginapan kami. Harga di warung nasi padang ini sama dengan di Jakarta, untuk satu porsi nasi, ayam bakar, telur dadar dan es teh manis dibanderol dengan Rp 20.000,00. Yang membedakan adalah di warung nasi padang ini kita dapat mengambil sendiri sesuai porsi yang diinginkan, berbeda dengan di Jakarta yang dilayani oleh pelayan. Setelah makan siang, kami kembali ke penginapan untuk packing dan bersiap-siap kembali ke stasiun Lempuyangan. Kereta kami berangkat pada pukul 14:30 dan kami tiba di stasiun pasar senen pada pukul 11:00 WIB.


Rincian Biaya perjalanan:

1. Tiket kereta Pasar Senen-Malang       →       65.000
2. Angkot Stasiun Malang-Batu              →       14.000
3. Total biaya makan                           →       210.000
4. Tiket kereta Malang-Banyuwangi         →          35.000
5. Tiket Kapal ferry Ketapang-Gilimanuk PP    →   13.000
6. Elf dari Gilimanuk ke terminal ubung     →        40.000
7. Angkot dari terminal Ubung ke Kuta       →       17.500
8. Hotel di Bali Selama 2 malam                →     175.000
9. Sewa motor selama 2 hari                    →        50.000
10. Bensin selama 2 hari                          →      @10.000
11. Flying fish                                            →  130.000
12. Taksi dari Kuta ke terminal Ubung           → @35.000
13. Bus Ubung-Gilimanuk                              →  35.000
14. Tiket Kereta Banyuwangi-Jogja                →    50.000
15. Penginapan di Jogja                               → 50.000
16. Tiket kereta Jogja-Jakarta                      → 50.000

Sangat murah bukan? Total biaya dari perjalan 3 kota ini adalah Rp.979.500,00. Biaya perjalanan ini masih dapat dihemat agar lebih murah, misalnya dengan cara berikut ini:

1. Ajaklah teman dengan jumlah yang lebih banyak, karena jumlah peserta semakin banyak akan semakin memudahkan anda untuk berbagi biaya menjadi lebih murah.

2. Cari hotel di kawasan Poppies lane I atau II, Karena di kawasan ini hotel dibanderol mulai dari Rp 90.000,00/hari, namun biasanya hanya dapat dibooking di tempat.

3. Cari tempat makan yang murah namun higienis.

4. Jika bertemu calo di pelabuhan Gilimanuk atau terminal Ubung, tolak lah secara halus dan baik. Karena dengan menggunakan jasa calo kita akan mengeluarkan biaya lebih. Begitu pula ketika mencari penginapan di Jogja, hindari tukang becak yang menawarkan karena berdasarkan pengalaman saya mereka akan mengambil untung hingga 2x lipat. Selamat mencoba!

back to top